Penanaman dan Pemeliharaan
1. Persiapan Lahan
Tanaman anggrek dapat ditanam di sekitar rumah, pekarangan, dan kebun, yaitu di bawah pohon atau dengan naungan yang diberi paranet atau sejenisnya, dengan pengaturan intensitas cahaya tertentu atau di lahan terbuka. Karena tanaman anggrek mempunyai potensi ekonomis yang tinggi, untuk jenis-jenis tertentu dapat ditanam di dalam rumah kaca (green house). Selain untuk melindungi tanaman dari gangguan alam, juga akan mengurangi intensitas serangan OPT.
2. Persiapan Media Tumbuh
Media tumbuh yang baik harus memenuhi beberapa persyaratan, yaitu tidak lekas melapuk, tidak menjadi sumber penyakit, mempunyai aerasi yang baik, mampu mengikat air dan unsur hara secara baik, mudah didapat dalam jumlah yang diinginkan, dan harganya relatif murah. Sampai saat ini, belum ada media yang memenuhi semua persyaratan untuk pertumbuhan tanaman anggrek.
Untuk pertumbuhan tanaman anggrek, kemasaman media (pH) yang baik, berkisar antara 5-6. Media tumbuh sangat penting untuk pertumbuhan dan produksi bunga optimal, sehingga perlu adanya usaha mencari media tumbuh yang sesuai. Media tumbuh yang sering digunakan di Indonesia, yaitu moss, pakis, serutan kayu, potongan kayu, serabut kelapa, arang, dan kulit pinus. Pecahan batu-bata banyak dipakai sebagai media dasar pot anggrek karena dapat menyerap air lebih banyak dibandingkan dengan pecahan genting.
Selain itu, media pecahan batu-bata digunakan sebagai dasar pot karena mempunyai kemampuan drainase dan aerasi yang baik. Moss yang mengandung 2-3% unsur N, sudah lama digunakan untuk medium tumbuh anggrek. Media moss mempunyai kemampuan mengikat air yang baik, serta mempunyai aerasi dan drainase yang baik pula.
Pakis sesuai untuk media anggrek karena memiliki daya mengikat air, aerasi dan drainase yang baik, melapuk secara perlahan-lahan, serta mengandung unsur hara yang dibutuhkan anggrek untuk pertumbuhannya.
Serabut kelapa mudah melapuk dan mudah busuk, sehingga dapat menjadi sumber penyakit, tetapi daya simpan airnya sangat baik dan mengandung unsur hara yang diperlukan serta mudah didapat dan harganya murah. Ketika menggunakan serabut kelapa sebagai media tumbuh, sebaiknya dipilih serabut kelapa yang sudah tua.
Media tumbuh sabut kelapa, pakis, dan moss merupakan media tumbuh yang baik untuk pertumbuhan tanaman anggrek Phalaenopsis sp. Akan tetapi, bila pakis dan moss yang tumbuh di hutan ini diambil secara terus-menerus untuk digunakan sebagai media tumbuh, dikhawatirkan keseimbangan ekosistem akan terganggu.
Serutan kayu atau potongan kayu kurang sesuai untuk media anggrek walaupun memiliki aerasi dan drainase yang baik, tetapi daya simpan airnya kurang baik, serta miskin unsur N. Proses pelapukan berlangsung lambat karena kayu banyak mengandung senyawa-senyawa yang sulit terdekomposisi, seperti selulosa, lignin, dan hemiselulosa.
Media serutan kayu jati merupakan media tumbuh yang baik untuk pertumbuhan anggrek Aranthera James Storie. Pecahan arang kayu tidak lekas lapuk, tidak mudah ditumbuhi cendawan dan bakteri, tetapi sukar mengikat air dan miskin zat hara. Namun, arang cukup baik untuk media anggrek.
Penggunaan media baru (repotting) dapat dilakukan, bila mengalami hal-hal sebagai berikut.
a. Bila ditanam dalam pot (wadah) sudah terlalu padat atau banyak tunasnya.
b. Medium lama sudah hancur, sehingga medium bersifat asam dan dapat menjadi sumber penyakit.
3. Penyiraman
Tanaman anggrek yang sedang aktif tumbuh, membutuhkan lebih banyak air dibandingkan dengan yang sudah berbunga. Frekuensi dan banyaknya air siraman yang diberikan pada tanaman anggrek bergantung pada jenis, besar kecil ukuran tanaman, dan keadaan lingkungan pertanaman. Contohnya, tanaman anggrek Vanda sp., Arachnis sp., dan Renanthera sp., yaitu anggrek tipe monopodial yang tumbuh di bawah cahaya Matahari langsung, sehingga membutuhkan penyiraman lebih dari dua kali sehari, terutama pada musim kemarau.
4. Pemupukan
Seperti tumbuhan lainnya, anggrek membutuhkan makanan untuk mempertahankan hidupnya. Kebutuhan tanaman anggrek akan nutrisi sama dengan tumbuhan lainnya, hanya anggrek membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memperlihatkan gejala-gejala defisiensi (yang tidak baik), mengingat pertumbuhan anggrek sangat lambat.
Dalam usaha budi daya tanaman anggrek, habitatnya tidak cukup mampu menyediakan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh tanaman untuk pertumbuhan. Untuk mengatasi hal tersebut, biasanya tanaman diberi pupuk, baik organik maupun anorganik. Pupuk yang digunakan umumnya pupuk majemuk, yaitu yang mengandung unsur makro dan mikro.
Kualitas dan kuantitas pupuk dapat mengatur keseimbangan pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman. Pada fase pertumbuhan vegetatif, bagi tanaman yang masih kecil, perbandingan pemberian pupuk NPK adalah 30 : 10 : 10. Adapun pada fase pertumbuhan vegetatif, bagi tanaman yang berukuran sedang, perbandingan pemberian pupuk NPK adalah 10 : 10 : 10. Sebaliknya, pada fase pertumbuhan generatif, yaitu untuk merangsang pembungaan, perbandingan pemberian pupuk NPK adalah 10 : 30 : 30.
Jika dilakukan pemupukan ke dalam pot, hanya pupuk yang larut dalam air dan kontak langsung dengan ujung akar yang akan diambil oleh anggrek, sisanya akan tetap berada dalam pot. Pemupukan pada sore hari, menunjukkan respon pertumbuhan yang baik pada anggrek Dendrobium sp.
Thursday, 22 September 2016
IKLIM YANG TEPAT UNTUK ANGGREK
Iklim untuk Anggrek
Berdasarkan tipe suhu dan jenis anggrek yang akan cocok dibudi dayakan, dapat dibedakan menjadi tiga tipe tanaman, yaitu tanaman dengan kebutuhan suhu dingin, sedang, dan hangat. Pengaruh suhu berkaitan dengan proses asimilasi (pembentukan cadangan makanan) dan proses disimilasi (penguraian makanan dan pernafasan). Suhu udara yang tinggi akan meningkatkan respirasi dan merombak sebagian besar hasil fotosintesis yang digunakan untuk pertumbuhan tanaman anggrek. Anggrek yang akan dibudi dayakan harus disesuaikan dengan kebutuhan suhunya, agar proses asimilasi dan disimilasi berjalan sempurna.
Pada umumnya, anggrek menyukai sirkulasi udara yang lembut dan terus-menerus. Jika sirkulasi udara tidak ada atau tidak lancar, anggrek akan mudah terserang penyakit terutama disebabkan oleh jamur dan bakteri. Bila sirkulasi udara terlalu kencang, anggrek akan mengalami dehidrasi. Jika sirkulasi udara mengalami stagnasi, akan berakibat buruk bagi anggrek. Gejala yang dapat ditemukan akibat dehidrasi, yaitu bunga mengecil, mudah layu, dan kuncup mudah rontok.
Energi yang berasal dari cahaya Matahari dibutuhkan oleh tanaman untuk proses fotosintesis. Hasil fotosintesis diperlukan untuk pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman. Intensitas cahaya yang terlalu tinggi atau rendah dapat mengakibatkan kerugian. Kebutuhan intensitas cahaya untuk anggrek dinyatakan dengan satuan lilin cahaya, dan untuk masing-masing jenis anggrek tidak sama. Anggrek epifit membutuhkan intensitas cahaya berkisar 10-50% dan anggrek terestrial sekitar 60-100%.
Kelembapan udara untuk anggrek harus sangat diperhatikan. Pada umumnya, semua anggrek membutuhkan kelembapan udara yang cukup tinggi, bahkan beberapa jenis anggrek membutuhkan kelembapan yang sangat tinggi. Kelembapan udara, lebih diperlukan oleh anggrek dibandingkan media tanaman yang terus-menerus basah. Pada umumnya, tanaman anggrek membutuhkan kelembapan udara pada siang hari berkisar 50-80% dan pada saat musim berbunga sekitar 50-60%. Kelembapan udara sangat dipengaruhi oleh lingkungan lahan. Untuk menjaga kelembapan udara di sekitar tanaman anggrek, agar tetap lengas (lembap), daerah tempat tumbuh anggrek perlu diberi bahan pelindung untuk mengurangi penguapan.
Tanaman anggrek akan tumbuh dengan baik, jika kebutuhan airnya tercukupi. Penyiraman yang berlebihan akan berdampak buruk bagi tanaman. Kelebihan air justru akan menyebabkan timbulnya penyakit busuk akar atau busuk daun yang disebabkan oleh bakteri dan cendawan. Kekeringan yang berkepanjangan harus dihindari karena dapat menimbulkan terjadinya dehidrasi (kekurangan air) yang ditandai dengan mengerutnya psedobulb (umbi semu). Banyaknya penyiraman dan frekuensi penyiraman anggrek sangat tergantung pada cuaca (suhu, kelembapan udara, angin, dan cahaya Matahari), jenis, ukuran tanaman, dan keadaan lingkungan tanaman.
Untuk budi daya anggrek, diperlukan berbagai input, yaitu bibit, media tanam, pupuk, greenhouse (jaringan peneduh dan plastik ultraviolet) serta beberapa perlengkapan lain, seperti blower dan selang penyiraman. Untuk meningkatkan kualitas dan keragamannya, anggrek dipasarkan dalam berbagai bentuk olahan, selain sebagai tanaman hias, yaitu sebagai bunga potong, bunga pot, juga digunakan sebagai obat, dan anggrek hibrida. Anggrek hibrida adalah jenis anggrek hasil silangan antara varietas anggrek yang berbeda untuk mendapatkan bentuk dan warna bunga yang lebih menarik.
Karena memiliki kemampuan beradaptasi yang luas, anggrek di berbagai daerah di dunia dapat ditemukan. Akan tetapi, penyebaran anggrek terpusat di sektar khatulistiwa (tropis), yaitu Asia Tenggra, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan.
Kebutuhan anggrek terhadap cahaya berbeda-beda untuk setiap jenisnya. Ada jenis anggrek yang tidak tahan cahaya langsung, misalnya jenis Cattleya, Dendrobium, dan Phalaeonopsis (anggrek bulan). Akan tetapi, jika cahaya terlalu sedikit, tanaman menjadi hijau tua, tumbuh kurang baik, dan bunga kadang-kadang tidak ke luar sama sekali serta tanaman mudah terserang penyakit, baik oleh bakteri maupun jamur.
Dalam teori pembudidayaan anggrek, cahaya Matahari adalah faktor pertama dari tiga faktor primer lainnya. Selain itu, cahaya Matahari merupakan kunci yang benar-benar utama menuju keberhasilan. Pertumbuhan yang aktif, pendewasaan tanaman, dan produksi bunga dibutuhkan penyediaan energi. Matahari adalah sumber utama dari energi yang dimaksud. Tanaman dapat mengubah tenaga cahaya tersebut menjadi kalori dalam bahan-bahan organik melelui proses fotosintesis. Adapun faktor-faktor lingkungan yang sangat memengaruhi tingkatan fotosintesis pada tanaman anggrek adalah intensitas cahaya, konsentrasi CO2 dalam udara, temperatur, dan penyediaan air.
Intensitas diukur dalam foot candle (lilin cahaya). Satu foot candle adalah kuat cahaya yang dipancarkan oleh lilin standar pada jarak satu foot (12 inci). Matahari penuh pada hari cerah di daerah tropis, mempunyai intensitas kira-kira 10.000 lilin (foot candles). Fotosintesis dapat berjalan lancar tergantung pada intensitas cahayanya. Titik intensitas cahaya yang lebih besar dan tidak menambah kepesatan fotosintesis disebut titik jenuh cahaya.
Jadi, berapa banyak cahaya Matahari yang diberikan, tergantung pada jenis dan tipe anggrek yang bersangkutan serta berhubungan erat dengan keadaan tempat asalnya, yaitu sebagai berikut.
1. Arachis, Renathera, dan Terete Vanda
Tanaman anggrek ini dapat menerima cahaya Matahari penuh (langsung), artinya 100% cahaya Matahari siang tanpa peneduh. Intensitas cahaya Matahari yang tinggi, harus diikuti dengan keadaan temperatur dan medium yang tinggi serta diimbangi oleh kelembapan relatif udara yang tinggi pula.
2. Vanda Daun Sabuk
Tanaman epifit ini mayoritas berasal dari hutan hujan tropis (tropika basah). Itulah sebabnya, daun pada anggrek ini lebar dan lebih rapat daripada tipe terete yang silindris seperti pensil. Dengan permukaan daun yang lebar, ia akan berusaha menangkap sebanyak mungkin cahaya Matahari dalam suasana keteduhan hutan tersebut, yaitu sekitar 25-30% yang sampai pada daunannya. Dalam pembudidayaan, biasanya anggrek ini memperoleh temperatur dan intensitas cahaya Matahari yang lebih tinggi, yaitu dapat mencapai 60-70%.
3. Semiterete Vanda
Ditanam seperti tanaman semiterestria dengan intensitas cahaya antara 75-100% cahaya Matahari siang, tetapi sering pula di bawah Matahari penuh dengan kelembapan tinggi.
4. Cattleya
Termasuk tanaman yang menyukai terang dengan intensitas cahaya Matahari antara 50-60%.
5. Dendrobium
Secara umum, jenis anggrek ini memerlukan cahaya Matahari sebanyak yang diperlukan Cattleya, tetapi tergantung tipenya. Intensitas 60% minimum, cocok untuk kelompok evergreen. Adapun untuk kelompok peluruh (deciduous), membutuhkan peneduh lebih rapat sekalipun dapat sesuai dengan intensitas 60%. Hal ini untuk menghindari kerusakan pada daun-daunnya yang lebih tipis.
6. Phalaeonopsis
Jenis anggrek ini termasuk tanaman teduh, bahkan teduh sekali. Intensitasnya mencapai 15% pada siang hari sudah cukup. Akan tetapi, dalam masa tumbuh, bila temperatur tidak terlalu menyengat dan kelembapan terlalu tinggi, dapat ditolerir lebih banyak cahaya, bahkan sampai 30% cahaya Matahari langsung.
Berdasarkan tipe suhu dan jenis anggrek yang akan cocok dibudi dayakan, dapat dibedakan menjadi tiga tipe tanaman, yaitu tanaman dengan kebutuhan suhu dingin, sedang, dan hangat. Pengaruh suhu berkaitan dengan proses asimilasi (pembentukan cadangan makanan) dan proses disimilasi (penguraian makanan dan pernafasan). Suhu udara yang tinggi akan meningkatkan respirasi dan merombak sebagian besar hasil fotosintesis yang digunakan untuk pertumbuhan tanaman anggrek. Anggrek yang akan dibudi dayakan harus disesuaikan dengan kebutuhan suhunya, agar proses asimilasi dan disimilasi berjalan sempurna.
Pada umumnya, anggrek menyukai sirkulasi udara yang lembut dan terus-menerus. Jika sirkulasi udara tidak ada atau tidak lancar, anggrek akan mudah terserang penyakit terutama disebabkan oleh jamur dan bakteri. Bila sirkulasi udara terlalu kencang, anggrek akan mengalami dehidrasi. Jika sirkulasi udara mengalami stagnasi, akan berakibat buruk bagi anggrek. Gejala yang dapat ditemukan akibat dehidrasi, yaitu bunga mengecil, mudah layu, dan kuncup mudah rontok.
Energi yang berasal dari cahaya Matahari dibutuhkan oleh tanaman untuk proses fotosintesis. Hasil fotosintesis diperlukan untuk pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman. Intensitas cahaya yang terlalu tinggi atau rendah dapat mengakibatkan kerugian. Kebutuhan intensitas cahaya untuk anggrek dinyatakan dengan satuan lilin cahaya, dan untuk masing-masing jenis anggrek tidak sama. Anggrek epifit membutuhkan intensitas cahaya berkisar 10-50% dan anggrek terestrial sekitar 60-100%.
Kelembapan udara untuk anggrek harus sangat diperhatikan. Pada umumnya, semua anggrek membutuhkan kelembapan udara yang cukup tinggi, bahkan beberapa jenis anggrek membutuhkan kelembapan yang sangat tinggi. Kelembapan udara, lebih diperlukan oleh anggrek dibandingkan media tanaman yang terus-menerus basah. Pada umumnya, tanaman anggrek membutuhkan kelembapan udara pada siang hari berkisar 50-80% dan pada saat musim berbunga sekitar 50-60%. Kelembapan udara sangat dipengaruhi oleh lingkungan lahan. Untuk menjaga kelembapan udara di sekitar tanaman anggrek, agar tetap lengas (lembap), daerah tempat tumbuh anggrek perlu diberi bahan pelindung untuk mengurangi penguapan.
Tanaman anggrek akan tumbuh dengan baik, jika kebutuhan airnya tercukupi. Penyiraman yang berlebihan akan berdampak buruk bagi tanaman. Kelebihan air justru akan menyebabkan timbulnya penyakit busuk akar atau busuk daun yang disebabkan oleh bakteri dan cendawan. Kekeringan yang berkepanjangan harus dihindari karena dapat menimbulkan terjadinya dehidrasi (kekurangan air) yang ditandai dengan mengerutnya psedobulb (umbi semu). Banyaknya penyiraman dan frekuensi penyiraman anggrek sangat tergantung pada cuaca (suhu, kelembapan udara, angin, dan cahaya Matahari), jenis, ukuran tanaman, dan keadaan lingkungan tanaman.
Untuk budi daya anggrek, diperlukan berbagai input, yaitu bibit, media tanam, pupuk, greenhouse (jaringan peneduh dan plastik ultraviolet) serta beberapa perlengkapan lain, seperti blower dan selang penyiraman. Untuk meningkatkan kualitas dan keragamannya, anggrek dipasarkan dalam berbagai bentuk olahan, selain sebagai tanaman hias, yaitu sebagai bunga potong, bunga pot, juga digunakan sebagai obat, dan anggrek hibrida. Anggrek hibrida adalah jenis anggrek hasil silangan antara varietas anggrek yang berbeda untuk mendapatkan bentuk dan warna bunga yang lebih menarik.
Karena memiliki kemampuan beradaptasi yang luas, anggrek di berbagai daerah di dunia dapat ditemukan. Akan tetapi, penyebaran anggrek terpusat di sektar khatulistiwa (tropis), yaitu Asia Tenggra, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan.
Kebutuhan anggrek terhadap cahaya berbeda-beda untuk setiap jenisnya. Ada jenis anggrek yang tidak tahan cahaya langsung, misalnya jenis Cattleya, Dendrobium, dan Phalaeonopsis (anggrek bulan). Akan tetapi, jika cahaya terlalu sedikit, tanaman menjadi hijau tua, tumbuh kurang baik, dan bunga kadang-kadang tidak ke luar sama sekali serta tanaman mudah terserang penyakit, baik oleh bakteri maupun jamur.
Dalam teori pembudidayaan anggrek, cahaya Matahari adalah faktor pertama dari tiga faktor primer lainnya. Selain itu, cahaya Matahari merupakan kunci yang benar-benar utama menuju keberhasilan. Pertumbuhan yang aktif, pendewasaan tanaman, dan produksi bunga dibutuhkan penyediaan energi. Matahari adalah sumber utama dari energi yang dimaksud. Tanaman dapat mengubah tenaga cahaya tersebut menjadi kalori dalam bahan-bahan organik melelui proses fotosintesis. Adapun faktor-faktor lingkungan yang sangat memengaruhi tingkatan fotosintesis pada tanaman anggrek adalah intensitas cahaya, konsentrasi CO2 dalam udara, temperatur, dan penyediaan air.
Intensitas diukur dalam foot candle (lilin cahaya). Satu foot candle adalah kuat cahaya yang dipancarkan oleh lilin standar pada jarak satu foot (12 inci). Matahari penuh pada hari cerah di daerah tropis, mempunyai intensitas kira-kira 10.000 lilin (foot candles). Fotosintesis dapat berjalan lancar tergantung pada intensitas cahayanya. Titik intensitas cahaya yang lebih besar dan tidak menambah kepesatan fotosintesis disebut titik jenuh cahaya.
Jadi, berapa banyak cahaya Matahari yang diberikan, tergantung pada jenis dan tipe anggrek yang bersangkutan serta berhubungan erat dengan keadaan tempat asalnya, yaitu sebagai berikut.
1. Arachis, Renathera, dan Terete Vanda
Tanaman anggrek ini dapat menerima cahaya Matahari penuh (langsung), artinya 100% cahaya Matahari siang tanpa peneduh. Intensitas cahaya Matahari yang tinggi, harus diikuti dengan keadaan temperatur dan medium yang tinggi serta diimbangi oleh kelembapan relatif udara yang tinggi pula.
2. Vanda Daun Sabuk
Tanaman epifit ini mayoritas berasal dari hutan hujan tropis (tropika basah). Itulah sebabnya, daun pada anggrek ini lebar dan lebih rapat daripada tipe terete yang silindris seperti pensil. Dengan permukaan daun yang lebar, ia akan berusaha menangkap sebanyak mungkin cahaya Matahari dalam suasana keteduhan hutan tersebut, yaitu sekitar 25-30% yang sampai pada daunannya. Dalam pembudidayaan, biasanya anggrek ini memperoleh temperatur dan intensitas cahaya Matahari yang lebih tinggi, yaitu dapat mencapai 60-70%.
3. Semiterete Vanda
Ditanam seperti tanaman semiterestria dengan intensitas cahaya antara 75-100% cahaya Matahari siang, tetapi sering pula di bawah Matahari penuh dengan kelembapan tinggi.
4. Cattleya
Termasuk tanaman yang menyukai terang dengan intensitas cahaya Matahari antara 50-60%.
5. Dendrobium
Secara umum, jenis anggrek ini memerlukan cahaya Matahari sebanyak yang diperlukan Cattleya, tetapi tergantung tipenya. Intensitas 60% minimum, cocok untuk kelompok evergreen. Adapun untuk kelompok peluruh (deciduous), membutuhkan peneduh lebih rapat sekalipun dapat sesuai dengan intensitas 60%. Hal ini untuk menghindari kerusakan pada daun-daunnya yang lebih tipis.
6. Phalaeonopsis
Jenis anggrek ini termasuk tanaman teduh, bahkan teduh sekali. Intensitasnya mencapai 15% pada siang hari sudah cukup. Akan tetapi, dalam masa tumbuh, bila temperatur tidak terlalu menyengat dan kelembapan terlalu tinggi, dapat ditolerir lebih banyak cahaya, bahkan sampai 30% cahaya Matahari langsung.
Syarat Tumbuh Anggrek
Syarat Tumbuh Anggrek
Setiap jenis tanaman, dalam pertumbuhannya memerlukan kondisi lingkungan yang spesifik. Lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan tanaman akan membuat tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal. Faktor-faktor lingkungan yang memengaruhi lingkungan pertumbuhan tanaman, yaitu suhu udara lingkungan di sekitarnya, intensitas cahaya, kelembapan udara, dan ketersedian unsur hara di dalam tanah. Faktor-faktor tersebut, akan menentukan proses fotosintesis pada tanaman.
Anggrek bukan tumbuhan parasit. Berdasarkan tempat tumbuhnya, anggrek dibedakan menjadi empat macam, yaitu epifit, semi- epifit, terestrik, dan semiterestrik. Anggrek epifit hidup menempel pada batang, dahan atau ranting pohon yang masih hidup maupun yang sudah mati. Anggrek semiepifit tumbuh menempel pada substrat. Sebagian akarnya yang menempel, berfungsi untuk mendapatkan hara di bawah substrat, sedangkan akar aktif lainnya menjuntai di udara. Anggrek semiterestrik hidup dan tumbuh di atas permukaan tanah dan kedudukan seluruh batangnya berada di atas permukaan tanah. Anggrek terestrik tumbuh pada tanah atau media buatan yang diletakkan di tanah pada tempat terbuka.
Faktor lingkungan terpenting yang menentukan pertumbuhan anggrek, menurut Dirjen Pertanian Tanaman Pangan (1990), pada dasarnya meliputi lima aspek, yaitu suhu, kelembapan udara, cahaya Matahari, ketersediaan air, dan unsur hara. Jika kondisi lingkungan yang ada ternyata tidak sesuai dengan kebutuhan anggrek, petani anggrek dapat melakukan perlakuan khusus, agar mendapatkan kondisi yang diharapkan.
Secara alami, anggrek hidup epifit pada pohon dan ranting-ranting tanaman lain, tetapi dalam pertumbuhannya dapat ditumbuhkan dalam pot yang diisi media tertentu. Ada beberapa faktor yang memengaruhi pertumbuhan tanaman. Misalnya, faktor lingkungan yang meliputi cahaya Matahari, kelembapan, dan temperatur serta pemeliharaan, seperti pemupukan, penyiraman, dan pengendalian OPT.
Pada umumnya, anggrek-anggrek yang dibudi dayakan memerlukan temperatur optimum sekitar 28° C dengan temperatur minimum 15° C. Anggrek tanah, umumnya lebih tahan panas daripada anggrek pot. Akan tetapi, temperatur yang tinggi dapat menyebabkan dehidrasi yang menghambat pertumbuhan tanaman.
Kelembapan nisbi (RH) yang diperlukan untuk anggrek berkisar antara 60-85%. Fungsi kelembapan yang tinggi bagi tanaman, antara lain untuk menghindari penguapan yang terlalu tinggi. Pada malam hari, kelembapan harus dijaga agar tidak terlalu tinggi. Bila tidak dijaga, dapat mengakibatkan busuk akar pada tunas-tunas muda. Oleh sebab itu, harus diusahakan agar media dalam pot tidak terlampau basah. Adapun kelembapan yang sangat rendah pada siang hari, dapat diatasi dengan cara pemberian semprotan kabut (mist) di sekitar tempat pertanaman dengan bantuan sprayer.
Berdasarkan pola pertumbuhannya, tanaman anggrek dibedakan menjadi dua tipe yaitu, simpodial dan monopodial. Anggrek tipe simpodial adalah anggrek yang tidak memiliki batang utama, bunga ke luar dari ujung batang, dan berbunga kembali dari anak tanaman yang tumbuh, kecuali pada anggrek jenis Dendrobium sp., yang dapat mengeluarkan tangkai bunga baru pada sisi-sisi batangnya. Contoh dari anggrek tipe simpodial, yaitu Dendrobium sp., Cattleya sp., Oncidium sp., dan Cymbidium sp. Anggrek tipe simpodial pada umumnya bersifat epifit.
Anggrek tipe monopodial adalah anggrek yang dicirikan oleh titik tumbuh yang terdapat pada ujung batang, pertumbuhannnya lurus ke atas pada satu batang, bunga ke luar dari sisi batang di antara dua ketiak daun. Contoh anggrek tipe monopodial, yaitu Vanda sp., Arachnis sp., Renanthera sp., Phalaenopsis sp., dan Aranthera sp.
Habitat tanaman anggrek dibedakan menjadi 4 kelompok, yaitu sebagai berikut.
1. Anggrek epifit, yaitu anggrek yang tumbuh menumpang pada pohon lain, tanpa merugikan tanaman inangnya dan membutuhkan naungan dari cahaya Matahari. Misalnya, Cattleya sp. memerlukan cahaya +40%, Dendrobium sp. 50-60%, Phalaenopsis sp. + 30 %, dan Oncidium sp. 60-75 %.
2. Anggrek terestrial, yaitu anggrek yang tumbuh di tanah dan membutuhkan cahaya Matahari langsung, misalnya Aranthera sp., Renanthera sp., Vanda sp., dan Arachnis sp.
Tanaman anggrek terestrial membutuhkan cahaya Matahari 70- 100 %, dengan suhu siang berkisar antara 19-380C, dan malam hari 18-210C. Adapun untuk anggrek jenis Vanda sp. yang berdaun lebar, memerlukan sedikit naungan.
3. Anggrek litofit, yaitu anggrek yang tumbuh pada batu-batuan, dan tahan terhadap cahaya Matahari penuh, misalnya Dendrobium sp. dan Phalaenopsis sp.
4. Anggrek saprofit, yaitu anggrek yang tumbuh pada media yang mengandung humus atau daun-daun kering, serta membutuhkan sedikit cahaya Matahari, misalnya Goodyera sp.
Setiap jenis tanaman, dalam pertumbuhannya memerlukan kondisi lingkungan yang spesifik. Lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan tanaman akan membuat tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal. Faktor-faktor lingkungan yang memengaruhi lingkungan pertumbuhan tanaman, yaitu suhu udara lingkungan di sekitarnya, intensitas cahaya, kelembapan udara, dan ketersedian unsur hara di dalam tanah. Faktor-faktor tersebut, akan menentukan proses fotosintesis pada tanaman.
Anggrek bukan tumbuhan parasit. Berdasarkan tempat tumbuhnya, anggrek dibedakan menjadi empat macam, yaitu epifit, semi- epifit, terestrik, dan semiterestrik. Anggrek epifit hidup menempel pada batang, dahan atau ranting pohon yang masih hidup maupun yang sudah mati. Anggrek semiepifit tumbuh menempel pada substrat. Sebagian akarnya yang menempel, berfungsi untuk mendapatkan hara di bawah substrat, sedangkan akar aktif lainnya menjuntai di udara. Anggrek semiterestrik hidup dan tumbuh di atas permukaan tanah dan kedudukan seluruh batangnya berada di atas permukaan tanah. Anggrek terestrik tumbuh pada tanah atau media buatan yang diletakkan di tanah pada tempat terbuka.
Faktor lingkungan terpenting yang menentukan pertumbuhan anggrek, menurut Dirjen Pertanian Tanaman Pangan (1990), pada dasarnya meliputi lima aspek, yaitu suhu, kelembapan udara, cahaya Matahari, ketersediaan air, dan unsur hara. Jika kondisi lingkungan yang ada ternyata tidak sesuai dengan kebutuhan anggrek, petani anggrek dapat melakukan perlakuan khusus, agar mendapatkan kondisi yang diharapkan.
Secara alami, anggrek hidup epifit pada pohon dan ranting-ranting tanaman lain, tetapi dalam pertumbuhannya dapat ditumbuhkan dalam pot yang diisi media tertentu. Ada beberapa faktor yang memengaruhi pertumbuhan tanaman. Misalnya, faktor lingkungan yang meliputi cahaya Matahari, kelembapan, dan temperatur serta pemeliharaan, seperti pemupukan, penyiraman, dan pengendalian OPT.
Pada umumnya, anggrek-anggrek yang dibudi dayakan memerlukan temperatur optimum sekitar 28° C dengan temperatur minimum 15° C. Anggrek tanah, umumnya lebih tahan panas daripada anggrek pot. Akan tetapi, temperatur yang tinggi dapat menyebabkan dehidrasi yang menghambat pertumbuhan tanaman.
Kelembapan nisbi (RH) yang diperlukan untuk anggrek berkisar antara 60-85%. Fungsi kelembapan yang tinggi bagi tanaman, antara lain untuk menghindari penguapan yang terlalu tinggi. Pada malam hari, kelembapan harus dijaga agar tidak terlalu tinggi. Bila tidak dijaga, dapat mengakibatkan busuk akar pada tunas-tunas muda. Oleh sebab itu, harus diusahakan agar media dalam pot tidak terlampau basah. Adapun kelembapan yang sangat rendah pada siang hari, dapat diatasi dengan cara pemberian semprotan kabut (mist) di sekitar tempat pertanaman dengan bantuan sprayer.
Berdasarkan pola pertumbuhannya, tanaman anggrek dibedakan menjadi dua tipe yaitu, simpodial dan monopodial. Anggrek tipe simpodial adalah anggrek yang tidak memiliki batang utama, bunga ke luar dari ujung batang, dan berbunga kembali dari anak tanaman yang tumbuh, kecuali pada anggrek jenis Dendrobium sp., yang dapat mengeluarkan tangkai bunga baru pada sisi-sisi batangnya. Contoh dari anggrek tipe simpodial, yaitu Dendrobium sp., Cattleya sp., Oncidium sp., dan Cymbidium sp. Anggrek tipe simpodial pada umumnya bersifat epifit.
Anggrek tipe monopodial adalah anggrek yang dicirikan oleh titik tumbuh yang terdapat pada ujung batang, pertumbuhannnya lurus ke atas pada satu batang, bunga ke luar dari sisi batang di antara dua ketiak daun. Contoh anggrek tipe monopodial, yaitu Vanda sp., Arachnis sp., Renanthera sp., Phalaenopsis sp., dan Aranthera sp.
Habitat tanaman anggrek dibedakan menjadi 4 kelompok, yaitu sebagai berikut.
1. Anggrek epifit, yaitu anggrek yang tumbuh menumpang pada pohon lain, tanpa merugikan tanaman inangnya dan membutuhkan naungan dari cahaya Matahari. Misalnya, Cattleya sp. memerlukan cahaya +40%, Dendrobium sp. 50-60%, Phalaenopsis sp. + 30 %, dan Oncidium sp. 60-75 %.
2. Anggrek terestrial, yaitu anggrek yang tumbuh di tanah dan membutuhkan cahaya Matahari langsung, misalnya Aranthera sp., Renanthera sp., Vanda sp., dan Arachnis sp.
Tanaman anggrek terestrial membutuhkan cahaya Matahari 70- 100 %, dengan suhu siang berkisar antara 19-380C, dan malam hari 18-210C. Adapun untuk anggrek jenis Vanda sp. yang berdaun lebar, memerlukan sedikit naungan.
3. Anggrek litofit, yaitu anggrek yang tumbuh pada batu-batuan, dan tahan terhadap cahaya Matahari penuh, misalnya Dendrobium sp. dan Phalaenopsis sp.
4. Anggrek saprofit, yaitu anggrek yang tumbuh pada media yang mengandung humus atau daun-daun kering, serta membutuhkan sedikit cahaya Matahari, misalnya Goodyera sp.
Keluarga Anggrek
Keluarga Anggrek
Anggrek termasuk dalam keluarga besar Orchidaceae. Bunga ini merupakan tanaman yang dapat tumbuh di mana saja, kecuali di Antartika. Menurut Trubus (1999), di Indonesia terdapat 5000 jenis anggrek alam (spesies) yang telah diketahui. Kondisi ini mengantarkan Indonesia menjadi negara terkaya akan keluarga anggrek. Banyaknya spesies anggrek yang ada, merupakan sumber kekayaan plasma nutfah yang sangat potensial, sehingga berguna untuk mendapatkan silangan-silangan baru (anggrek hibrida). Di seluruh dunia, pada saat ini telah ada 7.500 hibrid anggrek, yang oleh The Royal Horticultural Society (berkedudukan di London), setiap silangan baru terdaftar dalam Orchid Review dan akan dipublikasikan setiap bulannya.
Anggrek termasuk tumbuhan monokotil (berkeping satu) dengan ciri-ciri utama, yaitu daun bertulang lurus, sedangkan petal (daun tajuknya) berjumlah tiga helai. Seperti kita ketahui, keluarga anggrek merupakan kelompok besar, yang sangat beraneka ragam cara tumbuh dan kebiasaan hidupnya. Demikian pula dengan bentuk tanaman, bunga, dan warna bunganya yang sangat bervariasi. Hal ini merupakan sebagai penyesuaian yang sangat menakjubkan dari anggrek terhadap habitatnya yang ada hampir di seluruh dunia.
Anggrek adalah keluarga yang kosmopolit, dari Artik sampai Antartika. Walaupun di daerah kutub jarang tumbuh, tetapi melimpah di daerah tropis. Selain itu, di daerah rawa-rawa dan gurun (ketinggian 0-3000 m) di atas permukaan laut (mdpl), puncak gunung, air, udara terbuka, dan di bawah permukaan tanah sekalipun anggrek dapat hidup.
Anggrek berasal dari famili Orchidaceae yang terdiri dari 15.000-30.000 spesies. Famili ini terdiri dari tiga subfamili, yaitu Orchidaceae, Cypripediodeae, dan Apostasioideae. Pada habitatnya yang alami, anggrek ada yang hidup di pohon (menempel pada batang dan dahan pohon), ada pula yang hidup di atas tanah yang kaya dengan sampah-sampah organik atau daun-daun yang telah berubah menjadi humus.
Anggrek spesies Indonesia banyak yang termasuk anggrek indah, misalnya Vanda tricolor. Anggrek ini banyak terdapat di Jawa Barat dan Kaliurang. Vanda hookeriana berasal dari Sumatera, bunganya berwarna ungu berbintik-bintik sangat menarik. Selain itu, masih banyak lagi jenis anggrek asli dan bagus untuk persilangkan (Soeryowinoto, S.M., 1974).
Anggrek termasuk dalam keluarga besar Orchidaceae. Bunga ini merupakan tanaman yang dapat tumbuh di mana saja, kecuali di Antartika. Menurut Trubus (1999), di Indonesia terdapat 5000 jenis anggrek alam (spesies) yang telah diketahui. Kondisi ini mengantarkan Indonesia menjadi negara terkaya akan keluarga anggrek. Banyaknya spesies anggrek yang ada, merupakan sumber kekayaan plasma nutfah yang sangat potensial, sehingga berguna untuk mendapatkan silangan-silangan baru (anggrek hibrida). Di seluruh dunia, pada saat ini telah ada 7.500 hibrid anggrek, yang oleh The Royal Horticultural Society (berkedudukan di London), setiap silangan baru terdaftar dalam Orchid Review dan akan dipublikasikan setiap bulannya.
Anggrek termasuk tumbuhan monokotil (berkeping satu) dengan ciri-ciri utama, yaitu daun bertulang lurus, sedangkan petal (daun tajuknya) berjumlah tiga helai. Seperti kita ketahui, keluarga anggrek merupakan kelompok besar, yang sangat beraneka ragam cara tumbuh dan kebiasaan hidupnya. Demikian pula dengan bentuk tanaman, bunga, dan warna bunganya yang sangat bervariasi. Hal ini merupakan sebagai penyesuaian yang sangat menakjubkan dari anggrek terhadap habitatnya yang ada hampir di seluruh dunia.
Anggrek adalah keluarga yang kosmopolit, dari Artik sampai Antartika. Walaupun di daerah kutub jarang tumbuh, tetapi melimpah di daerah tropis. Selain itu, di daerah rawa-rawa dan gurun (ketinggian 0-3000 m) di atas permukaan laut (mdpl), puncak gunung, air, udara terbuka, dan di bawah permukaan tanah sekalipun anggrek dapat hidup.
Anggrek berasal dari famili Orchidaceae yang terdiri dari 15.000-30.000 spesies. Famili ini terdiri dari tiga subfamili, yaitu Orchidaceae, Cypripediodeae, dan Apostasioideae. Pada habitatnya yang alami, anggrek ada yang hidup di pohon (menempel pada batang dan dahan pohon), ada pula yang hidup di atas tanah yang kaya dengan sampah-sampah organik atau daun-daun yang telah berubah menjadi humus.
Anggrek spesies Indonesia banyak yang termasuk anggrek indah, misalnya Vanda tricolor. Anggrek ini banyak terdapat di Jawa Barat dan Kaliurang. Vanda hookeriana berasal dari Sumatera, bunganya berwarna ungu berbintik-bintik sangat menarik. Selain itu, masih banyak lagi jenis anggrek asli dan bagus untuk persilangkan (Soeryowinoto, S.M., 1974).
Subscribe to:
Comments (Atom)