Sunday, 21 August 2016

Cara Bertanam Stroberi

 Cara Bertanam Buah Stroberi
Tanaman buah stroberi semakin dikenal dan dimanfaatkan buahnya tidak saja untuk dikonsumsi tetapi lebih dari itu, misalnya dapat dimanfaatkan untuk  kesehatan. Buah stroberi segar dapat dikonsumsi langsung atau dapat diolah melalui diproses-proses di pabrik besar maupun kecil.   Pembudidayaan  tanaman buah ini  di Indonesia khususnya semakin luas meski varietasnya sangat minim karena disesuaikan dengan kondisi alam Indonesia.

A. Jenis Tanah
Tanaman buah stroberi akan tumbuh dengan baik pada tanah dengan drainase yang baik, yakni  tanah lempung berpasir dengan pH 5,4-7,0. Tanaman ini dapat ditanam langsung pada tanah atau memakai bedeng-bedeng dan memakai pot.  Sebelum penanaman dimulai,  kondisi tanah bebas dari gulma terutama gulma tahunan yang mempunyai batang dalam tanah dan umbi.  Tanah harus  digarpu atau diaduk untuk menghindari terjadinya pemadatan tanah pada lapisan di bawah tanah. Karena tanah yang telah menjadi padat akan menyebabkan tanaman tidak berkembang dengan leluasa dan tentu saja perkembangan tumbuh tanaman  pun akan terhambat dan menjadi kerdil karena resapan  dan  sebaran air akan menjadi tergenang pada akar. Akibat lain dari tanah becek, adalah  dapat mempertinggi  terjadinya penyakit  red  core/red stele pada akar yang disebabkan oleh  Phytophthora  fragariae.
Setelah lahan untuk penanaman tanaman buah ini disiapkan, sebaiknya mulai dengan pengerjaan  persiapan tanah beberapa minggu sebelum penanaman. Bila perlu lakukan pengapuran untuk menaikkan pH.  Untuk meningkatkan pH dapat digunakan kapur klasit atau dolomit.  Sesudah pengapuran,  dibiarkan lahan selama 2-3 minggu sebelum penanaman. Pada  kontur tanah yang memiliki pH rendah, umumnya pertumbuhan tanaman akan  terhambat karena kurangnya unsur fosfor, kalsium, dan molibdenum.  Namun, unsur yang berlebihan akan ditemukan pada  mangan, besi,  dan alumunium.
Kelebihan aluminium pada tanah akan menghambat pertumbuhan akar dan translokasi unsur-unsur lain ke dalam tanaman, sehingga perkembangan tanaman semakin lama semakin memburuk. Sedangkan tujuan pemberian kapur untuk meningkatkan efisiensi penyerapan hara dan untuk meniadakan pengaruh racun pada alumunium dan menyediakan unsur kalsium. Pemberian kapur dapat dilakukan dalam skala tertentu. Misalnya untuk menaikkan pH tanah menjadi 6,0 maka kapur yang dibutuhkan (ton/ha) = 2,1 x kandungan Al yang dapat diperuntukan (dalam satuan me/100 g). Kandungan tanah yang memiliki tingkat aluminium tinggi atau rendah dapat dianalisis ke labolatorium. 
Pada  lahan kering diberikan kalsit sekitar 4 ton per hektar, sedangkan  doloit jumlah pemakaiannya mencapai 6-7 ton per hektar. Kemudian tanah diberi pupuk kandang yang disesuaikan dengan jenis pupuknya. Apabila jenis pupuk kandang yang diberikan adalah jenis basah maka pemakaiannya mencapai jumlah 40 ton/ha, sedangkan jenis pupuk kandang kering cukup 20 ton/ha. Setelah pemakaian pupuk kandang basah sebaiknya tanah dibiarkan dalam beberapa minggu.
Jika penanaman dalam pot, tanah yang memiliki pH masam dapat dilakukan pengapuran sekitar 100 gram/pot. Dengan mencampurkannya dengan tanah secara merata sebelum tanah dimasukkan dalam pot.
Lokasi dan iklim pun jadi kendala perkembangan tanaman buah ini. Idealnya  stroberi ditanam diketinggian di atas 1.000 m dpl. Tetapi tanaman buah ini jika ditanam pada daerah dataran tinggi, belum menjamin lokasinya akan cocok untuk  ditanami  karena jenis tanaman  ini  menyukai  udara dingin tapi kering seperti di daerah subtropics. Sementara hampir seluruh dataran tinggi di Indonesia  cenderung basah. Begitu musim hujan tiba maka produksi pun akan menurun tajam dan buah pun akan berukuran kecil dan rasanya tidak manis. Oleh karena itu,  stroberi butuh cahaya cukup agar berbuah lebat dan manis.

Untuk pengadukan tanah agar tidak terjadi pemadatan, lahan seluas itu diolah dengan  memakai traktor. Hal itu dilakukan sebelum sterilisasi berlangsung. Pengadukan atau pembalikan tanah dengan traktor dapat mencapai kedalaman hingga  30 cm. Setelah pengadukan usai maka kapur dan pupuk kandang  ditebarkan di atasnya. Untuk mengetahui tepat tidaknya pemberian methan sodium, biasanya   MNA melakukan kalibrasi. Dengan meneteskan air kesekeliling lahan  yang melintang di bawah traktor dengan drum berisi air berkeliling lahan. Hal  itu menandakan jumlah air yang habis menunjukkan dosis methan sodium yang diperlukan untuk lahan tersebut. Kemudian methan disemprotkan. Untuk luas 1 ha dibutuhkan sekitar 300 hingga 400 liter. Bahan itu  dicairkan dalam 1.600 hingga 1.700 liter air sehingga diperoleh larutan 2.000 liter yang disemprotkan ke seluruh permukaan lahan seperti saat kalibrasi.  Karena  methan sodium diberikan dalam bentuk cair maka  kelembapan tanah harus dipertahankan pada kisaran 60-70 persen. Maksudnya agar larutan berubah menjadi gas. Kemudian, pada tahap berikutnya meningkatkan kelembapan hingga mencapai  80 persen. Peningkatan pelembapan betujuan agar  gas yang terbentuk dari cairan meresap ke dalam tanah. Apabila  kelembapan kurang dari itu, gas  yang terbentuk  menguap ke udara. Oleh sebab itu, perusahaan yang termasuk besar ini menjaga kelembapan tanahnya  dengan mengalirkan air melalui sprinkle yang diatur dengan jarak tertentu.
Penanaman buah stroberi umumnya dapat dipraktekkan pada penanaman langsung atau ditanam di lapang/kebun dan memakai media wadah atau pot yang dikembangkan dalam rumah plastik/greenhouse.

1. Jenis Tanah untuk Penanaman Langsung
Tanaman stroberi dapat langsung ditanam pada tanah lapang. Untuk menghasilkan buah dengan ukuran besar, dengan rasa manis dan segar, serta warna merah menyala haruslah memperhatikan hal-hal berikut.
a.    Tanah liat berpasir tetapi tidak memadat.
b.    Tanah berstuktur subur, gembur, dan banyak mengandung     bahan organic serta berdrainase baik.
c.    Tanah bebas dari gulma atau akar tanaman berumbi
d.    pH  atau reaksi tanah sebaiknya antara 5,4 hingga 7,0 dan bebas dari wabah penyakit soil borne atau tular tanah.
e.    Air tanah haruslah dangkal  dengan kedalaman 50 hingga 100 cm dari permukaan tanah.

2. Jenis Tanah untuk Penanaman Memakai Pot
Tanaman stroberi tidak saja dapat tumbuh di tanah lapang yang luas, tetapi juga dapat tumbuh di tanah sempit atau terbatas dengan media pot. Jenis pot atau wadah yang akan digunakan sangat beragam, misalnya pot atau wadah terbuat dari plastik, tanah liat, keramik, atau kaleng. Tersedia dalam berbagai ukuran, mulai dari ukuran terkecil hingga paling besar. Ukuran pot yang akan digunakan untuk menanam buah stroberi, sebaiknya pilih pot dengan ukuran 7 cm hingga 20 cm diameternya.    Adapun tanah dalam pot yang akan ditanami stroberi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut.
a.     Tanah tidak memadat dan harus mudah meresap air atau mudah poreus.
b.    Tanah bebas dari gulma
c.    Tanah memiliki pH 6,5 hingga 7,0 dan bebas penyakit dari wabah penyakit soil borne atau tular tanah.
d.    Keadaan tanah subur dan gembur serta dapat menyimpan air berlebihan.


B. Sistem Penanaman yang Baik
Di Indonesia tanaman stroberi dapat ditanam sepanjang tahun. Sedangkan mulai penanaman yang tepat adalah pada awal musim hujan. Kita dapat menanamnya di tanah lapang atau memakai pot. Dan penanaman dapat dilakukan dengan teknik penanaman bibit pada bedengan atau guludan tanpa mulsa, prinsipnya sama dengan system bedengan atau guludan bermulsa plastik. Perbedaan hanya terletak pada teknik pemupukan. Pemupukan pada bedengan atau guludan tanpa mulsa platik dilakukan secara bertahap. Jenis dan dosis pupuk yang diberikan per satuan luas lahan terdiri atas: Urea 200 kg ditambah TSP 250 kg ditambah KCl 150 kg/ha. Diberikan pada saat tanam pupuk dengan takaran sebanyak sepertiga dosis. Pada waktu tanaman telah berumur 1 ½  hingga 2 bulan setelah tanam, pupuk diberikan sebanyak duapertiga dosis. Cara pemberian pupuk dasarnya dengan disebar dan dicampur merata bersama lapisan tanah atas atau dapat pula dimasukkan ke lubang pupuk pada bibit tanaman stroberi.

1. Jenis penanaman berdasarkan medianya
a. Penanaman di lapang terbuka atau tertutup
Tata cara penanaman bibit stroberi pada tanah lapang, adalah sebagai berikut.
1)     polybag atau kantong plastik bening/ hitam  berisi tanah  yang sudah ditanami bibit buah stroberi disiram dengan air bersih hingga tanah agak basah.
2)    buatlah lubang dipermukaan tanah bedengan atau guludan yang akan ditanami stroberi. Membuat lubang kira-kira 15 cm dengan memakai kored. Sebaiknya jarak antarlubang tidak terlalu dekat, kira-kira 40x40 cm.
3)     sobek atau gunting polybag dan keluarkan bibit tanaman stroberi  dari polybag. Lepaskan polybag dan biarkan utuh bibit dan tanahnya. Kemudian masukkan dalam  lubang tanah.
4)    satu per satu bibit tanaman stroberi ditanam pada lubang tersebut. Lakukan dengan tertib dan jangan tergesa-gesa.
5)     tanah sekitar pangkal batang bibit tanaman disiram dengan air bersih, sehingga tanah lembap atau agak basah.

b. Penanaman di pot
Tahapan-tahapan penanaman buah stroberi dengan memakai media pot sebagai wadah, adalah sebagai berikut.
1)     siapkan bahan-bahan penunjang yang akan digunakan, meliputi tanah, wadah/pot, pecahan genting atau bata merah, gembor, tutup plastik.
2)     dasar pot diberi lapisan pecahan genting atau batu bata, kemudian isi tanah hingga pot penuh.
3)     tanah dalam pot disiram dengan air bersih hingga tanah agak basah atau lembap.
4)     lubangi permukaan tanah di tengah-tengah pada pot, kemudian masukkan tanaman dari polybag dengan menggunting plastik. Usahakan akar tanaman tidak rusak dan tanam ditengah pot dengan keadaan berdiri. Tutup sekeliling tanaman yang sudah dimasukkan ke tanah dengan tanah dan tekan-tekan perlahan agar permukaan tanah padat.
5)    beri air atau siram tanah pada pot hingga tanah menjadi lembap, kemudian pot-pot itu disimpan di tempat teduh, setelah 7 hingga 15  tanaman akan tampak segar karena tanaman sudah dapat beradaptasi dengan lingkungan.
6)     penanaman tanaman pada pot sangat bergantung pada lingkungan tumbuh, misalnya tempatkan pot di atas rak-rak atau pot digantung, atau dapat pula dengan diletakkan di tanah. Pot-pot tanaman itu harus mendapatkan sinar matahari pagi dengan jarak antar pot tidak terlalu dekat.

2. Pemberian Jarak Tanam
Apabila menanam stroberi di tanah lapang, sebaiknya tanah diatur tidak terlalu berdekatan atau buatlah jarak. Jarak antara bedengan atau guludan tanah dengan jalan tidak berdekatan. Tujuan pembuatan jarak ini untuk menghindari injakan daerah penanaman stroberi, ketika dalam perawatan. Adapun pemberian atau pembuatan jarak itu dapat dilakukan dengan berbagai system, yakni:
a.    Sistem guludan atau bedengan (hill system) dengan satu baris, dua baris, atau empat baris tanaman di dalam satu guludan.
b.    Sistem permadani.
c.    Sistem permadani berjarak.
d.    Sistem kolom vertikal.

Jika tanah lapang yang tersedia cukup luas, maka pilihan system penanaman lebih leluasa. Lain halnya dengan lahan yang tersedia kecil atau sempit, sebaiknya system yang digunakan adalah bedengan atau guludan tunggal atau system baris tunggal. Pembuatan bedengan tunggal ini  bertujuan agar aerasi akar lebih baik sehingga perkembangan akar lebih sempurna serta  kemungkinan tanaman terserang penyakit menjadi lebih rendah.
Bibit tanaman yang ditanam pada tanah lapang dalam setiap hektarnya, diperkirakan berjumlah 85.000 hingga 110.000 tanaman. Untuk mendapatkan buah yang besar, sebaiknya setiap 7 hingga 10 hari sekali stolon yang terbentuk dibuang, sehingga rumpun stroberi hanya berupa mahkotanya saja. Langkah ini bertujuan agar energi yang diperoleh tanaman dapat terpusat pada pertumbuhan dan perkembangan mahkota utama saja, sehingga dapat dihasilkan buah yang besar dan menarik. Di samping itu, populasi tanaman pada setiap luasan  tertentu lebih tinggi karena jarak tanam antarbaris maupun dalam baris dapat diperkecil.
    Tujuan dari pemberian jarak dalam penanam stroberi tidak saja menghindari tanah sekitar tanaman aman, tetapi juga memudahkan dalam penyiraman. 



Penanaman dengan sistem permadani adalah membiarkan stolon tumbuh bebas, sehingga akar menjalar dengan jarak lebih luas. Semakin tanaman tumbuh membesar jarak antar tanaman pun akan semakin sempit. Pada  sistem penanaman permadani terbatas (spaced matted row), penanaman dibatasi dengan jumlah 5 hingga 6 stolon. Penanaman terbatas ini bertujuan agar tanaman induk berkembang membentuk stolon. Jarak tanam antarbaris yakni 60 cm, sedangkan jarak antar tanaman pada setiap  baris, yakni 15-20 cm.
Begitu pula penanaman pada pot harus diberi jarak tumbuh antara pot yang satu dengan pot lainnya.
2. Pemberian Air
Pemberian air pada tanaman stroberi dimulai sebelum penanaman dengan tujuan agar tanah yang siap ditanam tetap dalam keadaan lembap. Begitu penanaman selesai maka pemberian air pun dilakukan kembali. Pemberian air harus dilakukan teratur dan terus menerus, terutama pada musim panas/ kemarau. Karena  bila keadaan tanah kering akan mempengaruhi hasil produksi. Tanaman tidak akan tumbuh dengan baik maka buah yang dihasilkan pun tidak seperti yang kita harapkan.
Tanaman yang tumbuh dengan kontur tanah lembap ini, tidak berarti pemberian air dapat dilakukan sembarangan atau seenaknya. Pemberian  air jangan terlalu banyak bergantung pada kebutuhan kontur tanah yang dapat dilihat pada struktur tanah, kelembapan udara dan temperatur udara setempat. Lain halnya jika tanah atau lahan yang ditanami berkontur baik atau berdrainase baik maka komposisi air yang diperlukan adalah 20 hingga 25 liter untuk setiap meter persegi.
Pada tanaman stroberi dalam pot pun, kelembapan tanah harus tetap diperhatikan. Jangan sampai tanah mongering. Oleh karena itu, harus dilakukan penyiraman terus menerus, terutama pada musim kemarau. Sebaiknya penyiraman dilakukan 2 kali sehari, yakni penyiraman di padi hari dan sore hari.

a.Sistem Pemberian Air
Pemberian  air atau penyiraman dapat dilakukan dengan bermacam cara. Hal itu bergantung pada luas lahan yang ditanami.

1) Memakai springkler
  Umumnya untuk penanaman berjumlah  besar atau lahan yang ditanami luas, penyiraman dilakukan  melalui instalasi sprikler atau melalui alur-alur antarguludan. Bisanya sprinkler dipasang dengan posisi segi tiga, sehingga air yang menyebar akan rata. Pipa induk dapat ditanam atau dibiarkan dipermukaan tanah.                                                                                           

2) Memakai irigasi tetes
Cara pemberian air pada tanaman stroberi yang ditanam di daerah yang sulit air atau sedikit air,  sangat cocok menggunakan system irigasi tetes.  Pemakaian system ini dapat menekan komposisi air karena disiramkan pada setiap tanaman langsung. Air yang diperlukan berjumlah 5 hingga 6 liter per m2 dan system penyiramannya dengan meneteskan langsung di daerah akar. 

3) Memakai system penggenangan alur
Pemberian air dengan system ini berakibat air pada permukaan tanah akan tergenang sehingga permukaan tanah akan becek. Karena  pada dasar tanah guludan ditanam pipa air dan melalui gerakan kapiler menuju ke atas permukaan tanah, sehingga lama ke lamaan air  menggenang dipermukaan   tanah. Meski komposisi ditentukan oleh lama penggenangan, jenis tanah, dan tinggi guludan. Dan penggenangan dapat dihentikan apabila permukaan tanah, yakni sekitar  3-5 cm di bawah permukaan guludan telah menjadi basah. 

b. Masa Pemberian Air
Kuantitas pemberian air pada tanamn stroberi pun tak luput dari pengawasan yang harus diperhatikan. Dengan memperhatikan penyiraman secara terus menerus maka pertumbuhan tanaman pun akan tumbuh dengan subur dan buah yang dihasilkan akan berukuran besar, berwarna merah, dan berasa manis. 
Pemberian air dimulai ketika tanah sebagai media tanaman ini belum ditanami, kemudian secara berkala penyiraman dilakukan pada 2 atau 3 hari sekali setiap pagi atau sore dengan jumlah cukup secara terus menerus. Penyiraman harus lebih diperhatikan terutama jika musim panas. Air diberikan dengan jumlah sedikit, pada masa awal pembungaan dan awal pembentukan buah. Apabila dalam masa-masa ini pemberian air terlalu banyak maka pertumbuhan vegetatif akan lebih banyak dan akhirnya buahpun menjadi gagal atau buah banyak yang tidak jadi. Pemberian air akan semakin berkurang seiring dengan semakin tumbuhnya tanaman atau menjelang stadium dewasa. Yang terpenting adalah tanah jangan sampai kering, tetapi juga tanah tidak becek. Sebaiknya, penyiraman dilakukan dengan cara siram atau dileb. Apabila tanah sudah basah maka seluruh guludan harus diperiksa. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya genangan air di permukaan tanah yang akan mempengaruhi pembuahan. 

3. Pemberian Mulsa
Penggunaan mulsa berupa jerami atau plastik polietilen, bertujuan  untuk menjaga atau mempertahankan kelembapan tanah. Manfaat lain dari pemakaian mulsa, antara lain: menjaga temperatur tanah, menjaga agar tetap bersih, mencegah tumbuhnya gulma, dan dapat digunakan sebagai tempat untuk menyimpan  lontainer pada waktu panen.

a. Pemakaian Jerami
Pada saat penanaman sudah selesai dilakukan, maka  jerami pun  mulai diselipkan pada sekeliling tanaman dan di bawah tangkai tanaman stroberi. Jerami yang diperlukan dalam setiap satu hektar lahan, adalah 8 hingga 10 ton. Pemakaian mulsa dengan jerami, biasanya dilakukan untuk penanaman stroberi dalam jumlah kurang dari   satu hektar. Sedangkan pemakaian jerami untuk lahan dengan jumlah berhektar-hektar, tentu saja kesulitan. Jadi pemulsaan untuk lahan yang memiliki luas lebih dari satu hektar biasanya memakai plastik.

b. Pemakaian Plastik 
Plastik yang digunakan untuk menutupi lahan atau dalam proses pemulsaan,  dapat memakai plastik polietilen berwarna hitam, biru, abu-abu atau bening.  Pada penggunaan plastik berwarna  hitam, gulma dapat dihindarkan secara efektif.  Sedangkan pada pemakaian plastik bening, sebelum lahan ditutup sebaiknya  tanaman diberi herbisida terlebih dahulu. Dan pemasangan plastik dapat dilakukan sebelum atau sesudah penanaman.
Adapun tahapan-tahapan pemasangan plastik yang  dilakukan  sebelum penanaman dimulai,   adalah sebagai berikut.
1) Lahan yang sudah siap ditutup plastik dengan membentangkannya. Penutupan dengan plastik ini harus tertutup rapat dengan setiap sisi plastik diberi pemberat berupa batu atau dikuatkan dengan memakai pasak bambu agar plastik tidak terbuka.
2)     Lubangi plastik untuk menanam stroberi dengan  jarak tanam, yakni 30 cm, 40 cm, atau 50 cm.  Pembuatan lubang pada plastik dapat dilakukan dengan  api  (blow torch),  pisau atau gunting.
3)    Setelah pembuatan lubang pada plastik selesai, masukkan  atau tanam bibit pada lubang yang sudah disiapkan.
4)    Tanah di sekitar plastik diberi herbisida untuk mencegah gulma.

4. Pembersihan Lahan
Penyiangan atau pembersihan gulma atau rumput-rumput  liar yang tumbuh di sekitar lahan penanaman stroberi  harus dilakukan. Jika gulma-gulma ini dibiarkan tumbuh di sekitar tanaman maka akan mengganggu pertumbuhan tanaman karena gulma-gulma ini akan bersaing dengan tanaman stroberi  untuk mendapatkan air, unsur hara , dan sinar matahari.   Di samping itu, penyiangan  dilakukan agar lahan tampak bersih dan menghindari terjadinya sarang hama atau penyakit. Sedangkan penyiangan pada guludan atau bedengan bermulsa plastik  dilakukan dengan cara mencabut gulma yang tumbuh di sekitar rumpun tanaman stroberi dan membersihkan rumput dalam parit.
Pembersihan lahan pada tanaman pot dapat dilakukan dengan mencabuti rumput liar atau gulma yang tumbuh disekitar tanaman dan secara teeratur dicabuti, sekaligus penggeburan tanah.

5. Pemberian Pupuk
Pemberian pupuk pertamakali diberikan  sebelum penanaman dilakukan. Pupuk yang ditaburkan pada lahan yang akan ditanami stroberi, yakni  campuran pupuk (majemuk) dengan perbandingan 12:10:18  (N:P:K) sebanyak 300-400 kg/ha. Selain unsur makro NK juga perlu diberikan mangan dan besi dalam bentuk sulfat sebanyak 1 hingga 2 kg/ha.  Atau dalam dosis 2/3 x (200 kg Urea  ditambah 250 kg TSP ditambah 150 kg KCl) = 133,33 kg Urea ditambah 166,67 kg TSP ditambah 99,00 kg (100 kg) KCl.
Pemberian unsur ini bertujuan  untuk mencegah defisiensi unsur mikro. Sedangkan pemberian pupuk pada system penyiraman melalui sprinkler dan pengairan alur, diperlukan 50 persen untuk disebarkan, sebagian lagi ditanam sebelum penanaman dilakukan dan sebulan kemudian sisanya ditaburkan. Dan sebaran pupuk untuk  sistem penyiraman air irigasi tetes, pupuk yang diberikan sebelum penanaman sebanyak 50% dan sisanya diberikan pada bulan berikutnya.
Pupuk yang bersumber N dan K yang digunakan adalah amonium nitrat, amonium sulfat, kalium nitrat, kalium sulfat, atau kalium klorida. Dengan memberikan unsur N dan  K sebanyak 2,5-3,0 kg/minggu. Dengan perhitungan: amonium nitrat 33,5%  N, kalium klorida 60%  K2O.
Pemberian pupuk pada tanaman dalam pot, dimulai seminggu setelah tanam dan pemupukan berikutnya dilakukan pada saat tanaman berumur 1 atau 2 bulan setelah tanam. Setelah pemupukan selesai, kemudian siram dengan menggunakan air bersih agar pupuk dapat diserap larut dan diisap tanaman.

Tabel:  Pemupukan dalam pot

Takaran dan jenis unsur             Masa pemberian unsur

Urea 2 sdt TSP ½ sdt KCl ½ sdt/pot      seminggu setelah tanam
Urea ½ sdt TSP 1 sdt   KCl 1 sdt/pot  1-2 bulan setelah tanam

Sumber: diadaptasi dari Ir. H. Rahmat Rukmana

Jika pemupukan yang diberikan tidak seimbang  atau tidak melakukan pemupukan maka tanaman akan kekurangan suatu hara esensial yang akan ditandai dengan munculnya tanda-tanda pada daun atau seluruh tanaman. 

6. Pemangkasan pada tanaman
Pemangkasan dilakukan jika tanaman tumbuh sangat  rimbun dengan banyak daun dan sulur,  sehingga akan menghambat  pembungaan atau pembuahan. Sebaiknya daun-daun yang terlalu rimbun dan bersulur dipangkas secara teratur, terutama daun-daun tua atau daun rusak yang disebabkan oleh hama dan penyakit. Biasanya pemangkasan dilakukan pada bunga pertama agar tanaman menjadi lebih dewasa untuk melangkah ke fase generatif dan memiliki batang yang kokoh. Sedangkan pemangkasan pada buah yang masih pentil dengan  tumbuh berlebihan, bertujuan agar dapat memperoleh buah berukuran besar dan berkualitas prima. Sebaiknya setiap tangkai disisakan satu butir buah yang terbaik.

Begitu pula pemangkasan pada tanaman dalam pot, tidak jauh berbeda dengan di lapangan. Daun yang terlalu rindang dibuang karena akan menghambat pertumbuhan buah, sehingga tanaman akan menghasilkan buah kecil. Pada  stadium pentil sebaiknya lakukan pemangkasan dan lakukan secara rutin. 


C. Pemanenan
Bila pembibitan buah stroberi menggunakan bibit asal stolon yang vigor dengan peranakan banyak, maka buah dapat dipanen setelah 8 minggu penanaman. Dan masa panen akan berlangsung selama 3 hingga 4 minggu, setiap minggu dapat dilakukan 2 kali pemanenan.  Sebaiknya pemanenan dilakukan pada pagi hari atau sore hari, ketika intensitas sinar matahari berkurang. Buah stroberi dengan tingkat kematangan 75 hingga 90 persen bergantung daerah tujuan pemasaran –ditunai. Caranya, memotong tangkai dengan kuku ibu jari dan telunjuk atau menggunakan gunting pada bagian tangkai buah serta kelopaknya.  Buah stroberi yang akan dipasarkan langsung untuk konsumsi segar dipetik dengan kaliksnya, sedangkan untuk pengolahan dipetik  tanpa kaliksnya karena buah langsung diolah.

Pada tanaman yang subur dapat dipetik 4 hingga 6 buah dengan berat rata-rata 600 atau 700 gram/buah. Besar atau tidaknya hasil panen dapat ditentukan dari varietas stroberi yang ditanam serta tingkat pemeliharaan tanaman.
Setelah pembungaan dua minggu kemudian buah akan muncul yang semakin hari warna buah akan semakin nyata.  Karakteristik buah yang akan dipanen dapat ditentukan dengan ciri-ciri, yakni buah berwarna merah keseluruhan,  hijau kemerahan atau kuning kemerahan dan kulit buah bertekstur empuk serta menebarkan aroma harum yang khas.

No comments:

Post a Comment