Penyakit
1. Busuk hitam (Xanthomonas campestris Down)
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri yan dapat bertahan hidup pada biji, tanah, tanaman inang dan sisa-sisa tanaman yang sakit. Bakteri yang terbawa benih/biji dapat baertahan selama dua tahun.
Gejala diawali dengan terinfeksinya pori-pori air (hidatoda) pada ujung-ujung tepi daun dan mengakibatkan terjadinya klorosis yang meluas sampai ke tengah daun. Kemudian, timbul busuk hitam bersudut membentuk huruf “V”. Pada tulang daun terlihat garis kehitaman, kemudian meluas ke bagian pelepah daun dan batang yang mengakibatkan daun rontok.
Penyebaran penyakit ini adalah melalui aliran irigasi, percikan air hujan dan pergesekan antara tanaman sehat dengan tanaman sakit.
Pengendalian nonkimiawi yaitu dengan mencabut tanaman yang sakit dan memusnahkannya. Untuk mencegahnya gunakan benih yang sehat/rendam benih dalam merkuri klorida (air panas 50-55oC) selama 20-30 menit, penyeleksian benih yang sehat dari persemaian, pengaturaan rotasi yang baik dan hindari terjadinya penularan. Pengendalian secara kimiawi yaitu dengan menggunakan pestisida yang mengandung bahan aktif Kaptafol, Propineb, Mankozeb, dan Maneb.
2. Busuk Lunak (Erwinia carotovora (jones) Holland atau E. carotovora pv. carotovora (jones) Dye)
Patogen penyebab penyakit ini adalah bakteri yang dapat bertahan dalam tanah dan sisa-sisa tanaman. Patogen masuk ke dalan tanaman melalui luka yang ditularkan melalui alat yang digunakan pekerja tidak higienis.
Gejala serangan ditandai dengan terjadinya bercak busuk basah berwarna coklat kehitam-hitaman pada daun, batang, atau crop. Bercak membesar dengan bentuk yang tidak teratur. Jika lingkungan lembab dan suhu tinggi, tingkat serangan meningkat dan bercaknya menjadi berwarna krem serta agak berbutir-butir putih.
Serangan dapat dikurangi dengan memperbaiki drainase tanah, mencabut dan memusnahkan tanaman yang terserang. Penyakit ini merupakan penyakit “lepas panen”, untuk mencegahnya adalah menghindari kerusakan saat panen serta mencuci hasil panen dengan larutan Borax 7.5 %.
3. Penyakit Bercak daun (Alternaria brassicae (Berk.) Sacc..)
Penyebaran Cendawan ini melalui biji, sisa-sisa tanaman sakit dan percikan air hujan. Serangan meningkat pada kondisi lembab dan basah.
Cendawan menyerang daun dengan tanda bintik-bintik hitam yang membentuk gelang-gelang konsentrik (pusat bercak berwarna hitam dan dikelilingi dengan bercak kuning kecoklatan, makin ke tepi makin terang)
Pencegahan dilakukan dengan perlakuan benih dengan merendam dalam air panas 50oC selama 30 menit sebelim disemaikan. Secara kimiawi dapat diatasi dengan fungisida yang mengandung bahan aktif benomil atau mankozeb.
4. Penyakit rebah semai atau rebah kecambah (damfing off)
Penyebabnya adalah cendawan Phytium debaryonum dan Rhizoctonia solani Kuhn. Cendawan menyerang bibit di persemaian. Bagian yang diserang adalah pangkal batang dan akar sehingga mengakibatkan busuk kering berwarna abu-abu kehitam-hitaman dan mengakibatkan bibit menjadi layu/rebah. Pencegahan dilakukan dengan menggunakan persemaian yang bebas patogen dan melakukan sterilisasi media persemaian.
5. Akar pekuk/akar gada (Plasmodiophora brasicae Wor.)
Penyakit ini disebabkan oleh cendawan yang manjadi parasit akar dan menyebabkan pertumbuhan akar berlebih (hipertrophy) sehingga akar tidak mampu menyerap zat hara. Penyebaran terjadi melalui aliran irigasi, alat-alat pertanian, binatang, dan tanaman inang (Cruciferae). Penyakit ini timbul pada tanah yang pHnya kurang dari 7, suhu tinggi, kelembaban lebih dari 50 %. Cendawan dapat bertahan selama tujuh tahun.
Gejala awal, yaitu dengan terbentuknya puru (galls) di daerah perakaran yang bentuk dan ukurannya tidak beraturan mirip gada. Tanaman di atas permukaan tanah tampak layu pada siang hari dan segar kembali pada malam harinya. Lama-kelamaan, pertumbuhan tanaman menjadi kerdil dan akhirnya akan mati.
Penyakit ini dicegah dengan perendaman benih dalam larutan ekstrak umbi ataupun daun bawang putih 8 % selama dua jam, sterilisasi media dengan dikukus/menggunakan fungisida, pengapuran tanah sebanyak 2-4 ton per hektar 15-30 hari sebelum tanam dan pergiliran tanaman.
pertanian
Wednesday, 19 October 2016
Hama Tanaman Pak Choy
Hama
Jenis hama yang mengganggu pada tanaman Pak Choy adalah sebagai berikut :
1. Plutella Xylostella (P. maculipennis)
Imagonya berupa ngengat kecil berwarna coklat kelabu. Pada sayap depan terdapat tanda “tiga berlian” yang berupa gelombang. Pada ngengat betina warna tiga berlian tersebut terlihat lebih gelap. Siklus hidup hama ini ± 21 hari , ngengat aktif pada senja dan malam hari. Stadium yang paling membahayakan adalah larva (ulat).
Gambar Ngengat
Tanaman inang hama ini adalah tanaman kubis-kubisan. Gejala ditandai dengan terdapatnya lubang-lubang kecil pada daun. Pada tingkat serangan yang cukup berat, daun-daun hanya tinggal tulangnya. Serangan yang berat terjadi pada musim kemarau.
Pengendalian secara kultur teknis yaitu dengan melakukan pergiliran tanam dengan tanaman yang tidak sefamili. Pengendalian secara biologi dilakukan denan melepaskan musuh alami hama ini, yaitu Diadegma eucerophaga, Cotesia plutella kurdj.,dan Diadegma semiclausum. Pengendalian secara kimiawi menggunakan pestisida selektif, seperti Dipel, Thuricide, Bactospeine ULV, Delfin WP, Florbac FC, Centari dan Agrimec 18 EC.
2. Ulat jengkal (Chrysodeixis chalcites Esp. dan C. orichalcea L.)
Hama ini berupa nengat berwarna gelap dan terdapat bintik-bintik keemasan berbentuk “Y” pada sayap depan. Telurnya kecil berwarna keputih-putihan, diletakkan pada daun tanaman inang satu-satu atau berkelompok. Larva berwarna hijau dengan garis-garis putih di sisinya. Siklus hidupnya berlangsung 18-24 hari. Ciri khas ulat jengkal adalah cara jalannya seperti menjengkal, meskipun sebenarnya ulat ini mempunyai tungkai palsu pada abdomen.
Gambar 6 Ulat Jengkal
Hama ini bersifat polibag, selain famili Cruciferae tanaman syuran lainnya juga merupakan tanaman inangnya. Akibat serangan hama ini adalah daun rusak berlubang-lubang, sehingga menurunkan kuantitas dan kualitas sayuran.
Pengendalian non kimiawi dilakukan dengan cara melakukan penanaman yang serempak dan pergiliran tanaman. Secara kimiawi pengendalian dilakukan dengan menyemparotkan insektisida yang bahan aktifnya Profenopos (Curacron 500 EC) atau Deltametrin (Decis 2.5 EC).
3. Ulat tanah (Agritis ipsilon Hufn.)
Imago berwana hitam keabu-abuan dengan sayap berwarna kelabu dengan tanda hitam sampai coklat. Ulat berwarna hitam atau hitam keabu-abuan aktif merusak tanaman pada malam hari dan memiliki sifat kanibal. Siang hari, ulat bersembunyi dekat batang tanaman yang diserang. Daur hidupnya 6-8 minggu.
Tanaman inang utama adalah famili Cruciferae, tomat serta jenis sayuran lainnya. Menyerang hebat di musim kemarau.
Ulat tanah memekan daun dan memotong titik tumbuh (pucuk kecambah atau tanaman muda yang baru muncul di permukaan tanah. Gejala serangan ditandai dengan rebahnya tanaman atau tangkai bibit yang baru ditanam, karena dipotong pada bagian pangkalnya dan tanaman yang terserang menjadi layu.
Pengendalian nonkimiawi dilakukan dengan mengumpulkan ulat-ulat tersebut, kemudian membunuhnya, menjaga kebersihan kebun agar tidak menjadi sarang ulat tersebut, serta menggunakan pupuk kandang yang sudah matang dan bebas hama penyakit. Selain itu pengolahan tanah 1-2 minggu sebelum tanam dapat mencegah berkembangnya hama ini. Secara kimiawi, yaitu dengan menggunakan insektisida yang bahan aktifnya triklorfin (misalnya Dipterex 95 SP), menaburkan Furadan 3G pada media saat pengolahan tanah atau penyemprotan lubang tanam dengan Sherpa 50 EC atau Ambush 2 EC.
Gambar Ulat tanah
4. Ulat Krop
Ulat krop sering menyerang daun hingga daun tinggal tersisa tulang-tulangnya saja. Ulat ini akan menggulung daun dan memakannya. Dari luar, tanaman tampak sehat Namun setelah diperiksa, bagian daun sebelah dalam habis dimakan.
Gambar Ulat Krop
Gambar Ulat Krop
5. Ulat Tritip
Ulat ini memakan daging daun sehingga daun tinggal kulit arinya saja. Hama ini sering disebut hama putih karena daun yang diserang menjadi berwarna putih.
Ulat ini pada saat baru menetas memiliki ciri tubuh berwarna hijau cerah. Kepalanya berwarna hitam. Panjang tubuhnya sekitar 1,2 mm. Ulat yang telah dewasa tubuhnya berwarna hijau atau hijau cerah. kepalanya berwarna lebih pucat dan terdapat bintik coklat. Panjang tubuhnya dapat mencapai 8 hingga 11 mm. Pada tubuhnya terdapat bulu.
Gambar Ulat Tritip
6. Ulat Grayak
Ulat grayak sangat dikenal petani. Hal ini karena ulat ini menyerang hampir semua jenis tanaman sayuran. Ulat grayak yang masih muda memiliki ciri-ciri tubuh berwarna kehijauan. Ulat yang telah dewasa tubuhnya berwarna kecoklatan atau abu-abu gelap, berbintik-bintik hitam, dan pada bagian punggung bergaris memanjang berwarna keputihan.
Gambar Ulat Grayak
7. Siput
Siput adalah hama pemakan daun. Hewan ini bertubuh lunak. Siput banyak jenisnya tetapi yang banyak menyerang tanaman sayuran adalah siput yang bercangkang atau dikenal dengan bekicot.
Siput biasanya menyerang tanaman yang masih muda. Hewan ini memakan daun, sehingga daun berlubang tidak merata. Siput menyerang tanaman pada malam hari.
Gambar Siput
Jenis hama yang mengganggu pada tanaman Pak Choy adalah sebagai berikut :
1. Plutella Xylostella (P. maculipennis)
Imagonya berupa ngengat kecil berwarna coklat kelabu. Pada sayap depan terdapat tanda “tiga berlian” yang berupa gelombang. Pada ngengat betina warna tiga berlian tersebut terlihat lebih gelap. Siklus hidup hama ini ± 21 hari , ngengat aktif pada senja dan malam hari. Stadium yang paling membahayakan adalah larva (ulat).
Gambar Ngengat
Tanaman inang hama ini adalah tanaman kubis-kubisan. Gejala ditandai dengan terdapatnya lubang-lubang kecil pada daun. Pada tingkat serangan yang cukup berat, daun-daun hanya tinggal tulangnya. Serangan yang berat terjadi pada musim kemarau.
Pengendalian secara kultur teknis yaitu dengan melakukan pergiliran tanam dengan tanaman yang tidak sefamili. Pengendalian secara biologi dilakukan denan melepaskan musuh alami hama ini, yaitu Diadegma eucerophaga, Cotesia plutella kurdj.,dan Diadegma semiclausum. Pengendalian secara kimiawi menggunakan pestisida selektif, seperti Dipel, Thuricide, Bactospeine ULV, Delfin WP, Florbac FC, Centari dan Agrimec 18 EC.
2. Ulat jengkal (Chrysodeixis chalcites Esp. dan C. orichalcea L.)
Hama ini berupa nengat berwarna gelap dan terdapat bintik-bintik keemasan berbentuk “Y” pada sayap depan. Telurnya kecil berwarna keputih-putihan, diletakkan pada daun tanaman inang satu-satu atau berkelompok. Larva berwarna hijau dengan garis-garis putih di sisinya. Siklus hidupnya berlangsung 18-24 hari. Ciri khas ulat jengkal adalah cara jalannya seperti menjengkal, meskipun sebenarnya ulat ini mempunyai tungkai palsu pada abdomen.
Gambar 6 Ulat Jengkal
Hama ini bersifat polibag, selain famili Cruciferae tanaman syuran lainnya juga merupakan tanaman inangnya. Akibat serangan hama ini adalah daun rusak berlubang-lubang, sehingga menurunkan kuantitas dan kualitas sayuran.
Pengendalian non kimiawi dilakukan dengan cara melakukan penanaman yang serempak dan pergiliran tanaman. Secara kimiawi pengendalian dilakukan dengan menyemparotkan insektisida yang bahan aktifnya Profenopos (Curacron 500 EC) atau Deltametrin (Decis 2.5 EC).
3. Ulat tanah (Agritis ipsilon Hufn.)
Imago berwana hitam keabu-abuan dengan sayap berwarna kelabu dengan tanda hitam sampai coklat. Ulat berwarna hitam atau hitam keabu-abuan aktif merusak tanaman pada malam hari dan memiliki sifat kanibal. Siang hari, ulat bersembunyi dekat batang tanaman yang diserang. Daur hidupnya 6-8 minggu.
Tanaman inang utama adalah famili Cruciferae, tomat serta jenis sayuran lainnya. Menyerang hebat di musim kemarau.
Ulat tanah memekan daun dan memotong titik tumbuh (pucuk kecambah atau tanaman muda yang baru muncul di permukaan tanah. Gejala serangan ditandai dengan rebahnya tanaman atau tangkai bibit yang baru ditanam, karena dipotong pada bagian pangkalnya dan tanaman yang terserang menjadi layu.
Pengendalian nonkimiawi dilakukan dengan mengumpulkan ulat-ulat tersebut, kemudian membunuhnya, menjaga kebersihan kebun agar tidak menjadi sarang ulat tersebut, serta menggunakan pupuk kandang yang sudah matang dan bebas hama penyakit. Selain itu pengolahan tanah 1-2 minggu sebelum tanam dapat mencegah berkembangnya hama ini. Secara kimiawi, yaitu dengan menggunakan insektisida yang bahan aktifnya triklorfin (misalnya Dipterex 95 SP), menaburkan Furadan 3G pada media saat pengolahan tanah atau penyemprotan lubang tanam dengan Sherpa 50 EC atau Ambush 2 EC.
Gambar Ulat tanah
4. Ulat Krop
Ulat krop sering menyerang daun hingga daun tinggal tersisa tulang-tulangnya saja. Ulat ini akan menggulung daun dan memakannya. Dari luar, tanaman tampak sehat Namun setelah diperiksa, bagian daun sebelah dalam habis dimakan.
Gambar Ulat Krop
Gambar Ulat Krop
5. Ulat Tritip
Ulat ini memakan daging daun sehingga daun tinggal kulit arinya saja. Hama ini sering disebut hama putih karena daun yang diserang menjadi berwarna putih.
Ulat ini pada saat baru menetas memiliki ciri tubuh berwarna hijau cerah. Kepalanya berwarna hitam. Panjang tubuhnya sekitar 1,2 mm. Ulat yang telah dewasa tubuhnya berwarna hijau atau hijau cerah. kepalanya berwarna lebih pucat dan terdapat bintik coklat. Panjang tubuhnya dapat mencapai 8 hingga 11 mm. Pada tubuhnya terdapat bulu.
Gambar Ulat Tritip
6. Ulat Grayak
Ulat grayak sangat dikenal petani. Hal ini karena ulat ini menyerang hampir semua jenis tanaman sayuran. Ulat grayak yang masih muda memiliki ciri-ciri tubuh berwarna kehijauan. Ulat yang telah dewasa tubuhnya berwarna kecoklatan atau abu-abu gelap, berbintik-bintik hitam, dan pada bagian punggung bergaris memanjang berwarna keputihan.
Gambar Ulat Grayak
7. Siput
Siput adalah hama pemakan daun. Hewan ini bertubuh lunak. Siput banyak jenisnya tetapi yang banyak menyerang tanaman sayuran adalah siput yang bercangkang atau dikenal dengan bekicot.
Siput biasanya menyerang tanaman yang masih muda. Hewan ini memakan daun, sehingga daun berlubang tidak merata. Siput menyerang tanaman pada malam hari.
Gambar Siput
Bertanam Pak Choy di Dalam Pot
Budidaya Dalam Pot
Pada luasan lahan yang terbatas (sempit) Pak Choy dapat dibudidayakan dalam pot. Pak Choy mempunyai sistem perakaran yang menyebar ke semua arah dengan kedalaman antara 30 sampai 50 cm. Dengan kondisi perakaran seperti itu, pot yang akan digunakan memiliki tinggi minimal 30 cm agar pertumbuhan akan dapat berlangsung secara normal. Namun, menurut pengalaman yang telah dipraktikan oleh trubus tinggi pot yang dapat digunakan minimal 10 cm.
Jenis pot yang digunakan dapat berupa pot tunggal atau atau pot horizontal. Selain pot-pot yang dijual dipasaran, barang bekas, seperti kaleng cat yang besar juga dapat dimanfaatkan sebagai pot.
Gambar Pot dari kaleng minimal ketinggian 10 cm
Tahapan kegiatan budidaya meliputi pembuatan persemaian, persiapan media tanam, penanaman serta pemeliharaan tanaman. Persemaian dibuat dalam bak plastik kecil yang datar. Media yang digunakan untuk persemaian merupakan campuran tanah kebun yang telah diayak dengan pupuk kandang atau pasir yang dicampur pupuk kandang dengan perbandingan 2:1. Alternatif media selain campuran tersebut adalah campuran pasir, tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 2:1:2. Sebelum disebar benih direndam air hangat selama satu jam untuk mencegah kemungkinan terdapatnya bibit penyakit pada biji. Selain itu bisa juga direndam dengan zat pengatur tumbuh agar benih lebih cepat berkecambah.
Media yang digunakan sebagai media tanam untuk budidaya dalam pot adalah campuran abu sekam dan pupuk kandang, abu sampah dengan pupuk kandang, pasir dan pupuk kandang, gambut dan pupuk kandang, humus sampah rumah tangga dengan tanah atau pasir, dengan perbandingan 1:1 atau 2:1. Alternatif lain campuran tanah dengan pupu kandang dengan perbandingan 3:1. Untuk menambah kuliatas media dapat ditambahkan pupuk NPK sebanyak satu sendok makan untuk polibag berukuran 3 x 35 cm.
Penanaman dilakukan segera setelah tanaman berumur 10-15 hari setelah semai. Sebelum penanaman media yang disiapkan sebaiknya disiram terlebih dahulu.
Pemeliharaan mulai dilakukan sejak tanaman mulai dipindah ke dalam pot. Kegiatan ini hampir sama dengan pemeliharaan pada budidaya di kebun. Untuk pemupukan diberikan dengan frekuensi yang lebih rutin. Hal ini dikarenakan tanaman Pak Choy berumur singkat dengan pertumbuhan yang cepat, sehingga membutuhkan suplai makanan yang banyak untuk mengimbangi pertumbuhannya.
Pupuk susulan pertama diberikan saat tanaman berumur 10-14 hari setelah tanam. Pemberian ini diulang setiap 7-10 hari. Pemupukan dapat dilakukan bersamaan dengan penyiraman yaitu dengan cara mencampurkan pupuk dengan air untuk menyiram. Larutan sebaiknya disemprotkan ke dalam media agar tidak terlalu banyak yang terbuang. Penyemprotan campuran pupuk dilakukan sampai media cukup basah.
Pada pemupukan susulan kedua dapat ditambahkan KCL dengan jumlah yang sama dengan urea. Selain menyuburkan tanah KCl juga dapat meningkatkan kualitas daun. Dosis yang digunakan 20 gram urea atau ZA yang dilarutkan ke dalam 10 liter air. Pemberian pupuk tidak boleh berlebih kerena akan mengakibatkan tanaman hangus terbakar.
Pada luasan lahan yang terbatas (sempit) Pak Choy dapat dibudidayakan dalam pot. Pak Choy mempunyai sistem perakaran yang menyebar ke semua arah dengan kedalaman antara 30 sampai 50 cm. Dengan kondisi perakaran seperti itu, pot yang akan digunakan memiliki tinggi minimal 30 cm agar pertumbuhan akan dapat berlangsung secara normal. Namun, menurut pengalaman yang telah dipraktikan oleh trubus tinggi pot yang dapat digunakan minimal 10 cm.
Jenis pot yang digunakan dapat berupa pot tunggal atau atau pot horizontal. Selain pot-pot yang dijual dipasaran, barang bekas, seperti kaleng cat yang besar juga dapat dimanfaatkan sebagai pot.
Gambar Pot dari kaleng minimal ketinggian 10 cm
Tahapan kegiatan budidaya meliputi pembuatan persemaian, persiapan media tanam, penanaman serta pemeliharaan tanaman. Persemaian dibuat dalam bak plastik kecil yang datar. Media yang digunakan untuk persemaian merupakan campuran tanah kebun yang telah diayak dengan pupuk kandang atau pasir yang dicampur pupuk kandang dengan perbandingan 2:1. Alternatif media selain campuran tersebut adalah campuran pasir, tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 2:1:2. Sebelum disebar benih direndam air hangat selama satu jam untuk mencegah kemungkinan terdapatnya bibit penyakit pada biji. Selain itu bisa juga direndam dengan zat pengatur tumbuh agar benih lebih cepat berkecambah.
Media yang digunakan sebagai media tanam untuk budidaya dalam pot adalah campuran abu sekam dan pupuk kandang, abu sampah dengan pupuk kandang, pasir dan pupuk kandang, gambut dan pupuk kandang, humus sampah rumah tangga dengan tanah atau pasir, dengan perbandingan 1:1 atau 2:1. Alternatif lain campuran tanah dengan pupu kandang dengan perbandingan 3:1. Untuk menambah kuliatas media dapat ditambahkan pupuk NPK sebanyak satu sendok makan untuk polibag berukuran 3 x 35 cm.
Penanaman dilakukan segera setelah tanaman berumur 10-15 hari setelah semai. Sebelum penanaman media yang disiapkan sebaiknya disiram terlebih dahulu.
Pemeliharaan mulai dilakukan sejak tanaman mulai dipindah ke dalam pot. Kegiatan ini hampir sama dengan pemeliharaan pada budidaya di kebun. Untuk pemupukan diberikan dengan frekuensi yang lebih rutin. Hal ini dikarenakan tanaman Pak Choy berumur singkat dengan pertumbuhan yang cepat, sehingga membutuhkan suplai makanan yang banyak untuk mengimbangi pertumbuhannya.
Pupuk susulan pertama diberikan saat tanaman berumur 10-14 hari setelah tanam. Pemberian ini diulang setiap 7-10 hari. Pemupukan dapat dilakukan bersamaan dengan penyiraman yaitu dengan cara mencampurkan pupuk dengan air untuk menyiram. Larutan sebaiknya disemprotkan ke dalam media agar tidak terlalu banyak yang terbuang. Penyemprotan campuran pupuk dilakukan sampai media cukup basah.
Pada pemupukan susulan kedua dapat ditambahkan KCL dengan jumlah yang sama dengan urea. Selain menyuburkan tanah KCl juga dapat meningkatkan kualitas daun. Dosis yang digunakan 20 gram urea atau ZA yang dilarutkan ke dalam 10 liter air. Pemberian pupuk tidak boleh berlebih kerena akan mengakibatkan tanaman hangus terbakar.
Pemeliharaan Tanaman Pak Choy
Pemeliharaan
Kegiatan pemeliharaan meliputi penyiraman, penyiangan, penyulaman, pemberian pupuk susulan, dan pengendalian hama/penyakit tanaman.
1. Penyiraman
Penyiraman dilakukan dengan frekuensi 1-2 kali sehari. Terutama jika cuaca cukup panas atau pada musim kemarau. Waktu penyiraman dapat dilakukan pada pagi atau sore hari mengunakan gembor, selang, atau dengan cara dileb. Jika penyiraman dilakukan satu kali, maka penyiraman sebaiknya dilakukan pada sore hari. Hal ini dikarenakan pada malam hari suhu tidak terlalu tinggi sehingga hilangnya air karena penguapan relatif rendah.
2. Penyiangan
Pada setiap areal pertanaman selalu ada tanaman lain selain tanaman yang kita tanam (gulma). Terutama pada lahan yang tidak diberi mulsa. Jika hal tersebut dibiarkan maka tanaman kita akan mengalami persaingan dalam memperebutkan air dan hara dalam tanah. Oleh karena itu, untuk memberantas gulma tersebut perlu dilakukan penyiangan. Penyiangan dapat dilakukan 1-2 kali bersamaan dengan pemberian pupuk susulan, yaitu dengan cara mencabut gulma tersebut dengan tangan atau menggunakan alat seperti kored, parang dan cangkul. Kegiatan ini juga sekaligus untuk menggemburkan tanah di sekitar tanaman. Biasanya kegiatan ini dilakukan saat tanaman berumur dua dan empat minggu setelah tanam.
3. Penyulaman
Terkadang tidak semua bibit yang kita tanam tumbuh dengan baik. Ada bibit yang dipindahtanamkan mengalami kegagalan pertumbuhan. Untuk itu, tanaman yang mati tersebut harus kita ganti dengan tanaman yang baru agar hasil panennya tidak berkurang.
Penyulaman dilakukan seminggu setelah bibit ditanam di kebun. Caranya adalah dengan membersihkan tempat tanaman yang mati itu. Lalu disitu kita beri Furadan 0,5 gr bila dipandang perlu. Kemudian bibit yang baru ditanam pada lubang tersebut. Lalu diurug dengan tanah.
Agar plertumbuhan tanaman yang baru sama dengan tanmaan lainnya yang tidak disulam, gunakanlah bibit yang berumur sama dengan tanaman yang tidak disulam.
Gambar Penyulaman
4. Pemupukan
Pak Choy merupakan tanaman sayuran daun. Produksi yang diharapkan adalah daun yang berwarna hijau, segar dan renyah bila dikonsumsi. Pemupukan merupakan salah satu cara agar hal tersebut dapat tercapai. Pemberian pupuk dilakukan sebelum tanam sebagai pupuk dasar dan sesudah tanam sebagai pupuk susulan.
Pupuk susulan dilakukan sebanyak dua kali, yaitu saat tanaman berumur dua dan empat mingu setelah tanam. Dosis pupuk yang diberikan per hektar adalah 400-500 kg ZA, 200-300 kg SP dan 100-200 kg ZK. Pupuk diberikan dengan cara ditaburkan pada larikan antar tanaman atau secara melingkar pada setiap tanaman dengan jarak 15-20 cm dari pangkal batang dan dalamnya 10-15 cm. Setelah itu, pupuk ditutup dengan tanah untuk menghindari hilangnya pupuk dari lahan karena penguapan atau terbawa air hujan.
Di samping dosis yang digunakan, hal lain yang perlu diperhatikan dalam pemupukan adalah kondisi cuaca dan kondisi tanaman. Hal ini diperlukan agar tidak terjadi pemborosan pupuk karena pupuk yang diberikan terbuang atau tidak sesuai dengan kebutuhan tanaman.
Gambar 4 Tata Cara Pemupukan
Kondisi cuaca merupakan faktor yang menentukan keberhasilan suatu aplikasi pemupukan. Pada hari akan hujan tidak boleh dilakukan pemupukan karena air hujan dapat mengakibatkan hanyutnya pupuk sehingga pupuk terbuang percuma dan tidak sempat dimanfaatkan oleh tanaman. Untuk jenis pupuk yang mudah menguap, pemupukan sebaiknya tidak dilakukan pada saat terik matahari. Pemupukan yang baik dilakukan sebelum pukul 19.00 atau sesudah pukul 15.00. Jika tanaman berada dalam naungan yang tidak memungkinkan sinar matahari terik atau cuaca tidak panas, maka pemupukan dapat dilakukan.
Pada setiap fase, tanaman membutuhkan jumlah hara yang berbeda. Pemberian pupuk yang berlebihan akan menyebabkan keracunan pada tanaman sehingga dapat menganggu pertumbuhan tanaman. Pada tanaman Pak Choy diharapkan tanaman berada dalam fase vegetatif, untuk mencegah tanaman memasuki fase generatif dapat dilakukan dengan memberikan pupuk yang mengandung Nitrogen (N) tinggi secara terus-menerus.
Penyemprotan pestisida untuk mengendalikan serangan hama/penyakit dialakukan sesuai dengan tingkat serangan. Kegiatan ini dihentikan 2 minggu sebelum tanaman dipenen.
Kegiatan pemeliharaan meliputi penyiraman, penyiangan, penyulaman, pemberian pupuk susulan, dan pengendalian hama/penyakit tanaman.
1. Penyiraman
Penyiraman dilakukan dengan frekuensi 1-2 kali sehari. Terutama jika cuaca cukup panas atau pada musim kemarau. Waktu penyiraman dapat dilakukan pada pagi atau sore hari mengunakan gembor, selang, atau dengan cara dileb. Jika penyiraman dilakukan satu kali, maka penyiraman sebaiknya dilakukan pada sore hari. Hal ini dikarenakan pada malam hari suhu tidak terlalu tinggi sehingga hilangnya air karena penguapan relatif rendah.
2. Penyiangan
Pada setiap areal pertanaman selalu ada tanaman lain selain tanaman yang kita tanam (gulma). Terutama pada lahan yang tidak diberi mulsa. Jika hal tersebut dibiarkan maka tanaman kita akan mengalami persaingan dalam memperebutkan air dan hara dalam tanah. Oleh karena itu, untuk memberantas gulma tersebut perlu dilakukan penyiangan. Penyiangan dapat dilakukan 1-2 kali bersamaan dengan pemberian pupuk susulan, yaitu dengan cara mencabut gulma tersebut dengan tangan atau menggunakan alat seperti kored, parang dan cangkul. Kegiatan ini juga sekaligus untuk menggemburkan tanah di sekitar tanaman. Biasanya kegiatan ini dilakukan saat tanaman berumur dua dan empat minggu setelah tanam.
3. Penyulaman
Terkadang tidak semua bibit yang kita tanam tumbuh dengan baik. Ada bibit yang dipindahtanamkan mengalami kegagalan pertumbuhan. Untuk itu, tanaman yang mati tersebut harus kita ganti dengan tanaman yang baru agar hasil panennya tidak berkurang.
Penyulaman dilakukan seminggu setelah bibit ditanam di kebun. Caranya adalah dengan membersihkan tempat tanaman yang mati itu. Lalu disitu kita beri Furadan 0,5 gr bila dipandang perlu. Kemudian bibit yang baru ditanam pada lubang tersebut. Lalu diurug dengan tanah.
Agar plertumbuhan tanaman yang baru sama dengan tanmaan lainnya yang tidak disulam, gunakanlah bibit yang berumur sama dengan tanaman yang tidak disulam.
Gambar Penyulaman
4. Pemupukan
Pak Choy merupakan tanaman sayuran daun. Produksi yang diharapkan adalah daun yang berwarna hijau, segar dan renyah bila dikonsumsi. Pemupukan merupakan salah satu cara agar hal tersebut dapat tercapai. Pemberian pupuk dilakukan sebelum tanam sebagai pupuk dasar dan sesudah tanam sebagai pupuk susulan.
Pupuk susulan dilakukan sebanyak dua kali, yaitu saat tanaman berumur dua dan empat mingu setelah tanam. Dosis pupuk yang diberikan per hektar adalah 400-500 kg ZA, 200-300 kg SP dan 100-200 kg ZK. Pupuk diberikan dengan cara ditaburkan pada larikan antar tanaman atau secara melingkar pada setiap tanaman dengan jarak 15-20 cm dari pangkal batang dan dalamnya 10-15 cm. Setelah itu, pupuk ditutup dengan tanah untuk menghindari hilangnya pupuk dari lahan karena penguapan atau terbawa air hujan.
Di samping dosis yang digunakan, hal lain yang perlu diperhatikan dalam pemupukan adalah kondisi cuaca dan kondisi tanaman. Hal ini diperlukan agar tidak terjadi pemborosan pupuk karena pupuk yang diberikan terbuang atau tidak sesuai dengan kebutuhan tanaman.
Gambar 4 Tata Cara Pemupukan
Kondisi cuaca merupakan faktor yang menentukan keberhasilan suatu aplikasi pemupukan. Pada hari akan hujan tidak boleh dilakukan pemupukan karena air hujan dapat mengakibatkan hanyutnya pupuk sehingga pupuk terbuang percuma dan tidak sempat dimanfaatkan oleh tanaman. Untuk jenis pupuk yang mudah menguap, pemupukan sebaiknya tidak dilakukan pada saat terik matahari. Pemupukan yang baik dilakukan sebelum pukul 19.00 atau sesudah pukul 15.00. Jika tanaman berada dalam naungan yang tidak memungkinkan sinar matahari terik atau cuaca tidak panas, maka pemupukan dapat dilakukan.
Pada setiap fase, tanaman membutuhkan jumlah hara yang berbeda. Pemberian pupuk yang berlebihan akan menyebabkan keracunan pada tanaman sehingga dapat menganggu pertumbuhan tanaman. Pada tanaman Pak Choy diharapkan tanaman berada dalam fase vegetatif, untuk mencegah tanaman memasuki fase generatif dapat dilakukan dengan memberikan pupuk yang mengandung Nitrogen (N) tinggi secara terus-menerus.
Penyemprotan pestisida untuk mengendalikan serangan hama/penyakit dialakukan sesuai dengan tingkat serangan. Kegiatan ini dihentikan 2 minggu sebelum tanaman dipenen.
Penanaman Bibit Pak Choy
Penanaman bibit
Setelah benih tumbuh di persemaian, langkah selanjutnya adalah penanaman bibit di lahan terbuka. Pada kegiatan ini ada beberapa tahap yang dilakukan.
1. Pemindahan Bibit dan Penyeleksian Bibit
Pemindahan bibit pada tahap ini merupakan pemindahan kedua kalinya setelah pemindahan bibit dari kotak ke polibag. Agar pertumbuhannya baik, sebaiknya kita memilih bibit yang tubuh baik, batang dan daunnya segar dan tidak rusak.
Pemindahan bibit dari polibag sebaiknya dilakukan dengan cara menyobekkan polibag. Dengan demikian, tanahnya akan ikut tertanam dan akarnya tidak rusak.
Gambar memindahkan bibit dari polibag ke kebun
Kemudian, bibit yang berada di kotak persemaian dapat dilakukan dengan dicabut secara hati-hati. Namun, sebelumnya, tanah diberi air agar pada saat pencabutan, tanah tidak menahan akar.
Cara lain yang lebih aman adalah dengan bantuan sendok tanah. Bibit diangkat beserta tanahnya. Cara ini sangat aman dilakukan karena akar tidak akan terganggu.
Gambar bibit dicongkel dengan sendok
2. Pengaturan Jarak Tanam
Jarak tanam yang dapat digunakan adalah 2,5-10 cm dalam barisan untuk varietas yang kecil atau maksimal 45 cm untuk varietas yang besar, jarak antarbarisan yaitu antara 15-30 cm.
Jarak tanam yang terlalu rapat akan membuat daerah sekitarnya menjadi lembap. Hal ini karena sinar matahari sangat kurang. Akibatnya, akan memancing tumbuhnya organisme pengganggu. Selain itu, padatnya jarak tanam akan menimbulkan persaingan antartanaman dalam menyerap sari-sari makanan. Akibatnya, pertumbuhan tanaman kurang sempurna.
Gambar pengaturan jarak tanam
3. Cara Penanaman
Waktu penanaman sebaiknya pada awal musim hujan atau akhir musim hujan agar tanaman tidak kekurangan air pada fase awal pertumbuhannya di kebun. Namun demikian, dapat pula ditanam pada musim kemarau dengan syarat kebutuhan air tercukupi.
Sebelum penanaman lahan diberi pengairan. Kemudian dibuatlah lubang tanam dengan melubangi mulsa plastik. Cara melubangi mulsa adalah dengan menggunakan kaleng yang telah dipanaskan.
Gambar Cara melubangi mulsa
Adapun diameter lubang sekitar 8 cm dan dalamnya lubang sekitar 10 cm.
Setelah benih tumbuh di persemaian, langkah selanjutnya adalah penanaman bibit di lahan terbuka. Pada kegiatan ini ada beberapa tahap yang dilakukan.
1. Pemindahan Bibit dan Penyeleksian Bibit
Pemindahan bibit pada tahap ini merupakan pemindahan kedua kalinya setelah pemindahan bibit dari kotak ke polibag. Agar pertumbuhannya baik, sebaiknya kita memilih bibit yang tubuh baik, batang dan daunnya segar dan tidak rusak.
Pemindahan bibit dari polibag sebaiknya dilakukan dengan cara menyobekkan polibag. Dengan demikian, tanahnya akan ikut tertanam dan akarnya tidak rusak.
Gambar memindahkan bibit dari polibag ke kebun
Kemudian, bibit yang berada di kotak persemaian dapat dilakukan dengan dicabut secara hati-hati. Namun, sebelumnya, tanah diberi air agar pada saat pencabutan, tanah tidak menahan akar.
Cara lain yang lebih aman adalah dengan bantuan sendok tanah. Bibit diangkat beserta tanahnya. Cara ini sangat aman dilakukan karena akar tidak akan terganggu.
Gambar bibit dicongkel dengan sendok
2. Pengaturan Jarak Tanam
Jarak tanam yang dapat digunakan adalah 2,5-10 cm dalam barisan untuk varietas yang kecil atau maksimal 45 cm untuk varietas yang besar, jarak antarbarisan yaitu antara 15-30 cm.
Jarak tanam yang terlalu rapat akan membuat daerah sekitarnya menjadi lembap. Hal ini karena sinar matahari sangat kurang. Akibatnya, akan memancing tumbuhnya organisme pengganggu. Selain itu, padatnya jarak tanam akan menimbulkan persaingan antartanaman dalam menyerap sari-sari makanan. Akibatnya, pertumbuhan tanaman kurang sempurna.
Gambar pengaturan jarak tanam
3. Cara Penanaman
Waktu penanaman sebaiknya pada awal musim hujan atau akhir musim hujan agar tanaman tidak kekurangan air pada fase awal pertumbuhannya di kebun. Namun demikian, dapat pula ditanam pada musim kemarau dengan syarat kebutuhan air tercukupi.
Sebelum penanaman lahan diberi pengairan. Kemudian dibuatlah lubang tanam dengan melubangi mulsa plastik. Cara melubangi mulsa adalah dengan menggunakan kaleng yang telah dipanaskan.
Gambar Cara melubangi mulsa
Adapun diameter lubang sekitar 8 cm dan dalamnya lubang sekitar 10 cm.
Persemaian Tanaman Pak Choy
Persemaian
Persemaian sangat penting karena hasil akhir ditentukan oleh kondisi tanaman di persemaian.. Tahap ini dilakukan agar benih berada dalam kondisi yang memungkinkan untuk tumbuh menjadi individu baru. Sehingga dapat menghemat benih dan menggurangi kematian bibit muda pada awal fase pertumbuhan maupun pada saat tanaman dipindahkan. Kegiatan ini berlangsung sampai tanaman membentuk 4-5 helai daun (± satu bulan). Banyaknya benih yang diperlukan untuk luasan satu hektar adalah 500-800 gram, tergantung teknik budidaya yang diterapkan dan jarak tanam yang digunakan.
Tempat persemaian disiapkan pada bedengan dengan lebar 1-1.2 m dan panjang disesuaikan dengan kebutuhan. Benih ditaburkan pada alur tanam yang telah disiapkan dan ditutup dengan tanah tipis setebal 0.5-1 cm. Untuk merangsang perkecambahan benih tutup persemaian dengan karung goni basah atau daun pisang selama 1-2 hari. Dengan demikian, kelembaban tanah menjadi tinggi sehingga benih tidak mengalami kekeringan. Setelah benih mulai berkecambah tutup dapat segera dibuka. Selain menyemai dalam alur-alur (barisan) penyemaian dapat dilakukan dengan cara menyebarkan benih secara merata di tempat persemaian yang telah disiapkan.
Tanaman yang masih muda tidak tahan terhadap hujan yang lebat atau sinar matahari secara langsung , untuk itu maka termpat persemaian perlu diberi naungan. Naungan bisa dari bahan plastik bening, rumbia atau anyaman daun kelapa. Agar tanaman dapat memperoleh matahari pagi maka naungan dibuat dengan meninggikan bagian sebelah timur. Tinggi tiang penyangga naungan disebelah barat berukuran 0.6-0.8 meter dan sebelah timur 1-1.5 meter.
Setelah tanaman berumur 10-15 hari setelah semai, tanaman dijarangkan (dipindah semaikan) pada lahan persemaian lain atau dibumbung pada polybag kecil berukuaran 8 x 10 cm (daun pisang dengan ukuran 5 x 5 x 5 cm). Hal ini bertujuan agar tanaman dapat hidup dengan normal karena tidak terjadi kompetisi yang terlalu berat dengan tanaman lainnya untuk memperoleh makanan. Dengan pemindahan tanaman pada lahan persemaian lain, diperlukan bedengan baru yang sama dengan bedengan pada persemaian sebelumnya. Jarak tanam yang digunakan di lahan tersebut adalah 5 x 10 cm.
Pada bibit yang dipindahsemaikan dalam polybag, media semai yang digunakan adalah campuran tanah dengan pupuk kandang yang telah matang dan diayak dengan perbandingan 1 : 1. Polybag/daun pisang diisi dengan media tersebut kemudian satu bibit ditanam pada polybag atau bumbung daun pisang tersebut. Setelah itu disimpan pada bedengan yang telah diberi peneduh.
Pada kedua cara tersebut jika dilihat dari segi kondisi tanaman setelah pemindahan maka pemindahan pada polybag/bumbungan dinilai lebih baik. Dengan disemai pada polibag akan diperoleh tanaman yang pertumbuhan akarnya tidak terganggu, karena penanaman dilakukan dengan media tanamnya. Sedangkan pada persemaian di lahan tanaman membutuhkan waktu untuk penyembuhan akar dan kemungkinan tanaman terserang penyakit besar. Hal ini dikarenakan pemindahan dilakukan dengan cara mencabut tanaman yang mengakibatkan adanya akar-akar yang terputus.
Selama dipersemaian, pemeliharaan dilakukan secara intensif terutama dalam penyiraman yang dilakukan 1-2 kali sehari. Selain itu juga dilakukan pemupukan dengan dosis 10 gram/10 liter air yang disiramkan setelah tanaman berumur lima hari setelah penyapihan/pembumbungan. Apabila ada serangan hama/penyakit yang dianggap dapat membahayakan pertanaman maka dilakukan penyemprotan pestisida selektif dengan dosis 30-50 % dari dosis anjuran.
Persemaian sangat penting karena hasil akhir ditentukan oleh kondisi tanaman di persemaian.. Tahap ini dilakukan agar benih berada dalam kondisi yang memungkinkan untuk tumbuh menjadi individu baru. Sehingga dapat menghemat benih dan menggurangi kematian bibit muda pada awal fase pertumbuhan maupun pada saat tanaman dipindahkan. Kegiatan ini berlangsung sampai tanaman membentuk 4-5 helai daun (± satu bulan). Banyaknya benih yang diperlukan untuk luasan satu hektar adalah 500-800 gram, tergantung teknik budidaya yang diterapkan dan jarak tanam yang digunakan.
Tempat persemaian disiapkan pada bedengan dengan lebar 1-1.2 m dan panjang disesuaikan dengan kebutuhan. Benih ditaburkan pada alur tanam yang telah disiapkan dan ditutup dengan tanah tipis setebal 0.5-1 cm. Untuk merangsang perkecambahan benih tutup persemaian dengan karung goni basah atau daun pisang selama 1-2 hari. Dengan demikian, kelembaban tanah menjadi tinggi sehingga benih tidak mengalami kekeringan. Setelah benih mulai berkecambah tutup dapat segera dibuka. Selain menyemai dalam alur-alur (barisan) penyemaian dapat dilakukan dengan cara menyebarkan benih secara merata di tempat persemaian yang telah disiapkan.
Tanaman yang masih muda tidak tahan terhadap hujan yang lebat atau sinar matahari secara langsung , untuk itu maka termpat persemaian perlu diberi naungan. Naungan bisa dari bahan plastik bening, rumbia atau anyaman daun kelapa. Agar tanaman dapat memperoleh matahari pagi maka naungan dibuat dengan meninggikan bagian sebelah timur. Tinggi tiang penyangga naungan disebelah barat berukuran 0.6-0.8 meter dan sebelah timur 1-1.5 meter.
Setelah tanaman berumur 10-15 hari setelah semai, tanaman dijarangkan (dipindah semaikan) pada lahan persemaian lain atau dibumbung pada polybag kecil berukuaran 8 x 10 cm (daun pisang dengan ukuran 5 x 5 x 5 cm). Hal ini bertujuan agar tanaman dapat hidup dengan normal karena tidak terjadi kompetisi yang terlalu berat dengan tanaman lainnya untuk memperoleh makanan. Dengan pemindahan tanaman pada lahan persemaian lain, diperlukan bedengan baru yang sama dengan bedengan pada persemaian sebelumnya. Jarak tanam yang digunakan di lahan tersebut adalah 5 x 10 cm.
Pada bibit yang dipindahsemaikan dalam polybag, media semai yang digunakan adalah campuran tanah dengan pupuk kandang yang telah matang dan diayak dengan perbandingan 1 : 1. Polybag/daun pisang diisi dengan media tersebut kemudian satu bibit ditanam pada polybag atau bumbung daun pisang tersebut. Setelah itu disimpan pada bedengan yang telah diberi peneduh.
Pada kedua cara tersebut jika dilihat dari segi kondisi tanaman setelah pemindahan maka pemindahan pada polybag/bumbungan dinilai lebih baik. Dengan disemai pada polibag akan diperoleh tanaman yang pertumbuhan akarnya tidak terganggu, karena penanaman dilakukan dengan media tanamnya. Sedangkan pada persemaian di lahan tanaman membutuhkan waktu untuk penyembuhan akar dan kemungkinan tanaman terserang penyakit besar. Hal ini dikarenakan pemindahan dilakukan dengan cara mencabut tanaman yang mengakibatkan adanya akar-akar yang terputus.
Selama dipersemaian, pemeliharaan dilakukan secara intensif terutama dalam penyiraman yang dilakukan 1-2 kali sehari. Selain itu juga dilakukan pemupukan dengan dosis 10 gram/10 liter air yang disiramkan setelah tanaman berumur lima hari setelah penyapihan/pembumbungan. Apabila ada serangan hama/penyakit yang dianggap dapat membahayakan pertanaman maka dilakukan penyemprotan pestisida selektif dengan dosis 30-50 % dari dosis anjuran.
Persiapan Lahan Penanaman Pak Choy
Persiapan lahan
Lahan atau tempat budidaya terdiri dari dua macam, yaitu lahan untuk penyemaian benih dan lahan untuk penanaman bibit.
1. Tempat Penyemaian Benih
Untuk menyemaikan benih kita perlu melakukannya secara terpisah. Tempat untuk persemaian biji ada tiga jenis, yaitu tempat persemaian permanen, tempat persemaian semi permanen, dan tempat persemaian tidak permanen.
Tempat persemaian permanen adalah tempat persemaian bersifat tetap dan digunakan berkali-kali. Tempat persemaian seperti ini banyak digunakan oleh petani berskala besar. Bahan-bahan yang dapat digunakan untuk tipe persemaian permanen adalah bahan bangunan seperti semen, pasir, kapur, batu bata, kayu atau best untuk penyangga atap/ plastik polos atau yang bergelombang untuk atap. Kemudian dengan bahan-bahan tersebut dibuat kotak yang berukuran lebar 120 cm, tinggi kotak 25 cm, dan panjangnya disesuaikan dengan keadaan lahannya.
Tipe persemaian semi permanen adalah merupakan tipe yang hanya dapat digunakan beberapa kali saja. Bahan yang digunakan untuk membuat tempat persemaian ini dapat berupa papan kayu atau berupa anyaman bambu. Ukurannya dapat dibuat bervariasi, yaitu 1 x 1 m atau 1 x 2 m/ dan lain-lain. Sedangkan tinggi kotak adalah 25 cm. Bentuk tempat persemaian berupa kotak bujur sangkar atau empat persegi panjang.
Tempat persemaian tidak permanen adalah merupakan tempat persemaian yang pemakaiannya hanya untuk satu kali tanam saja. dan setelah itu harus dibuat lagi. Penggunaan tipe ini biayanya lebih rendah dan sangat efisien untuk usaha tani kecil yang masih berjangka pendek. Tempat persemaian tipe ini (tidak permanen) di buat langsung di tanah areal pertanaman. Tanah dibentuk bedeng-bedeng dan parit-parit. Tinggi bedeng 20 - 30cm, lebarnya 100 - 120 cm, danpanjangnya disesuaikan dengan keadaan lahannya.
Gambar Tempat persemaian
2. Persiapan Lahan untuk Penanaman Bibit
Untuk pembesaran bibit perludi siapkan lahan penjarangan/lahan pembesaran. Lahan yang diperlukan adalah sebidang tanah yang luasnya sesuai dengan kebutuhan.
Lahan tersebut tidak dapat digunakan begitu saja. Kita perlu melakukan penanganan khusus terhadap lahan tersebut. Mengingat penanganannya memerlukan waktu yang lama sebaiknya dipersiapkan sebelumnya. Penanganan lahan akan memakan waktu selama 25 hari.
Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.
a. Pengolahan lahan
Langkah pertama adalah mencangkul lahan. Pencangkulan dilakukan untuk menggemburkan tanah supaya tidak padat dan keras. Kemudian, memindahkan bagian tanah dalam menjadi di permukaan tanah. Penggemburan dilakukan pada lahan sedalam 40 cm. Kemudian, lahan dibiarkan selama satu minggu.
Tanah tersebut dibiarkan agar tanah terkena sinar matahari. Dengan demikian, sumber penyakit yang ada di dalam tanah dapat terbunuh.
Setelah satu minggu, kembali tanah digemburkan. Kemudian, kali ini lahan dibuat bedengan. Bedengan dibuat mengarah ke timur-barat. Hal ini dilakukan agar cahaya matahari dapat menerobos seluruh tanaman secara merata.
Gambar Bedengan
b. Pengapuran
Pengapuran dilakukan untuk menaikkan pH tanah. PH tanah yang semula 6 sebaiknya ditingkatkan menjadi 6,5 hingga 7. Selain untuk meningkatkan pH tanah, pengapuran berfungsi juga untuk memperbaiki struktur tanah. Hal ini dapat mendorong aktivitas mikroorganisme tanah untuk membantu proses penguraian bahan organik. Dengan demikian, unsur hara tanah segera terbentuk.
Pengapuran tanah umumnya menggunakan dolomit. Untuk menaikkah pH tanah sebesar 0,1 diperlukan kapur dolomit sekitar 312/Ha. Cara pengapuran adalah melakukan penaburan secara merata di permukaan tanah.
Gambar Pengapuran
c. Pemupukan dasar
Pemupukan dilakukan bersamaan dengan pengolahan tanah. Pemupukan dilakukan dengan memberi pupuk kandang, kompos, atau pupuk hijau. Adapun dosis pupuk kandang yang diberikan adalah 10-20 ton/ha.
d. Pemasangan mulsa
Mulsa adalah plastik hitam yang digunakan untuk menutup permukaan tanah. Pemberian mulsa dilakukan untuk menjaga kelembapan tanah. Secara umum, pemberian mulsa dilakukan untuk:
1) melindungi bedengan dari curah hujan.
2) mempertahankan kelembapan tanah
3) mencegah tumbuhnya gulma
4) mencegah hanyutnya pupuk saat terjadi hujan
5) mengubah iklim mikro di sekitar tanaman.
6) menjaga tanah agar tetap gembur
7) mengatasi penyakit busuk hitam
Gambar pemberian mulsa
Lahan atau tempat budidaya terdiri dari dua macam, yaitu lahan untuk penyemaian benih dan lahan untuk penanaman bibit.
1. Tempat Penyemaian Benih
Untuk menyemaikan benih kita perlu melakukannya secara terpisah. Tempat untuk persemaian biji ada tiga jenis, yaitu tempat persemaian permanen, tempat persemaian semi permanen, dan tempat persemaian tidak permanen.
Tempat persemaian permanen adalah tempat persemaian bersifat tetap dan digunakan berkali-kali. Tempat persemaian seperti ini banyak digunakan oleh petani berskala besar. Bahan-bahan yang dapat digunakan untuk tipe persemaian permanen adalah bahan bangunan seperti semen, pasir, kapur, batu bata, kayu atau best untuk penyangga atap/ plastik polos atau yang bergelombang untuk atap. Kemudian dengan bahan-bahan tersebut dibuat kotak yang berukuran lebar 120 cm, tinggi kotak 25 cm, dan panjangnya disesuaikan dengan keadaan lahannya.
Tipe persemaian semi permanen adalah merupakan tipe yang hanya dapat digunakan beberapa kali saja. Bahan yang digunakan untuk membuat tempat persemaian ini dapat berupa papan kayu atau berupa anyaman bambu. Ukurannya dapat dibuat bervariasi, yaitu 1 x 1 m atau 1 x 2 m/ dan lain-lain. Sedangkan tinggi kotak adalah 25 cm. Bentuk tempat persemaian berupa kotak bujur sangkar atau empat persegi panjang.
Tempat persemaian tidak permanen adalah merupakan tempat persemaian yang pemakaiannya hanya untuk satu kali tanam saja. dan setelah itu harus dibuat lagi. Penggunaan tipe ini biayanya lebih rendah dan sangat efisien untuk usaha tani kecil yang masih berjangka pendek. Tempat persemaian tipe ini (tidak permanen) di buat langsung di tanah areal pertanaman. Tanah dibentuk bedeng-bedeng dan parit-parit. Tinggi bedeng 20 - 30cm, lebarnya 100 - 120 cm, danpanjangnya disesuaikan dengan keadaan lahannya.
Gambar Tempat persemaian
2. Persiapan Lahan untuk Penanaman Bibit
Untuk pembesaran bibit perludi siapkan lahan penjarangan/lahan pembesaran. Lahan yang diperlukan adalah sebidang tanah yang luasnya sesuai dengan kebutuhan.
Lahan tersebut tidak dapat digunakan begitu saja. Kita perlu melakukan penanganan khusus terhadap lahan tersebut. Mengingat penanganannya memerlukan waktu yang lama sebaiknya dipersiapkan sebelumnya. Penanganan lahan akan memakan waktu selama 25 hari.
Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.
a. Pengolahan lahan
Langkah pertama adalah mencangkul lahan. Pencangkulan dilakukan untuk menggemburkan tanah supaya tidak padat dan keras. Kemudian, memindahkan bagian tanah dalam menjadi di permukaan tanah. Penggemburan dilakukan pada lahan sedalam 40 cm. Kemudian, lahan dibiarkan selama satu minggu.
Tanah tersebut dibiarkan agar tanah terkena sinar matahari. Dengan demikian, sumber penyakit yang ada di dalam tanah dapat terbunuh.
Setelah satu minggu, kembali tanah digemburkan. Kemudian, kali ini lahan dibuat bedengan. Bedengan dibuat mengarah ke timur-barat. Hal ini dilakukan agar cahaya matahari dapat menerobos seluruh tanaman secara merata.
Gambar Bedengan
b. Pengapuran
Pengapuran dilakukan untuk menaikkan pH tanah. PH tanah yang semula 6 sebaiknya ditingkatkan menjadi 6,5 hingga 7. Selain untuk meningkatkan pH tanah, pengapuran berfungsi juga untuk memperbaiki struktur tanah. Hal ini dapat mendorong aktivitas mikroorganisme tanah untuk membantu proses penguraian bahan organik. Dengan demikian, unsur hara tanah segera terbentuk.
Pengapuran tanah umumnya menggunakan dolomit. Untuk menaikkah pH tanah sebesar 0,1 diperlukan kapur dolomit sekitar 312/Ha. Cara pengapuran adalah melakukan penaburan secara merata di permukaan tanah.
Gambar Pengapuran
c. Pemupukan dasar
Pemupukan dilakukan bersamaan dengan pengolahan tanah. Pemupukan dilakukan dengan memberi pupuk kandang, kompos, atau pupuk hijau. Adapun dosis pupuk kandang yang diberikan adalah 10-20 ton/ha.
d. Pemasangan mulsa
Mulsa adalah plastik hitam yang digunakan untuk menutup permukaan tanah. Pemberian mulsa dilakukan untuk menjaga kelembapan tanah. Secara umum, pemberian mulsa dilakukan untuk:
1) melindungi bedengan dari curah hujan.
2) mempertahankan kelembapan tanah
3) mencegah tumbuhnya gulma
4) mencegah hanyutnya pupuk saat terjadi hujan
5) mengubah iklim mikro di sekitar tanaman.
6) menjaga tanah agar tetap gembur
7) mengatasi penyakit busuk hitam
Gambar pemberian mulsa
Subscribe to:
Comments (Atom)