Penyakit
1. Busuk hitam (Xanthomonas campestris Down)
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri yan dapat bertahan hidup pada biji, tanah, tanaman inang dan sisa-sisa tanaman yang sakit. Bakteri yang terbawa benih/biji dapat baertahan selama dua tahun.
Gejala diawali dengan terinfeksinya pori-pori air (hidatoda) pada ujung-ujung tepi daun dan mengakibatkan terjadinya klorosis yang meluas sampai ke tengah daun. Kemudian, timbul busuk hitam bersudut membentuk huruf “V”. Pada tulang daun terlihat garis kehitaman, kemudian meluas ke bagian pelepah daun dan batang yang mengakibatkan daun rontok.
Penyebaran penyakit ini adalah melalui aliran irigasi, percikan air hujan dan pergesekan antara tanaman sehat dengan tanaman sakit.
Pengendalian nonkimiawi yaitu dengan mencabut tanaman yang sakit dan memusnahkannya. Untuk mencegahnya gunakan benih yang sehat/rendam benih dalam merkuri klorida (air panas 50-55oC) selama 20-30 menit, penyeleksian benih yang sehat dari persemaian, pengaturaan rotasi yang baik dan hindari terjadinya penularan. Pengendalian secara kimiawi yaitu dengan menggunakan pestisida yang mengandung bahan aktif Kaptafol, Propineb, Mankozeb, dan Maneb.
2. Busuk Lunak (Erwinia carotovora (jones) Holland atau E. carotovora pv. carotovora (jones) Dye)
Patogen penyebab penyakit ini adalah bakteri yang dapat bertahan dalam tanah dan sisa-sisa tanaman. Patogen masuk ke dalan tanaman melalui luka yang ditularkan melalui alat yang digunakan pekerja tidak higienis.
Gejala serangan ditandai dengan terjadinya bercak busuk basah berwarna coklat kehitam-hitaman pada daun, batang, atau crop. Bercak membesar dengan bentuk yang tidak teratur. Jika lingkungan lembab dan suhu tinggi, tingkat serangan meningkat dan bercaknya menjadi berwarna krem serta agak berbutir-butir putih.
Serangan dapat dikurangi dengan memperbaiki drainase tanah, mencabut dan memusnahkan tanaman yang terserang. Penyakit ini merupakan penyakit “lepas panen”, untuk mencegahnya adalah menghindari kerusakan saat panen serta mencuci hasil panen dengan larutan Borax 7.5 %.
3. Penyakit Bercak daun (Alternaria brassicae (Berk.) Sacc..)
Penyebaran Cendawan ini melalui biji, sisa-sisa tanaman sakit dan percikan air hujan. Serangan meningkat pada kondisi lembab dan basah.
Cendawan menyerang daun dengan tanda bintik-bintik hitam yang membentuk gelang-gelang konsentrik (pusat bercak berwarna hitam dan dikelilingi dengan bercak kuning kecoklatan, makin ke tepi makin terang)
Pencegahan dilakukan dengan perlakuan benih dengan merendam dalam air panas 50oC selama 30 menit sebelim disemaikan. Secara kimiawi dapat diatasi dengan fungisida yang mengandung bahan aktif benomil atau mankozeb.
4. Penyakit rebah semai atau rebah kecambah (damfing off)
Penyebabnya adalah cendawan Phytium debaryonum dan Rhizoctonia solani Kuhn. Cendawan menyerang bibit di persemaian. Bagian yang diserang adalah pangkal batang dan akar sehingga mengakibatkan busuk kering berwarna abu-abu kehitam-hitaman dan mengakibatkan bibit menjadi layu/rebah. Pencegahan dilakukan dengan menggunakan persemaian yang bebas patogen dan melakukan sterilisasi media persemaian.
5. Akar pekuk/akar gada (Plasmodiophora brasicae Wor.)
Penyakit ini disebabkan oleh cendawan yang manjadi parasit akar dan menyebabkan pertumbuhan akar berlebih (hipertrophy) sehingga akar tidak mampu menyerap zat hara. Penyebaran terjadi melalui aliran irigasi, alat-alat pertanian, binatang, dan tanaman inang (Cruciferae). Penyakit ini timbul pada tanah yang pHnya kurang dari 7, suhu tinggi, kelembaban lebih dari 50 %. Cendawan dapat bertahan selama tujuh tahun.
Gejala awal, yaitu dengan terbentuknya puru (galls) di daerah perakaran yang bentuk dan ukurannya tidak beraturan mirip gada. Tanaman di atas permukaan tanah tampak layu pada siang hari dan segar kembali pada malam harinya. Lama-kelamaan, pertumbuhan tanaman menjadi kerdil dan akhirnya akan mati.
Penyakit ini dicegah dengan perendaman benih dalam larutan ekstrak umbi ataupun daun bawang putih 8 % selama dua jam, sterilisasi media dengan dikukus/menggunakan fungisida, pengapuran tanah sebanyak 2-4 ton per hektar 15-30 hari sebelum tanam dan pergiliran tanaman.
Wednesday, 19 October 2016
Hama Tanaman Pak Choy
Hama
Jenis hama yang mengganggu pada tanaman Pak Choy adalah sebagai berikut :
1. Plutella Xylostella (P. maculipennis)
Imagonya berupa ngengat kecil berwarna coklat kelabu. Pada sayap depan terdapat tanda “tiga berlian” yang berupa gelombang. Pada ngengat betina warna tiga berlian tersebut terlihat lebih gelap. Siklus hidup hama ini ± 21 hari , ngengat aktif pada senja dan malam hari. Stadium yang paling membahayakan adalah larva (ulat).
Gambar Ngengat
Tanaman inang hama ini adalah tanaman kubis-kubisan. Gejala ditandai dengan terdapatnya lubang-lubang kecil pada daun. Pada tingkat serangan yang cukup berat, daun-daun hanya tinggal tulangnya. Serangan yang berat terjadi pada musim kemarau.
Pengendalian secara kultur teknis yaitu dengan melakukan pergiliran tanam dengan tanaman yang tidak sefamili. Pengendalian secara biologi dilakukan denan melepaskan musuh alami hama ini, yaitu Diadegma eucerophaga, Cotesia plutella kurdj.,dan Diadegma semiclausum. Pengendalian secara kimiawi menggunakan pestisida selektif, seperti Dipel, Thuricide, Bactospeine ULV, Delfin WP, Florbac FC, Centari dan Agrimec 18 EC.
2. Ulat jengkal (Chrysodeixis chalcites Esp. dan C. orichalcea L.)
Hama ini berupa nengat berwarna gelap dan terdapat bintik-bintik keemasan berbentuk “Y” pada sayap depan. Telurnya kecil berwarna keputih-putihan, diletakkan pada daun tanaman inang satu-satu atau berkelompok. Larva berwarna hijau dengan garis-garis putih di sisinya. Siklus hidupnya berlangsung 18-24 hari. Ciri khas ulat jengkal adalah cara jalannya seperti menjengkal, meskipun sebenarnya ulat ini mempunyai tungkai palsu pada abdomen.
Gambar 6 Ulat Jengkal
Hama ini bersifat polibag, selain famili Cruciferae tanaman syuran lainnya juga merupakan tanaman inangnya. Akibat serangan hama ini adalah daun rusak berlubang-lubang, sehingga menurunkan kuantitas dan kualitas sayuran.
Pengendalian non kimiawi dilakukan dengan cara melakukan penanaman yang serempak dan pergiliran tanaman. Secara kimiawi pengendalian dilakukan dengan menyemparotkan insektisida yang bahan aktifnya Profenopos (Curacron 500 EC) atau Deltametrin (Decis 2.5 EC).
3. Ulat tanah (Agritis ipsilon Hufn.)
Imago berwana hitam keabu-abuan dengan sayap berwarna kelabu dengan tanda hitam sampai coklat. Ulat berwarna hitam atau hitam keabu-abuan aktif merusak tanaman pada malam hari dan memiliki sifat kanibal. Siang hari, ulat bersembunyi dekat batang tanaman yang diserang. Daur hidupnya 6-8 minggu.
Tanaman inang utama adalah famili Cruciferae, tomat serta jenis sayuran lainnya. Menyerang hebat di musim kemarau.
Ulat tanah memekan daun dan memotong titik tumbuh (pucuk kecambah atau tanaman muda yang baru muncul di permukaan tanah. Gejala serangan ditandai dengan rebahnya tanaman atau tangkai bibit yang baru ditanam, karena dipotong pada bagian pangkalnya dan tanaman yang terserang menjadi layu.
Pengendalian nonkimiawi dilakukan dengan mengumpulkan ulat-ulat tersebut, kemudian membunuhnya, menjaga kebersihan kebun agar tidak menjadi sarang ulat tersebut, serta menggunakan pupuk kandang yang sudah matang dan bebas hama penyakit. Selain itu pengolahan tanah 1-2 minggu sebelum tanam dapat mencegah berkembangnya hama ini. Secara kimiawi, yaitu dengan menggunakan insektisida yang bahan aktifnya triklorfin (misalnya Dipterex 95 SP), menaburkan Furadan 3G pada media saat pengolahan tanah atau penyemprotan lubang tanam dengan Sherpa 50 EC atau Ambush 2 EC.
Gambar Ulat tanah
4. Ulat Krop
Ulat krop sering menyerang daun hingga daun tinggal tersisa tulang-tulangnya saja. Ulat ini akan menggulung daun dan memakannya. Dari luar, tanaman tampak sehat Namun setelah diperiksa, bagian daun sebelah dalam habis dimakan.
Gambar Ulat Krop
Gambar Ulat Krop
5. Ulat Tritip
Ulat ini memakan daging daun sehingga daun tinggal kulit arinya saja. Hama ini sering disebut hama putih karena daun yang diserang menjadi berwarna putih.
Ulat ini pada saat baru menetas memiliki ciri tubuh berwarna hijau cerah. Kepalanya berwarna hitam. Panjang tubuhnya sekitar 1,2 mm. Ulat yang telah dewasa tubuhnya berwarna hijau atau hijau cerah. kepalanya berwarna lebih pucat dan terdapat bintik coklat. Panjang tubuhnya dapat mencapai 8 hingga 11 mm. Pada tubuhnya terdapat bulu.
Gambar Ulat Tritip
6. Ulat Grayak
Ulat grayak sangat dikenal petani. Hal ini karena ulat ini menyerang hampir semua jenis tanaman sayuran. Ulat grayak yang masih muda memiliki ciri-ciri tubuh berwarna kehijauan. Ulat yang telah dewasa tubuhnya berwarna kecoklatan atau abu-abu gelap, berbintik-bintik hitam, dan pada bagian punggung bergaris memanjang berwarna keputihan.
Gambar Ulat Grayak
7. Siput
Siput adalah hama pemakan daun. Hewan ini bertubuh lunak. Siput banyak jenisnya tetapi yang banyak menyerang tanaman sayuran adalah siput yang bercangkang atau dikenal dengan bekicot.
Siput biasanya menyerang tanaman yang masih muda. Hewan ini memakan daun, sehingga daun berlubang tidak merata. Siput menyerang tanaman pada malam hari.
Gambar Siput
Jenis hama yang mengganggu pada tanaman Pak Choy adalah sebagai berikut :
1. Plutella Xylostella (P. maculipennis)
Imagonya berupa ngengat kecil berwarna coklat kelabu. Pada sayap depan terdapat tanda “tiga berlian” yang berupa gelombang. Pada ngengat betina warna tiga berlian tersebut terlihat lebih gelap. Siklus hidup hama ini ± 21 hari , ngengat aktif pada senja dan malam hari. Stadium yang paling membahayakan adalah larva (ulat).
Gambar Ngengat
Tanaman inang hama ini adalah tanaman kubis-kubisan. Gejala ditandai dengan terdapatnya lubang-lubang kecil pada daun. Pada tingkat serangan yang cukup berat, daun-daun hanya tinggal tulangnya. Serangan yang berat terjadi pada musim kemarau.
Pengendalian secara kultur teknis yaitu dengan melakukan pergiliran tanam dengan tanaman yang tidak sefamili. Pengendalian secara biologi dilakukan denan melepaskan musuh alami hama ini, yaitu Diadegma eucerophaga, Cotesia plutella kurdj.,dan Diadegma semiclausum. Pengendalian secara kimiawi menggunakan pestisida selektif, seperti Dipel, Thuricide, Bactospeine ULV, Delfin WP, Florbac FC, Centari dan Agrimec 18 EC.
2. Ulat jengkal (Chrysodeixis chalcites Esp. dan C. orichalcea L.)
Hama ini berupa nengat berwarna gelap dan terdapat bintik-bintik keemasan berbentuk “Y” pada sayap depan. Telurnya kecil berwarna keputih-putihan, diletakkan pada daun tanaman inang satu-satu atau berkelompok. Larva berwarna hijau dengan garis-garis putih di sisinya. Siklus hidupnya berlangsung 18-24 hari. Ciri khas ulat jengkal adalah cara jalannya seperti menjengkal, meskipun sebenarnya ulat ini mempunyai tungkai palsu pada abdomen.
Gambar 6 Ulat Jengkal
Hama ini bersifat polibag, selain famili Cruciferae tanaman syuran lainnya juga merupakan tanaman inangnya. Akibat serangan hama ini adalah daun rusak berlubang-lubang, sehingga menurunkan kuantitas dan kualitas sayuran.
Pengendalian non kimiawi dilakukan dengan cara melakukan penanaman yang serempak dan pergiliran tanaman. Secara kimiawi pengendalian dilakukan dengan menyemparotkan insektisida yang bahan aktifnya Profenopos (Curacron 500 EC) atau Deltametrin (Decis 2.5 EC).
3. Ulat tanah (Agritis ipsilon Hufn.)
Imago berwana hitam keabu-abuan dengan sayap berwarna kelabu dengan tanda hitam sampai coklat. Ulat berwarna hitam atau hitam keabu-abuan aktif merusak tanaman pada malam hari dan memiliki sifat kanibal. Siang hari, ulat bersembunyi dekat batang tanaman yang diserang. Daur hidupnya 6-8 minggu.
Tanaman inang utama adalah famili Cruciferae, tomat serta jenis sayuran lainnya. Menyerang hebat di musim kemarau.
Ulat tanah memekan daun dan memotong titik tumbuh (pucuk kecambah atau tanaman muda yang baru muncul di permukaan tanah. Gejala serangan ditandai dengan rebahnya tanaman atau tangkai bibit yang baru ditanam, karena dipotong pada bagian pangkalnya dan tanaman yang terserang menjadi layu.
Pengendalian nonkimiawi dilakukan dengan mengumpulkan ulat-ulat tersebut, kemudian membunuhnya, menjaga kebersihan kebun agar tidak menjadi sarang ulat tersebut, serta menggunakan pupuk kandang yang sudah matang dan bebas hama penyakit. Selain itu pengolahan tanah 1-2 minggu sebelum tanam dapat mencegah berkembangnya hama ini. Secara kimiawi, yaitu dengan menggunakan insektisida yang bahan aktifnya triklorfin (misalnya Dipterex 95 SP), menaburkan Furadan 3G pada media saat pengolahan tanah atau penyemprotan lubang tanam dengan Sherpa 50 EC atau Ambush 2 EC.
Gambar Ulat tanah
4. Ulat Krop
Ulat krop sering menyerang daun hingga daun tinggal tersisa tulang-tulangnya saja. Ulat ini akan menggulung daun dan memakannya. Dari luar, tanaman tampak sehat Namun setelah diperiksa, bagian daun sebelah dalam habis dimakan.
Gambar Ulat Krop
Gambar Ulat Krop
5. Ulat Tritip
Ulat ini memakan daging daun sehingga daun tinggal kulit arinya saja. Hama ini sering disebut hama putih karena daun yang diserang menjadi berwarna putih.
Ulat ini pada saat baru menetas memiliki ciri tubuh berwarna hijau cerah. Kepalanya berwarna hitam. Panjang tubuhnya sekitar 1,2 mm. Ulat yang telah dewasa tubuhnya berwarna hijau atau hijau cerah. kepalanya berwarna lebih pucat dan terdapat bintik coklat. Panjang tubuhnya dapat mencapai 8 hingga 11 mm. Pada tubuhnya terdapat bulu.
Gambar Ulat Tritip
6. Ulat Grayak
Ulat grayak sangat dikenal petani. Hal ini karena ulat ini menyerang hampir semua jenis tanaman sayuran. Ulat grayak yang masih muda memiliki ciri-ciri tubuh berwarna kehijauan. Ulat yang telah dewasa tubuhnya berwarna kecoklatan atau abu-abu gelap, berbintik-bintik hitam, dan pada bagian punggung bergaris memanjang berwarna keputihan.
Gambar Ulat Grayak
7. Siput
Siput adalah hama pemakan daun. Hewan ini bertubuh lunak. Siput banyak jenisnya tetapi yang banyak menyerang tanaman sayuran adalah siput yang bercangkang atau dikenal dengan bekicot.
Siput biasanya menyerang tanaman yang masih muda. Hewan ini memakan daun, sehingga daun berlubang tidak merata. Siput menyerang tanaman pada malam hari.
Gambar Siput
Bertanam Pak Choy di Dalam Pot
Budidaya Dalam Pot
Pada luasan lahan yang terbatas (sempit) Pak Choy dapat dibudidayakan dalam pot. Pak Choy mempunyai sistem perakaran yang menyebar ke semua arah dengan kedalaman antara 30 sampai 50 cm. Dengan kondisi perakaran seperti itu, pot yang akan digunakan memiliki tinggi minimal 30 cm agar pertumbuhan akan dapat berlangsung secara normal. Namun, menurut pengalaman yang telah dipraktikan oleh trubus tinggi pot yang dapat digunakan minimal 10 cm.
Jenis pot yang digunakan dapat berupa pot tunggal atau atau pot horizontal. Selain pot-pot yang dijual dipasaran, barang bekas, seperti kaleng cat yang besar juga dapat dimanfaatkan sebagai pot.
Gambar Pot dari kaleng minimal ketinggian 10 cm
Tahapan kegiatan budidaya meliputi pembuatan persemaian, persiapan media tanam, penanaman serta pemeliharaan tanaman. Persemaian dibuat dalam bak plastik kecil yang datar. Media yang digunakan untuk persemaian merupakan campuran tanah kebun yang telah diayak dengan pupuk kandang atau pasir yang dicampur pupuk kandang dengan perbandingan 2:1. Alternatif media selain campuran tersebut adalah campuran pasir, tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 2:1:2. Sebelum disebar benih direndam air hangat selama satu jam untuk mencegah kemungkinan terdapatnya bibit penyakit pada biji. Selain itu bisa juga direndam dengan zat pengatur tumbuh agar benih lebih cepat berkecambah.
Media yang digunakan sebagai media tanam untuk budidaya dalam pot adalah campuran abu sekam dan pupuk kandang, abu sampah dengan pupuk kandang, pasir dan pupuk kandang, gambut dan pupuk kandang, humus sampah rumah tangga dengan tanah atau pasir, dengan perbandingan 1:1 atau 2:1. Alternatif lain campuran tanah dengan pupu kandang dengan perbandingan 3:1. Untuk menambah kuliatas media dapat ditambahkan pupuk NPK sebanyak satu sendok makan untuk polibag berukuran 3 x 35 cm.
Penanaman dilakukan segera setelah tanaman berumur 10-15 hari setelah semai. Sebelum penanaman media yang disiapkan sebaiknya disiram terlebih dahulu.
Pemeliharaan mulai dilakukan sejak tanaman mulai dipindah ke dalam pot. Kegiatan ini hampir sama dengan pemeliharaan pada budidaya di kebun. Untuk pemupukan diberikan dengan frekuensi yang lebih rutin. Hal ini dikarenakan tanaman Pak Choy berumur singkat dengan pertumbuhan yang cepat, sehingga membutuhkan suplai makanan yang banyak untuk mengimbangi pertumbuhannya.
Pupuk susulan pertama diberikan saat tanaman berumur 10-14 hari setelah tanam. Pemberian ini diulang setiap 7-10 hari. Pemupukan dapat dilakukan bersamaan dengan penyiraman yaitu dengan cara mencampurkan pupuk dengan air untuk menyiram. Larutan sebaiknya disemprotkan ke dalam media agar tidak terlalu banyak yang terbuang. Penyemprotan campuran pupuk dilakukan sampai media cukup basah.
Pada pemupukan susulan kedua dapat ditambahkan KCL dengan jumlah yang sama dengan urea. Selain menyuburkan tanah KCl juga dapat meningkatkan kualitas daun. Dosis yang digunakan 20 gram urea atau ZA yang dilarutkan ke dalam 10 liter air. Pemberian pupuk tidak boleh berlebih kerena akan mengakibatkan tanaman hangus terbakar.
Pada luasan lahan yang terbatas (sempit) Pak Choy dapat dibudidayakan dalam pot. Pak Choy mempunyai sistem perakaran yang menyebar ke semua arah dengan kedalaman antara 30 sampai 50 cm. Dengan kondisi perakaran seperti itu, pot yang akan digunakan memiliki tinggi minimal 30 cm agar pertumbuhan akan dapat berlangsung secara normal. Namun, menurut pengalaman yang telah dipraktikan oleh trubus tinggi pot yang dapat digunakan minimal 10 cm.
Jenis pot yang digunakan dapat berupa pot tunggal atau atau pot horizontal. Selain pot-pot yang dijual dipasaran, barang bekas, seperti kaleng cat yang besar juga dapat dimanfaatkan sebagai pot.
Gambar Pot dari kaleng minimal ketinggian 10 cm
Tahapan kegiatan budidaya meliputi pembuatan persemaian, persiapan media tanam, penanaman serta pemeliharaan tanaman. Persemaian dibuat dalam bak plastik kecil yang datar. Media yang digunakan untuk persemaian merupakan campuran tanah kebun yang telah diayak dengan pupuk kandang atau pasir yang dicampur pupuk kandang dengan perbandingan 2:1. Alternatif media selain campuran tersebut adalah campuran pasir, tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 2:1:2. Sebelum disebar benih direndam air hangat selama satu jam untuk mencegah kemungkinan terdapatnya bibit penyakit pada biji. Selain itu bisa juga direndam dengan zat pengatur tumbuh agar benih lebih cepat berkecambah.
Media yang digunakan sebagai media tanam untuk budidaya dalam pot adalah campuran abu sekam dan pupuk kandang, abu sampah dengan pupuk kandang, pasir dan pupuk kandang, gambut dan pupuk kandang, humus sampah rumah tangga dengan tanah atau pasir, dengan perbandingan 1:1 atau 2:1. Alternatif lain campuran tanah dengan pupu kandang dengan perbandingan 3:1. Untuk menambah kuliatas media dapat ditambahkan pupuk NPK sebanyak satu sendok makan untuk polibag berukuran 3 x 35 cm.
Penanaman dilakukan segera setelah tanaman berumur 10-15 hari setelah semai. Sebelum penanaman media yang disiapkan sebaiknya disiram terlebih dahulu.
Pemeliharaan mulai dilakukan sejak tanaman mulai dipindah ke dalam pot. Kegiatan ini hampir sama dengan pemeliharaan pada budidaya di kebun. Untuk pemupukan diberikan dengan frekuensi yang lebih rutin. Hal ini dikarenakan tanaman Pak Choy berumur singkat dengan pertumbuhan yang cepat, sehingga membutuhkan suplai makanan yang banyak untuk mengimbangi pertumbuhannya.
Pupuk susulan pertama diberikan saat tanaman berumur 10-14 hari setelah tanam. Pemberian ini diulang setiap 7-10 hari. Pemupukan dapat dilakukan bersamaan dengan penyiraman yaitu dengan cara mencampurkan pupuk dengan air untuk menyiram. Larutan sebaiknya disemprotkan ke dalam media agar tidak terlalu banyak yang terbuang. Penyemprotan campuran pupuk dilakukan sampai media cukup basah.
Pada pemupukan susulan kedua dapat ditambahkan KCL dengan jumlah yang sama dengan urea. Selain menyuburkan tanah KCl juga dapat meningkatkan kualitas daun. Dosis yang digunakan 20 gram urea atau ZA yang dilarutkan ke dalam 10 liter air. Pemberian pupuk tidak boleh berlebih kerena akan mengakibatkan tanaman hangus terbakar.
Pemeliharaan Tanaman Pak Choy
Pemeliharaan
Kegiatan pemeliharaan meliputi penyiraman, penyiangan, penyulaman, pemberian pupuk susulan, dan pengendalian hama/penyakit tanaman.
1. Penyiraman
Penyiraman dilakukan dengan frekuensi 1-2 kali sehari. Terutama jika cuaca cukup panas atau pada musim kemarau. Waktu penyiraman dapat dilakukan pada pagi atau sore hari mengunakan gembor, selang, atau dengan cara dileb. Jika penyiraman dilakukan satu kali, maka penyiraman sebaiknya dilakukan pada sore hari. Hal ini dikarenakan pada malam hari suhu tidak terlalu tinggi sehingga hilangnya air karena penguapan relatif rendah.
2. Penyiangan
Pada setiap areal pertanaman selalu ada tanaman lain selain tanaman yang kita tanam (gulma). Terutama pada lahan yang tidak diberi mulsa. Jika hal tersebut dibiarkan maka tanaman kita akan mengalami persaingan dalam memperebutkan air dan hara dalam tanah. Oleh karena itu, untuk memberantas gulma tersebut perlu dilakukan penyiangan. Penyiangan dapat dilakukan 1-2 kali bersamaan dengan pemberian pupuk susulan, yaitu dengan cara mencabut gulma tersebut dengan tangan atau menggunakan alat seperti kored, parang dan cangkul. Kegiatan ini juga sekaligus untuk menggemburkan tanah di sekitar tanaman. Biasanya kegiatan ini dilakukan saat tanaman berumur dua dan empat minggu setelah tanam.
3. Penyulaman
Terkadang tidak semua bibit yang kita tanam tumbuh dengan baik. Ada bibit yang dipindahtanamkan mengalami kegagalan pertumbuhan. Untuk itu, tanaman yang mati tersebut harus kita ganti dengan tanaman yang baru agar hasil panennya tidak berkurang.
Penyulaman dilakukan seminggu setelah bibit ditanam di kebun. Caranya adalah dengan membersihkan tempat tanaman yang mati itu. Lalu disitu kita beri Furadan 0,5 gr bila dipandang perlu. Kemudian bibit yang baru ditanam pada lubang tersebut. Lalu diurug dengan tanah.
Agar plertumbuhan tanaman yang baru sama dengan tanmaan lainnya yang tidak disulam, gunakanlah bibit yang berumur sama dengan tanaman yang tidak disulam.
Gambar Penyulaman
4. Pemupukan
Pak Choy merupakan tanaman sayuran daun. Produksi yang diharapkan adalah daun yang berwarna hijau, segar dan renyah bila dikonsumsi. Pemupukan merupakan salah satu cara agar hal tersebut dapat tercapai. Pemberian pupuk dilakukan sebelum tanam sebagai pupuk dasar dan sesudah tanam sebagai pupuk susulan.
Pupuk susulan dilakukan sebanyak dua kali, yaitu saat tanaman berumur dua dan empat mingu setelah tanam. Dosis pupuk yang diberikan per hektar adalah 400-500 kg ZA, 200-300 kg SP dan 100-200 kg ZK. Pupuk diberikan dengan cara ditaburkan pada larikan antar tanaman atau secara melingkar pada setiap tanaman dengan jarak 15-20 cm dari pangkal batang dan dalamnya 10-15 cm. Setelah itu, pupuk ditutup dengan tanah untuk menghindari hilangnya pupuk dari lahan karena penguapan atau terbawa air hujan.
Di samping dosis yang digunakan, hal lain yang perlu diperhatikan dalam pemupukan adalah kondisi cuaca dan kondisi tanaman. Hal ini diperlukan agar tidak terjadi pemborosan pupuk karena pupuk yang diberikan terbuang atau tidak sesuai dengan kebutuhan tanaman.
Gambar 4 Tata Cara Pemupukan
Kondisi cuaca merupakan faktor yang menentukan keberhasilan suatu aplikasi pemupukan. Pada hari akan hujan tidak boleh dilakukan pemupukan karena air hujan dapat mengakibatkan hanyutnya pupuk sehingga pupuk terbuang percuma dan tidak sempat dimanfaatkan oleh tanaman. Untuk jenis pupuk yang mudah menguap, pemupukan sebaiknya tidak dilakukan pada saat terik matahari. Pemupukan yang baik dilakukan sebelum pukul 19.00 atau sesudah pukul 15.00. Jika tanaman berada dalam naungan yang tidak memungkinkan sinar matahari terik atau cuaca tidak panas, maka pemupukan dapat dilakukan.
Pada setiap fase, tanaman membutuhkan jumlah hara yang berbeda. Pemberian pupuk yang berlebihan akan menyebabkan keracunan pada tanaman sehingga dapat menganggu pertumbuhan tanaman. Pada tanaman Pak Choy diharapkan tanaman berada dalam fase vegetatif, untuk mencegah tanaman memasuki fase generatif dapat dilakukan dengan memberikan pupuk yang mengandung Nitrogen (N) tinggi secara terus-menerus.
Penyemprotan pestisida untuk mengendalikan serangan hama/penyakit dialakukan sesuai dengan tingkat serangan. Kegiatan ini dihentikan 2 minggu sebelum tanaman dipenen.
Kegiatan pemeliharaan meliputi penyiraman, penyiangan, penyulaman, pemberian pupuk susulan, dan pengendalian hama/penyakit tanaman.
1. Penyiraman
Penyiraman dilakukan dengan frekuensi 1-2 kali sehari. Terutama jika cuaca cukup panas atau pada musim kemarau. Waktu penyiraman dapat dilakukan pada pagi atau sore hari mengunakan gembor, selang, atau dengan cara dileb. Jika penyiraman dilakukan satu kali, maka penyiraman sebaiknya dilakukan pada sore hari. Hal ini dikarenakan pada malam hari suhu tidak terlalu tinggi sehingga hilangnya air karena penguapan relatif rendah.
2. Penyiangan
Pada setiap areal pertanaman selalu ada tanaman lain selain tanaman yang kita tanam (gulma). Terutama pada lahan yang tidak diberi mulsa. Jika hal tersebut dibiarkan maka tanaman kita akan mengalami persaingan dalam memperebutkan air dan hara dalam tanah. Oleh karena itu, untuk memberantas gulma tersebut perlu dilakukan penyiangan. Penyiangan dapat dilakukan 1-2 kali bersamaan dengan pemberian pupuk susulan, yaitu dengan cara mencabut gulma tersebut dengan tangan atau menggunakan alat seperti kored, parang dan cangkul. Kegiatan ini juga sekaligus untuk menggemburkan tanah di sekitar tanaman. Biasanya kegiatan ini dilakukan saat tanaman berumur dua dan empat minggu setelah tanam.
3. Penyulaman
Terkadang tidak semua bibit yang kita tanam tumbuh dengan baik. Ada bibit yang dipindahtanamkan mengalami kegagalan pertumbuhan. Untuk itu, tanaman yang mati tersebut harus kita ganti dengan tanaman yang baru agar hasil panennya tidak berkurang.
Penyulaman dilakukan seminggu setelah bibit ditanam di kebun. Caranya adalah dengan membersihkan tempat tanaman yang mati itu. Lalu disitu kita beri Furadan 0,5 gr bila dipandang perlu. Kemudian bibit yang baru ditanam pada lubang tersebut. Lalu diurug dengan tanah.
Agar plertumbuhan tanaman yang baru sama dengan tanmaan lainnya yang tidak disulam, gunakanlah bibit yang berumur sama dengan tanaman yang tidak disulam.
Gambar Penyulaman
4. Pemupukan
Pak Choy merupakan tanaman sayuran daun. Produksi yang diharapkan adalah daun yang berwarna hijau, segar dan renyah bila dikonsumsi. Pemupukan merupakan salah satu cara agar hal tersebut dapat tercapai. Pemberian pupuk dilakukan sebelum tanam sebagai pupuk dasar dan sesudah tanam sebagai pupuk susulan.
Pupuk susulan dilakukan sebanyak dua kali, yaitu saat tanaman berumur dua dan empat mingu setelah tanam. Dosis pupuk yang diberikan per hektar adalah 400-500 kg ZA, 200-300 kg SP dan 100-200 kg ZK. Pupuk diberikan dengan cara ditaburkan pada larikan antar tanaman atau secara melingkar pada setiap tanaman dengan jarak 15-20 cm dari pangkal batang dan dalamnya 10-15 cm. Setelah itu, pupuk ditutup dengan tanah untuk menghindari hilangnya pupuk dari lahan karena penguapan atau terbawa air hujan.
Di samping dosis yang digunakan, hal lain yang perlu diperhatikan dalam pemupukan adalah kondisi cuaca dan kondisi tanaman. Hal ini diperlukan agar tidak terjadi pemborosan pupuk karena pupuk yang diberikan terbuang atau tidak sesuai dengan kebutuhan tanaman.
Gambar 4 Tata Cara Pemupukan
Kondisi cuaca merupakan faktor yang menentukan keberhasilan suatu aplikasi pemupukan. Pada hari akan hujan tidak boleh dilakukan pemupukan karena air hujan dapat mengakibatkan hanyutnya pupuk sehingga pupuk terbuang percuma dan tidak sempat dimanfaatkan oleh tanaman. Untuk jenis pupuk yang mudah menguap, pemupukan sebaiknya tidak dilakukan pada saat terik matahari. Pemupukan yang baik dilakukan sebelum pukul 19.00 atau sesudah pukul 15.00. Jika tanaman berada dalam naungan yang tidak memungkinkan sinar matahari terik atau cuaca tidak panas, maka pemupukan dapat dilakukan.
Pada setiap fase, tanaman membutuhkan jumlah hara yang berbeda. Pemberian pupuk yang berlebihan akan menyebabkan keracunan pada tanaman sehingga dapat menganggu pertumbuhan tanaman. Pada tanaman Pak Choy diharapkan tanaman berada dalam fase vegetatif, untuk mencegah tanaman memasuki fase generatif dapat dilakukan dengan memberikan pupuk yang mengandung Nitrogen (N) tinggi secara terus-menerus.
Penyemprotan pestisida untuk mengendalikan serangan hama/penyakit dialakukan sesuai dengan tingkat serangan. Kegiatan ini dihentikan 2 minggu sebelum tanaman dipenen.
Penanaman Bibit Pak Choy
Penanaman bibit
Setelah benih tumbuh di persemaian, langkah selanjutnya adalah penanaman bibit di lahan terbuka. Pada kegiatan ini ada beberapa tahap yang dilakukan.
1. Pemindahan Bibit dan Penyeleksian Bibit
Pemindahan bibit pada tahap ini merupakan pemindahan kedua kalinya setelah pemindahan bibit dari kotak ke polibag. Agar pertumbuhannya baik, sebaiknya kita memilih bibit yang tubuh baik, batang dan daunnya segar dan tidak rusak.
Pemindahan bibit dari polibag sebaiknya dilakukan dengan cara menyobekkan polibag. Dengan demikian, tanahnya akan ikut tertanam dan akarnya tidak rusak.
Gambar memindahkan bibit dari polibag ke kebun
Kemudian, bibit yang berada di kotak persemaian dapat dilakukan dengan dicabut secara hati-hati. Namun, sebelumnya, tanah diberi air agar pada saat pencabutan, tanah tidak menahan akar.
Cara lain yang lebih aman adalah dengan bantuan sendok tanah. Bibit diangkat beserta tanahnya. Cara ini sangat aman dilakukan karena akar tidak akan terganggu.
Gambar bibit dicongkel dengan sendok
2. Pengaturan Jarak Tanam
Jarak tanam yang dapat digunakan adalah 2,5-10 cm dalam barisan untuk varietas yang kecil atau maksimal 45 cm untuk varietas yang besar, jarak antarbarisan yaitu antara 15-30 cm.
Jarak tanam yang terlalu rapat akan membuat daerah sekitarnya menjadi lembap. Hal ini karena sinar matahari sangat kurang. Akibatnya, akan memancing tumbuhnya organisme pengganggu. Selain itu, padatnya jarak tanam akan menimbulkan persaingan antartanaman dalam menyerap sari-sari makanan. Akibatnya, pertumbuhan tanaman kurang sempurna.
Gambar pengaturan jarak tanam
3. Cara Penanaman
Waktu penanaman sebaiknya pada awal musim hujan atau akhir musim hujan agar tanaman tidak kekurangan air pada fase awal pertumbuhannya di kebun. Namun demikian, dapat pula ditanam pada musim kemarau dengan syarat kebutuhan air tercukupi.
Sebelum penanaman lahan diberi pengairan. Kemudian dibuatlah lubang tanam dengan melubangi mulsa plastik. Cara melubangi mulsa adalah dengan menggunakan kaleng yang telah dipanaskan.
Gambar Cara melubangi mulsa
Adapun diameter lubang sekitar 8 cm dan dalamnya lubang sekitar 10 cm.
Setelah benih tumbuh di persemaian, langkah selanjutnya adalah penanaman bibit di lahan terbuka. Pada kegiatan ini ada beberapa tahap yang dilakukan.
1. Pemindahan Bibit dan Penyeleksian Bibit
Pemindahan bibit pada tahap ini merupakan pemindahan kedua kalinya setelah pemindahan bibit dari kotak ke polibag. Agar pertumbuhannya baik, sebaiknya kita memilih bibit yang tubuh baik, batang dan daunnya segar dan tidak rusak.
Pemindahan bibit dari polibag sebaiknya dilakukan dengan cara menyobekkan polibag. Dengan demikian, tanahnya akan ikut tertanam dan akarnya tidak rusak.
Gambar memindahkan bibit dari polibag ke kebun
Kemudian, bibit yang berada di kotak persemaian dapat dilakukan dengan dicabut secara hati-hati. Namun, sebelumnya, tanah diberi air agar pada saat pencabutan, tanah tidak menahan akar.
Cara lain yang lebih aman adalah dengan bantuan sendok tanah. Bibit diangkat beserta tanahnya. Cara ini sangat aman dilakukan karena akar tidak akan terganggu.
Gambar bibit dicongkel dengan sendok
2. Pengaturan Jarak Tanam
Jarak tanam yang dapat digunakan adalah 2,5-10 cm dalam barisan untuk varietas yang kecil atau maksimal 45 cm untuk varietas yang besar, jarak antarbarisan yaitu antara 15-30 cm.
Jarak tanam yang terlalu rapat akan membuat daerah sekitarnya menjadi lembap. Hal ini karena sinar matahari sangat kurang. Akibatnya, akan memancing tumbuhnya organisme pengganggu. Selain itu, padatnya jarak tanam akan menimbulkan persaingan antartanaman dalam menyerap sari-sari makanan. Akibatnya, pertumbuhan tanaman kurang sempurna.
Gambar pengaturan jarak tanam
3. Cara Penanaman
Waktu penanaman sebaiknya pada awal musim hujan atau akhir musim hujan agar tanaman tidak kekurangan air pada fase awal pertumbuhannya di kebun. Namun demikian, dapat pula ditanam pada musim kemarau dengan syarat kebutuhan air tercukupi.
Sebelum penanaman lahan diberi pengairan. Kemudian dibuatlah lubang tanam dengan melubangi mulsa plastik. Cara melubangi mulsa adalah dengan menggunakan kaleng yang telah dipanaskan.
Gambar Cara melubangi mulsa
Adapun diameter lubang sekitar 8 cm dan dalamnya lubang sekitar 10 cm.
Persemaian Tanaman Pak Choy
Persemaian
Persemaian sangat penting karena hasil akhir ditentukan oleh kondisi tanaman di persemaian.. Tahap ini dilakukan agar benih berada dalam kondisi yang memungkinkan untuk tumbuh menjadi individu baru. Sehingga dapat menghemat benih dan menggurangi kematian bibit muda pada awal fase pertumbuhan maupun pada saat tanaman dipindahkan. Kegiatan ini berlangsung sampai tanaman membentuk 4-5 helai daun (± satu bulan). Banyaknya benih yang diperlukan untuk luasan satu hektar adalah 500-800 gram, tergantung teknik budidaya yang diterapkan dan jarak tanam yang digunakan.
Tempat persemaian disiapkan pada bedengan dengan lebar 1-1.2 m dan panjang disesuaikan dengan kebutuhan. Benih ditaburkan pada alur tanam yang telah disiapkan dan ditutup dengan tanah tipis setebal 0.5-1 cm. Untuk merangsang perkecambahan benih tutup persemaian dengan karung goni basah atau daun pisang selama 1-2 hari. Dengan demikian, kelembaban tanah menjadi tinggi sehingga benih tidak mengalami kekeringan. Setelah benih mulai berkecambah tutup dapat segera dibuka. Selain menyemai dalam alur-alur (barisan) penyemaian dapat dilakukan dengan cara menyebarkan benih secara merata di tempat persemaian yang telah disiapkan.
Tanaman yang masih muda tidak tahan terhadap hujan yang lebat atau sinar matahari secara langsung , untuk itu maka termpat persemaian perlu diberi naungan. Naungan bisa dari bahan plastik bening, rumbia atau anyaman daun kelapa. Agar tanaman dapat memperoleh matahari pagi maka naungan dibuat dengan meninggikan bagian sebelah timur. Tinggi tiang penyangga naungan disebelah barat berukuran 0.6-0.8 meter dan sebelah timur 1-1.5 meter.
Setelah tanaman berumur 10-15 hari setelah semai, tanaman dijarangkan (dipindah semaikan) pada lahan persemaian lain atau dibumbung pada polybag kecil berukuaran 8 x 10 cm (daun pisang dengan ukuran 5 x 5 x 5 cm). Hal ini bertujuan agar tanaman dapat hidup dengan normal karena tidak terjadi kompetisi yang terlalu berat dengan tanaman lainnya untuk memperoleh makanan. Dengan pemindahan tanaman pada lahan persemaian lain, diperlukan bedengan baru yang sama dengan bedengan pada persemaian sebelumnya. Jarak tanam yang digunakan di lahan tersebut adalah 5 x 10 cm.
Pada bibit yang dipindahsemaikan dalam polybag, media semai yang digunakan adalah campuran tanah dengan pupuk kandang yang telah matang dan diayak dengan perbandingan 1 : 1. Polybag/daun pisang diisi dengan media tersebut kemudian satu bibit ditanam pada polybag atau bumbung daun pisang tersebut. Setelah itu disimpan pada bedengan yang telah diberi peneduh.
Pada kedua cara tersebut jika dilihat dari segi kondisi tanaman setelah pemindahan maka pemindahan pada polybag/bumbungan dinilai lebih baik. Dengan disemai pada polibag akan diperoleh tanaman yang pertumbuhan akarnya tidak terganggu, karena penanaman dilakukan dengan media tanamnya. Sedangkan pada persemaian di lahan tanaman membutuhkan waktu untuk penyembuhan akar dan kemungkinan tanaman terserang penyakit besar. Hal ini dikarenakan pemindahan dilakukan dengan cara mencabut tanaman yang mengakibatkan adanya akar-akar yang terputus.
Selama dipersemaian, pemeliharaan dilakukan secara intensif terutama dalam penyiraman yang dilakukan 1-2 kali sehari. Selain itu juga dilakukan pemupukan dengan dosis 10 gram/10 liter air yang disiramkan setelah tanaman berumur lima hari setelah penyapihan/pembumbungan. Apabila ada serangan hama/penyakit yang dianggap dapat membahayakan pertanaman maka dilakukan penyemprotan pestisida selektif dengan dosis 30-50 % dari dosis anjuran.
Persemaian sangat penting karena hasil akhir ditentukan oleh kondisi tanaman di persemaian.. Tahap ini dilakukan agar benih berada dalam kondisi yang memungkinkan untuk tumbuh menjadi individu baru. Sehingga dapat menghemat benih dan menggurangi kematian bibit muda pada awal fase pertumbuhan maupun pada saat tanaman dipindahkan. Kegiatan ini berlangsung sampai tanaman membentuk 4-5 helai daun (± satu bulan). Banyaknya benih yang diperlukan untuk luasan satu hektar adalah 500-800 gram, tergantung teknik budidaya yang diterapkan dan jarak tanam yang digunakan.
Tempat persemaian disiapkan pada bedengan dengan lebar 1-1.2 m dan panjang disesuaikan dengan kebutuhan. Benih ditaburkan pada alur tanam yang telah disiapkan dan ditutup dengan tanah tipis setebal 0.5-1 cm. Untuk merangsang perkecambahan benih tutup persemaian dengan karung goni basah atau daun pisang selama 1-2 hari. Dengan demikian, kelembaban tanah menjadi tinggi sehingga benih tidak mengalami kekeringan. Setelah benih mulai berkecambah tutup dapat segera dibuka. Selain menyemai dalam alur-alur (barisan) penyemaian dapat dilakukan dengan cara menyebarkan benih secara merata di tempat persemaian yang telah disiapkan.
Tanaman yang masih muda tidak tahan terhadap hujan yang lebat atau sinar matahari secara langsung , untuk itu maka termpat persemaian perlu diberi naungan. Naungan bisa dari bahan plastik bening, rumbia atau anyaman daun kelapa. Agar tanaman dapat memperoleh matahari pagi maka naungan dibuat dengan meninggikan bagian sebelah timur. Tinggi tiang penyangga naungan disebelah barat berukuran 0.6-0.8 meter dan sebelah timur 1-1.5 meter.
Setelah tanaman berumur 10-15 hari setelah semai, tanaman dijarangkan (dipindah semaikan) pada lahan persemaian lain atau dibumbung pada polybag kecil berukuaran 8 x 10 cm (daun pisang dengan ukuran 5 x 5 x 5 cm). Hal ini bertujuan agar tanaman dapat hidup dengan normal karena tidak terjadi kompetisi yang terlalu berat dengan tanaman lainnya untuk memperoleh makanan. Dengan pemindahan tanaman pada lahan persemaian lain, diperlukan bedengan baru yang sama dengan bedengan pada persemaian sebelumnya. Jarak tanam yang digunakan di lahan tersebut adalah 5 x 10 cm.
Pada bibit yang dipindahsemaikan dalam polybag, media semai yang digunakan adalah campuran tanah dengan pupuk kandang yang telah matang dan diayak dengan perbandingan 1 : 1. Polybag/daun pisang diisi dengan media tersebut kemudian satu bibit ditanam pada polybag atau bumbung daun pisang tersebut. Setelah itu disimpan pada bedengan yang telah diberi peneduh.
Pada kedua cara tersebut jika dilihat dari segi kondisi tanaman setelah pemindahan maka pemindahan pada polybag/bumbungan dinilai lebih baik. Dengan disemai pada polibag akan diperoleh tanaman yang pertumbuhan akarnya tidak terganggu, karena penanaman dilakukan dengan media tanamnya. Sedangkan pada persemaian di lahan tanaman membutuhkan waktu untuk penyembuhan akar dan kemungkinan tanaman terserang penyakit besar. Hal ini dikarenakan pemindahan dilakukan dengan cara mencabut tanaman yang mengakibatkan adanya akar-akar yang terputus.
Selama dipersemaian, pemeliharaan dilakukan secara intensif terutama dalam penyiraman yang dilakukan 1-2 kali sehari. Selain itu juga dilakukan pemupukan dengan dosis 10 gram/10 liter air yang disiramkan setelah tanaman berumur lima hari setelah penyapihan/pembumbungan. Apabila ada serangan hama/penyakit yang dianggap dapat membahayakan pertanaman maka dilakukan penyemprotan pestisida selektif dengan dosis 30-50 % dari dosis anjuran.
Persiapan Lahan Penanaman Pak Choy
Persiapan lahan
Lahan atau tempat budidaya terdiri dari dua macam, yaitu lahan untuk penyemaian benih dan lahan untuk penanaman bibit.
1. Tempat Penyemaian Benih
Untuk menyemaikan benih kita perlu melakukannya secara terpisah. Tempat untuk persemaian biji ada tiga jenis, yaitu tempat persemaian permanen, tempat persemaian semi permanen, dan tempat persemaian tidak permanen.
Tempat persemaian permanen adalah tempat persemaian bersifat tetap dan digunakan berkali-kali. Tempat persemaian seperti ini banyak digunakan oleh petani berskala besar. Bahan-bahan yang dapat digunakan untuk tipe persemaian permanen adalah bahan bangunan seperti semen, pasir, kapur, batu bata, kayu atau best untuk penyangga atap/ plastik polos atau yang bergelombang untuk atap. Kemudian dengan bahan-bahan tersebut dibuat kotak yang berukuran lebar 120 cm, tinggi kotak 25 cm, dan panjangnya disesuaikan dengan keadaan lahannya.
Tipe persemaian semi permanen adalah merupakan tipe yang hanya dapat digunakan beberapa kali saja. Bahan yang digunakan untuk membuat tempat persemaian ini dapat berupa papan kayu atau berupa anyaman bambu. Ukurannya dapat dibuat bervariasi, yaitu 1 x 1 m atau 1 x 2 m/ dan lain-lain. Sedangkan tinggi kotak adalah 25 cm. Bentuk tempat persemaian berupa kotak bujur sangkar atau empat persegi panjang.
Tempat persemaian tidak permanen adalah merupakan tempat persemaian yang pemakaiannya hanya untuk satu kali tanam saja. dan setelah itu harus dibuat lagi. Penggunaan tipe ini biayanya lebih rendah dan sangat efisien untuk usaha tani kecil yang masih berjangka pendek. Tempat persemaian tipe ini (tidak permanen) di buat langsung di tanah areal pertanaman. Tanah dibentuk bedeng-bedeng dan parit-parit. Tinggi bedeng 20 - 30cm, lebarnya 100 - 120 cm, danpanjangnya disesuaikan dengan keadaan lahannya.
Gambar Tempat persemaian
2. Persiapan Lahan untuk Penanaman Bibit
Untuk pembesaran bibit perludi siapkan lahan penjarangan/lahan pembesaran. Lahan yang diperlukan adalah sebidang tanah yang luasnya sesuai dengan kebutuhan.
Lahan tersebut tidak dapat digunakan begitu saja. Kita perlu melakukan penanganan khusus terhadap lahan tersebut. Mengingat penanganannya memerlukan waktu yang lama sebaiknya dipersiapkan sebelumnya. Penanganan lahan akan memakan waktu selama 25 hari.
Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.
a. Pengolahan lahan
Langkah pertama adalah mencangkul lahan. Pencangkulan dilakukan untuk menggemburkan tanah supaya tidak padat dan keras. Kemudian, memindahkan bagian tanah dalam menjadi di permukaan tanah. Penggemburan dilakukan pada lahan sedalam 40 cm. Kemudian, lahan dibiarkan selama satu minggu.
Tanah tersebut dibiarkan agar tanah terkena sinar matahari. Dengan demikian, sumber penyakit yang ada di dalam tanah dapat terbunuh.
Setelah satu minggu, kembali tanah digemburkan. Kemudian, kali ini lahan dibuat bedengan. Bedengan dibuat mengarah ke timur-barat. Hal ini dilakukan agar cahaya matahari dapat menerobos seluruh tanaman secara merata.
Gambar Bedengan
b. Pengapuran
Pengapuran dilakukan untuk menaikkan pH tanah. PH tanah yang semula 6 sebaiknya ditingkatkan menjadi 6,5 hingga 7. Selain untuk meningkatkan pH tanah, pengapuran berfungsi juga untuk memperbaiki struktur tanah. Hal ini dapat mendorong aktivitas mikroorganisme tanah untuk membantu proses penguraian bahan organik. Dengan demikian, unsur hara tanah segera terbentuk.
Pengapuran tanah umumnya menggunakan dolomit. Untuk menaikkah pH tanah sebesar 0,1 diperlukan kapur dolomit sekitar 312/Ha. Cara pengapuran adalah melakukan penaburan secara merata di permukaan tanah.
Gambar Pengapuran
c. Pemupukan dasar
Pemupukan dilakukan bersamaan dengan pengolahan tanah. Pemupukan dilakukan dengan memberi pupuk kandang, kompos, atau pupuk hijau. Adapun dosis pupuk kandang yang diberikan adalah 10-20 ton/ha.
d. Pemasangan mulsa
Mulsa adalah plastik hitam yang digunakan untuk menutup permukaan tanah. Pemberian mulsa dilakukan untuk menjaga kelembapan tanah. Secara umum, pemberian mulsa dilakukan untuk:
1) melindungi bedengan dari curah hujan.
2) mempertahankan kelembapan tanah
3) mencegah tumbuhnya gulma
4) mencegah hanyutnya pupuk saat terjadi hujan
5) mengubah iklim mikro di sekitar tanaman.
6) menjaga tanah agar tetap gembur
7) mengatasi penyakit busuk hitam
Gambar pemberian mulsa
Lahan atau tempat budidaya terdiri dari dua macam, yaitu lahan untuk penyemaian benih dan lahan untuk penanaman bibit.
1. Tempat Penyemaian Benih
Untuk menyemaikan benih kita perlu melakukannya secara terpisah. Tempat untuk persemaian biji ada tiga jenis, yaitu tempat persemaian permanen, tempat persemaian semi permanen, dan tempat persemaian tidak permanen.
Tempat persemaian permanen adalah tempat persemaian bersifat tetap dan digunakan berkali-kali. Tempat persemaian seperti ini banyak digunakan oleh petani berskala besar. Bahan-bahan yang dapat digunakan untuk tipe persemaian permanen adalah bahan bangunan seperti semen, pasir, kapur, batu bata, kayu atau best untuk penyangga atap/ plastik polos atau yang bergelombang untuk atap. Kemudian dengan bahan-bahan tersebut dibuat kotak yang berukuran lebar 120 cm, tinggi kotak 25 cm, dan panjangnya disesuaikan dengan keadaan lahannya.
Tipe persemaian semi permanen adalah merupakan tipe yang hanya dapat digunakan beberapa kali saja. Bahan yang digunakan untuk membuat tempat persemaian ini dapat berupa papan kayu atau berupa anyaman bambu. Ukurannya dapat dibuat bervariasi, yaitu 1 x 1 m atau 1 x 2 m/ dan lain-lain. Sedangkan tinggi kotak adalah 25 cm. Bentuk tempat persemaian berupa kotak bujur sangkar atau empat persegi panjang.
Tempat persemaian tidak permanen adalah merupakan tempat persemaian yang pemakaiannya hanya untuk satu kali tanam saja. dan setelah itu harus dibuat lagi. Penggunaan tipe ini biayanya lebih rendah dan sangat efisien untuk usaha tani kecil yang masih berjangka pendek. Tempat persemaian tipe ini (tidak permanen) di buat langsung di tanah areal pertanaman. Tanah dibentuk bedeng-bedeng dan parit-parit. Tinggi bedeng 20 - 30cm, lebarnya 100 - 120 cm, danpanjangnya disesuaikan dengan keadaan lahannya.
Gambar Tempat persemaian
2. Persiapan Lahan untuk Penanaman Bibit
Untuk pembesaran bibit perludi siapkan lahan penjarangan/lahan pembesaran. Lahan yang diperlukan adalah sebidang tanah yang luasnya sesuai dengan kebutuhan.
Lahan tersebut tidak dapat digunakan begitu saja. Kita perlu melakukan penanganan khusus terhadap lahan tersebut. Mengingat penanganannya memerlukan waktu yang lama sebaiknya dipersiapkan sebelumnya. Penanganan lahan akan memakan waktu selama 25 hari.
Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.
a. Pengolahan lahan
Langkah pertama adalah mencangkul lahan. Pencangkulan dilakukan untuk menggemburkan tanah supaya tidak padat dan keras. Kemudian, memindahkan bagian tanah dalam menjadi di permukaan tanah. Penggemburan dilakukan pada lahan sedalam 40 cm. Kemudian, lahan dibiarkan selama satu minggu.
Tanah tersebut dibiarkan agar tanah terkena sinar matahari. Dengan demikian, sumber penyakit yang ada di dalam tanah dapat terbunuh.
Setelah satu minggu, kembali tanah digemburkan. Kemudian, kali ini lahan dibuat bedengan. Bedengan dibuat mengarah ke timur-barat. Hal ini dilakukan agar cahaya matahari dapat menerobos seluruh tanaman secara merata.
Gambar Bedengan
b. Pengapuran
Pengapuran dilakukan untuk menaikkan pH tanah. PH tanah yang semula 6 sebaiknya ditingkatkan menjadi 6,5 hingga 7. Selain untuk meningkatkan pH tanah, pengapuran berfungsi juga untuk memperbaiki struktur tanah. Hal ini dapat mendorong aktivitas mikroorganisme tanah untuk membantu proses penguraian bahan organik. Dengan demikian, unsur hara tanah segera terbentuk.
Pengapuran tanah umumnya menggunakan dolomit. Untuk menaikkah pH tanah sebesar 0,1 diperlukan kapur dolomit sekitar 312/Ha. Cara pengapuran adalah melakukan penaburan secara merata di permukaan tanah.
Gambar Pengapuran
c. Pemupukan dasar
Pemupukan dilakukan bersamaan dengan pengolahan tanah. Pemupukan dilakukan dengan memberi pupuk kandang, kompos, atau pupuk hijau. Adapun dosis pupuk kandang yang diberikan adalah 10-20 ton/ha.
d. Pemasangan mulsa
Mulsa adalah plastik hitam yang digunakan untuk menutup permukaan tanah. Pemberian mulsa dilakukan untuk menjaga kelembapan tanah. Secara umum, pemberian mulsa dilakukan untuk:
1) melindungi bedengan dari curah hujan.
2) mempertahankan kelembapan tanah
3) mencegah tumbuhnya gulma
4) mencegah hanyutnya pupuk saat terjadi hujan
5) mengubah iklim mikro di sekitar tanaman.
6) menjaga tanah agar tetap gembur
7) mengatasi penyakit busuk hitam
Gambar pemberian mulsa
Mengenal Tanaman Pak Choy
Sekilas Mengenai Pak Choy
Pak Choy merupakan tanaman asli wilayah timur Asia yang telah dibudidayakan selama ribuan tahun. Sayuran ini menjadi populer di Inggris pada tahun 1800 dan pada tahun 1900 di Amerika. Tanaman yang dibudidayakan memiliki batang yang tebal dan lembut serta berwarna putih yang merupakan tangkai daun dan tulang daun utama. Daun berwarna hijau tua dengan tulang daun berwarna putih. Ada juga varietas yang batangnya berwarna hijau.
Pak Choy populer dikalangan masyarakat keturunan cina. Dari segi rasa, sayuran ini memiliki rasa yang tidak berbeda jauh dengan sawi. Klasifikasi tanaman Pak Choy adalah sebagai berikut.
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Angiospermae
Sub Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Papavorales/Brassicales
Famili : Cruciferae/Brassicaceae
Genus : Brassica
Spesies : Brassica oleracea
B. rapa
B. campestris
B. juncea
Barassica rapa terdiri dari dua varietas yaitu varietas pekinensis dan varietas chinensis. Perbedaan dari kedua varietas tersebut adalah varietas pekinensis membentuk crop sedangkan varietas chinensis tidak membentuk crop. Barassica rapa var pekinensis dikenal deengan nama petsai. Barassica rapa var chinensis dikenal dengan nama Pak Choy.
Keragaman varietas yang sudah dan siap di pasaran disajikan pada tabel 1.
Tabel 1
Berbagai varietas Pak Choy hibrida dan non hibrida
Yang diproduksi oleh perusahaan benih dunia
Jenis Umur Panen Berat Crop Negara Asal
dan Varietas (HST) (kg) (Perusahaan)
A. Pak Choy hibrida
1. Green boy 34-40 Hungnong Seed (Korea)
2. Green fortune Takii Seed (Jepang)
3. Joi choi Sakata seed
(Jepang)
4. Mei Qing Choi
5. Top bunch
6.Fun lee 30 0.2 Known You Seed
(Taiwan)
7.white light
B. Pak Choy non hibrida
1. Green Pak Choy Hungnong Seed
(Korea)
2. White Pak Choy
3. Pak-Choy Green 40 Takii Seed
(Jepang)
4. Pak-Choy White
5. Pak-Choy Slow Bolt
6. Taisai
7. Tsao-Sim 40
8. Ching Chiang 40 Known You Seed
(Korea)
9. Gracious 45
10 Shanghai Pak Choy Sakata Seed
(Jepang)
11. Chinese Pak Choy
12. Canton Pak Choy (CPC)
13. CPC Dwarf type
B. Botani Tanaman Pak Choy
Secara umum famili cruciferae memiliki sifat morfologi yang hampir sama terutama perakaran, struktur batang, bunga, buah (polong) maupun bijinya.
Sistem perakaran famili cruciferae adalah akar tunggang (radix primoria), cabang akar berbentuk bulat panjang (silindris) menyebar ke semua arah pada kedalaman antara 30-50 cm. Perakaran tersebut berfungsi sebagai pengangkut air dan zat makanan dari tanah dan menguatkan berdirinya batang tanaman.
Batang (caulis) sangat pendek dan beruas-ruas tetapi hampir tidak kelihatan. Fungsinya sebagai alat pembentuk dan penopang daun. Daun berwarna hijau tua yang mengelompok di bagian atas dengan batang berwarna putih atau hijau yang sukulen, tidak membentuk crop. Dibandingkan dengan sawi, tanaman ini lebih pendek, tangkai daun lebar dan kokoh, tulang daun dan daun mirip Pak Choy, akan tetapi daun lebih tebal.
Gambar1.1 Pak Choy Green
Bunga tersusun dalam tiga tangkai bunga yang tumbuh memanjang ke atas dan bercabang banyak. Tiap kuntum bunga terdiri dari 4 helai daun kelopak, 4 helai daun mahkota bunga yang berwarna kuning cerah. 4 buah benang sari dan satu buah putik dengan bakal buah berongga dua. Untuk merangsang pembungaan dilakukan vernalisasi yaitu perlakuan suhu dingin 5 C-10oC pada biji selama 3-4 minggu. Tanaman ini memiliki tipe buah polong yang bentuknya memanjang dan berongga. Tiap polong berisi 2-8 butir biji. Biji berwarna coklat/coklat kehitam-hitaman berbentuk bulat kecil.
Gambar 1.2. Pak Choy White
C. Syarat pertumbuhan
Pak Choy merupakan tanaman dataran tinggi, sehingga untuk dapat tumbuh dengan baik membutuhkan suhu yang cukup rendah. Suhu yang baik untuk pertumbuhan Pak Choy adalah 15 dan 20° C. Pada suhu diatas 24oC dapat mengakibatkan tanaman terbakar pada bagian pucuknya temperatur yang hangat mendukung tanaman agar berada dalam fase vegetatif. Panjang hari sangat berpengaruh terhadap tanaman. Hari pendek dengan temperatur yang hangat mendukung tanaman agar berada dalam fase vegetatif.
Tanaman ini membutuhkan air yang banyak dengan darainase yang baik, kondisi tanah harus lembab dengan pH 6.5-7. Pak choy sensitif terhadap kondisi tanah yang memiliki pH di bawah 6. Tanah yang subur, gembur, dan banyak humus sangat baik untuk pertumbuhan tanaman. Dengan banyaknya bahan organik dalam tanah dapat menyimpan air yang cukup bagi tanaman.
Kondisi lingkungan yang buruk pada pertanaman akan berakibat buruk bagi tanaman. Suhu yang tinggi dengan kelembaban yang rendah dapat menyebabkan tanaman menjadi lebih kecil dan akhirnya produksi yang dihasilkanpun menjadi rendah.
Pak Choy merupakan tanaman asli wilayah timur Asia yang telah dibudidayakan selama ribuan tahun. Sayuran ini menjadi populer di Inggris pada tahun 1800 dan pada tahun 1900 di Amerika. Tanaman yang dibudidayakan memiliki batang yang tebal dan lembut serta berwarna putih yang merupakan tangkai daun dan tulang daun utama. Daun berwarna hijau tua dengan tulang daun berwarna putih. Ada juga varietas yang batangnya berwarna hijau.
Pak Choy populer dikalangan masyarakat keturunan cina. Dari segi rasa, sayuran ini memiliki rasa yang tidak berbeda jauh dengan sawi. Klasifikasi tanaman Pak Choy adalah sebagai berikut.
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Angiospermae
Sub Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Papavorales/Brassicales
Famili : Cruciferae/Brassicaceae
Genus : Brassica
Spesies : Brassica oleracea
B. rapa
B. campestris
B. juncea
Barassica rapa terdiri dari dua varietas yaitu varietas pekinensis dan varietas chinensis. Perbedaan dari kedua varietas tersebut adalah varietas pekinensis membentuk crop sedangkan varietas chinensis tidak membentuk crop. Barassica rapa var pekinensis dikenal deengan nama petsai. Barassica rapa var chinensis dikenal dengan nama Pak Choy.
Keragaman varietas yang sudah dan siap di pasaran disajikan pada tabel 1.
Tabel 1
Berbagai varietas Pak Choy hibrida dan non hibrida
Yang diproduksi oleh perusahaan benih dunia
Jenis Umur Panen Berat Crop Negara Asal
dan Varietas (HST) (kg) (Perusahaan)
A. Pak Choy hibrida
1. Green boy 34-40 Hungnong Seed (Korea)
2. Green fortune Takii Seed (Jepang)
3. Joi choi Sakata seed
(Jepang)
4. Mei Qing Choi
5. Top bunch
6.Fun lee 30 0.2 Known You Seed
(Taiwan)
7.white light
B. Pak Choy non hibrida
1. Green Pak Choy Hungnong Seed
(Korea)
2. White Pak Choy
3. Pak-Choy Green 40 Takii Seed
(Jepang)
4. Pak-Choy White
5. Pak-Choy Slow Bolt
6. Taisai
7. Tsao-Sim 40
8. Ching Chiang 40 Known You Seed
(Korea)
9. Gracious 45
10 Shanghai Pak Choy Sakata Seed
(Jepang)
11. Chinese Pak Choy
12. Canton Pak Choy (CPC)
13. CPC Dwarf type
B. Botani Tanaman Pak Choy
Secara umum famili cruciferae memiliki sifat morfologi yang hampir sama terutama perakaran, struktur batang, bunga, buah (polong) maupun bijinya.
Sistem perakaran famili cruciferae adalah akar tunggang (radix primoria), cabang akar berbentuk bulat panjang (silindris) menyebar ke semua arah pada kedalaman antara 30-50 cm. Perakaran tersebut berfungsi sebagai pengangkut air dan zat makanan dari tanah dan menguatkan berdirinya batang tanaman.
Batang (caulis) sangat pendek dan beruas-ruas tetapi hampir tidak kelihatan. Fungsinya sebagai alat pembentuk dan penopang daun. Daun berwarna hijau tua yang mengelompok di bagian atas dengan batang berwarna putih atau hijau yang sukulen, tidak membentuk crop. Dibandingkan dengan sawi, tanaman ini lebih pendek, tangkai daun lebar dan kokoh, tulang daun dan daun mirip Pak Choy, akan tetapi daun lebih tebal.
Gambar1.1 Pak Choy Green
Bunga tersusun dalam tiga tangkai bunga yang tumbuh memanjang ke atas dan bercabang banyak. Tiap kuntum bunga terdiri dari 4 helai daun kelopak, 4 helai daun mahkota bunga yang berwarna kuning cerah. 4 buah benang sari dan satu buah putik dengan bakal buah berongga dua. Untuk merangsang pembungaan dilakukan vernalisasi yaitu perlakuan suhu dingin 5 C-10oC pada biji selama 3-4 minggu. Tanaman ini memiliki tipe buah polong yang bentuknya memanjang dan berongga. Tiap polong berisi 2-8 butir biji. Biji berwarna coklat/coklat kehitam-hitaman berbentuk bulat kecil.
Gambar 1.2. Pak Choy White
C. Syarat pertumbuhan
Pak Choy merupakan tanaman dataran tinggi, sehingga untuk dapat tumbuh dengan baik membutuhkan suhu yang cukup rendah. Suhu yang baik untuk pertumbuhan Pak Choy adalah 15 dan 20° C. Pada suhu diatas 24oC dapat mengakibatkan tanaman terbakar pada bagian pucuknya temperatur yang hangat mendukung tanaman agar berada dalam fase vegetatif. Panjang hari sangat berpengaruh terhadap tanaman. Hari pendek dengan temperatur yang hangat mendukung tanaman agar berada dalam fase vegetatif.
Tanaman ini membutuhkan air yang banyak dengan darainase yang baik, kondisi tanah harus lembab dengan pH 6.5-7. Pak choy sensitif terhadap kondisi tanah yang memiliki pH di bawah 6. Tanah yang subur, gembur, dan banyak humus sangat baik untuk pertumbuhan tanaman. Dengan banyaknya bahan organik dalam tanah dapat menyimpan air yang cukup bagi tanaman.
Kondisi lingkungan yang buruk pada pertanaman akan berakibat buruk bagi tanaman. Suhu yang tinggi dengan kelembaban yang rendah dapat menyebabkan tanaman menjadi lebih kecil dan akhirnya produksi yang dihasilkanpun menjadi rendah.
Thursday, 22 September 2016
Penanaman dan Pemeliharaan Anggrek
Penanaman dan Pemeliharaan
1. Persiapan Lahan
Tanaman anggrek dapat ditanam di sekitar rumah, pekarangan, dan kebun, yaitu di bawah pohon atau dengan naungan yang diberi paranet atau sejenisnya, dengan pengaturan intensitas cahaya tertentu atau di lahan terbuka. Karena tanaman anggrek mempunyai potensi ekonomis yang tinggi, untuk jenis-jenis tertentu dapat ditanam di dalam rumah kaca (green house). Selain untuk melindungi tanaman dari gangguan alam, juga akan mengurangi intensitas serangan OPT.
2. Persiapan Media Tumbuh
Media tumbuh yang baik harus memenuhi beberapa persyaratan, yaitu tidak lekas melapuk, tidak menjadi sumber penyakit, mempunyai aerasi yang baik, mampu mengikat air dan unsur hara secara baik, mudah didapat dalam jumlah yang diinginkan, dan harganya relatif murah. Sampai saat ini, belum ada media yang memenuhi semua persyaratan untuk pertumbuhan tanaman anggrek.
Untuk pertumbuhan tanaman anggrek, kemasaman media (pH) yang baik, berkisar antara 5-6. Media tumbuh sangat penting untuk pertumbuhan dan produksi bunga optimal, sehingga perlu adanya usaha mencari media tumbuh yang sesuai. Media tumbuh yang sering digunakan di Indonesia, yaitu moss, pakis, serutan kayu, potongan kayu, serabut kelapa, arang, dan kulit pinus. Pecahan batu-bata banyak dipakai sebagai media dasar pot anggrek karena dapat menyerap air lebih banyak dibandingkan dengan pecahan genting.
Selain itu, media pecahan batu-bata digunakan sebagai dasar pot karena mempunyai kemampuan drainase dan aerasi yang baik. Moss yang mengandung 2-3% unsur N, sudah lama digunakan untuk medium tumbuh anggrek. Media moss mempunyai kemampuan mengikat air yang baik, serta mempunyai aerasi dan drainase yang baik pula.
Pakis sesuai untuk media anggrek karena memiliki daya mengikat air, aerasi dan drainase yang baik, melapuk secara perlahan-lahan, serta mengandung unsur hara yang dibutuhkan anggrek untuk pertumbuhannya.
Serabut kelapa mudah melapuk dan mudah busuk, sehingga dapat menjadi sumber penyakit, tetapi daya simpan airnya sangat baik dan mengandung unsur hara yang diperlukan serta mudah didapat dan harganya murah. Ketika menggunakan serabut kelapa sebagai media tumbuh, sebaiknya dipilih serabut kelapa yang sudah tua.
Media tumbuh sabut kelapa, pakis, dan moss merupakan media tumbuh yang baik untuk pertumbuhan tanaman anggrek Phalaenopsis sp. Akan tetapi, bila pakis dan moss yang tumbuh di hutan ini diambil secara terus-menerus untuk digunakan sebagai media tumbuh, dikhawatirkan keseimbangan ekosistem akan terganggu.
Serutan kayu atau potongan kayu kurang sesuai untuk media anggrek walaupun memiliki aerasi dan drainase yang baik, tetapi daya simpan airnya kurang baik, serta miskin unsur N. Proses pelapukan berlangsung lambat karena kayu banyak mengandung senyawa-senyawa yang sulit terdekomposisi, seperti selulosa, lignin, dan hemiselulosa.
Media serutan kayu jati merupakan media tumbuh yang baik untuk pertumbuhan anggrek Aranthera James Storie. Pecahan arang kayu tidak lekas lapuk, tidak mudah ditumbuhi cendawan dan bakteri, tetapi sukar mengikat air dan miskin zat hara. Namun, arang cukup baik untuk media anggrek.
Penggunaan media baru (repotting) dapat dilakukan, bila mengalami hal-hal sebagai berikut.
a. Bila ditanam dalam pot (wadah) sudah terlalu padat atau banyak tunasnya.
b. Medium lama sudah hancur, sehingga medium bersifat asam dan dapat menjadi sumber penyakit.
3. Penyiraman
Tanaman anggrek yang sedang aktif tumbuh, membutuhkan lebih banyak air dibandingkan dengan yang sudah berbunga. Frekuensi dan banyaknya air siraman yang diberikan pada tanaman anggrek bergantung pada jenis, besar kecil ukuran tanaman, dan keadaan lingkungan pertanaman. Contohnya, tanaman anggrek Vanda sp., Arachnis sp., dan Renanthera sp., yaitu anggrek tipe monopodial yang tumbuh di bawah cahaya Matahari langsung, sehingga membutuhkan penyiraman lebih dari dua kali sehari, terutama pada musim kemarau.
4. Pemupukan
Seperti tumbuhan lainnya, anggrek membutuhkan makanan untuk mempertahankan hidupnya. Kebutuhan tanaman anggrek akan nutrisi sama dengan tumbuhan lainnya, hanya anggrek membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memperlihatkan gejala-gejala defisiensi (yang tidak baik), mengingat pertumbuhan anggrek sangat lambat.
Dalam usaha budi daya tanaman anggrek, habitatnya tidak cukup mampu menyediakan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh tanaman untuk pertumbuhan. Untuk mengatasi hal tersebut, biasanya tanaman diberi pupuk, baik organik maupun anorganik. Pupuk yang digunakan umumnya pupuk majemuk, yaitu yang mengandung unsur makro dan mikro.
Kualitas dan kuantitas pupuk dapat mengatur keseimbangan pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman. Pada fase pertumbuhan vegetatif, bagi tanaman yang masih kecil, perbandingan pemberian pupuk NPK adalah 30 : 10 : 10. Adapun pada fase pertumbuhan vegetatif, bagi tanaman yang berukuran sedang, perbandingan pemberian pupuk NPK adalah 10 : 10 : 10. Sebaliknya, pada fase pertumbuhan generatif, yaitu untuk merangsang pembungaan, perbandingan pemberian pupuk NPK adalah 10 : 30 : 30.
Jika dilakukan pemupukan ke dalam pot, hanya pupuk yang larut dalam air dan kontak langsung dengan ujung akar yang akan diambil oleh anggrek, sisanya akan tetap berada dalam pot. Pemupukan pada sore hari, menunjukkan respon pertumbuhan yang baik pada anggrek Dendrobium sp.
1. Persiapan Lahan
Tanaman anggrek dapat ditanam di sekitar rumah, pekarangan, dan kebun, yaitu di bawah pohon atau dengan naungan yang diberi paranet atau sejenisnya, dengan pengaturan intensitas cahaya tertentu atau di lahan terbuka. Karena tanaman anggrek mempunyai potensi ekonomis yang tinggi, untuk jenis-jenis tertentu dapat ditanam di dalam rumah kaca (green house). Selain untuk melindungi tanaman dari gangguan alam, juga akan mengurangi intensitas serangan OPT.
2. Persiapan Media Tumbuh
Media tumbuh yang baik harus memenuhi beberapa persyaratan, yaitu tidak lekas melapuk, tidak menjadi sumber penyakit, mempunyai aerasi yang baik, mampu mengikat air dan unsur hara secara baik, mudah didapat dalam jumlah yang diinginkan, dan harganya relatif murah. Sampai saat ini, belum ada media yang memenuhi semua persyaratan untuk pertumbuhan tanaman anggrek.
Untuk pertumbuhan tanaman anggrek, kemasaman media (pH) yang baik, berkisar antara 5-6. Media tumbuh sangat penting untuk pertumbuhan dan produksi bunga optimal, sehingga perlu adanya usaha mencari media tumbuh yang sesuai. Media tumbuh yang sering digunakan di Indonesia, yaitu moss, pakis, serutan kayu, potongan kayu, serabut kelapa, arang, dan kulit pinus. Pecahan batu-bata banyak dipakai sebagai media dasar pot anggrek karena dapat menyerap air lebih banyak dibandingkan dengan pecahan genting.
Selain itu, media pecahan batu-bata digunakan sebagai dasar pot karena mempunyai kemampuan drainase dan aerasi yang baik. Moss yang mengandung 2-3% unsur N, sudah lama digunakan untuk medium tumbuh anggrek. Media moss mempunyai kemampuan mengikat air yang baik, serta mempunyai aerasi dan drainase yang baik pula.
Pakis sesuai untuk media anggrek karena memiliki daya mengikat air, aerasi dan drainase yang baik, melapuk secara perlahan-lahan, serta mengandung unsur hara yang dibutuhkan anggrek untuk pertumbuhannya.
Serabut kelapa mudah melapuk dan mudah busuk, sehingga dapat menjadi sumber penyakit, tetapi daya simpan airnya sangat baik dan mengandung unsur hara yang diperlukan serta mudah didapat dan harganya murah. Ketika menggunakan serabut kelapa sebagai media tumbuh, sebaiknya dipilih serabut kelapa yang sudah tua.
Media tumbuh sabut kelapa, pakis, dan moss merupakan media tumbuh yang baik untuk pertumbuhan tanaman anggrek Phalaenopsis sp. Akan tetapi, bila pakis dan moss yang tumbuh di hutan ini diambil secara terus-menerus untuk digunakan sebagai media tumbuh, dikhawatirkan keseimbangan ekosistem akan terganggu.
Serutan kayu atau potongan kayu kurang sesuai untuk media anggrek walaupun memiliki aerasi dan drainase yang baik, tetapi daya simpan airnya kurang baik, serta miskin unsur N. Proses pelapukan berlangsung lambat karena kayu banyak mengandung senyawa-senyawa yang sulit terdekomposisi, seperti selulosa, lignin, dan hemiselulosa.
Media serutan kayu jati merupakan media tumbuh yang baik untuk pertumbuhan anggrek Aranthera James Storie. Pecahan arang kayu tidak lekas lapuk, tidak mudah ditumbuhi cendawan dan bakteri, tetapi sukar mengikat air dan miskin zat hara. Namun, arang cukup baik untuk media anggrek.
Penggunaan media baru (repotting) dapat dilakukan, bila mengalami hal-hal sebagai berikut.
a. Bila ditanam dalam pot (wadah) sudah terlalu padat atau banyak tunasnya.
b. Medium lama sudah hancur, sehingga medium bersifat asam dan dapat menjadi sumber penyakit.
3. Penyiraman
Tanaman anggrek yang sedang aktif tumbuh, membutuhkan lebih banyak air dibandingkan dengan yang sudah berbunga. Frekuensi dan banyaknya air siraman yang diberikan pada tanaman anggrek bergantung pada jenis, besar kecil ukuran tanaman, dan keadaan lingkungan pertanaman. Contohnya, tanaman anggrek Vanda sp., Arachnis sp., dan Renanthera sp., yaitu anggrek tipe monopodial yang tumbuh di bawah cahaya Matahari langsung, sehingga membutuhkan penyiraman lebih dari dua kali sehari, terutama pada musim kemarau.
4. Pemupukan
Seperti tumbuhan lainnya, anggrek membutuhkan makanan untuk mempertahankan hidupnya. Kebutuhan tanaman anggrek akan nutrisi sama dengan tumbuhan lainnya, hanya anggrek membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memperlihatkan gejala-gejala defisiensi (yang tidak baik), mengingat pertumbuhan anggrek sangat lambat.
Dalam usaha budi daya tanaman anggrek, habitatnya tidak cukup mampu menyediakan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh tanaman untuk pertumbuhan. Untuk mengatasi hal tersebut, biasanya tanaman diberi pupuk, baik organik maupun anorganik. Pupuk yang digunakan umumnya pupuk majemuk, yaitu yang mengandung unsur makro dan mikro.
Kualitas dan kuantitas pupuk dapat mengatur keseimbangan pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman. Pada fase pertumbuhan vegetatif, bagi tanaman yang masih kecil, perbandingan pemberian pupuk NPK adalah 30 : 10 : 10. Adapun pada fase pertumbuhan vegetatif, bagi tanaman yang berukuran sedang, perbandingan pemberian pupuk NPK adalah 10 : 10 : 10. Sebaliknya, pada fase pertumbuhan generatif, yaitu untuk merangsang pembungaan, perbandingan pemberian pupuk NPK adalah 10 : 30 : 30.
Jika dilakukan pemupukan ke dalam pot, hanya pupuk yang larut dalam air dan kontak langsung dengan ujung akar yang akan diambil oleh anggrek, sisanya akan tetap berada dalam pot. Pemupukan pada sore hari, menunjukkan respon pertumbuhan yang baik pada anggrek Dendrobium sp.
IKLIM YANG TEPAT UNTUK ANGGREK
Iklim untuk Anggrek
Berdasarkan tipe suhu dan jenis anggrek yang akan cocok dibudi dayakan, dapat dibedakan menjadi tiga tipe tanaman, yaitu tanaman dengan kebutuhan suhu dingin, sedang, dan hangat. Pengaruh suhu berkaitan dengan proses asimilasi (pembentukan cadangan makanan) dan proses disimilasi (penguraian makanan dan pernafasan). Suhu udara yang tinggi akan meningkatkan respirasi dan merombak sebagian besar hasil fotosintesis yang digunakan untuk pertumbuhan tanaman anggrek. Anggrek yang akan dibudi dayakan harus disesuaikan dengan kebutuhan suhunya, agar proses asimilasi dan disimilasi berjalan sempurna.
Pada umumnya, anggrek menyukai sirkulasi udara yang lembut dan terus-menerus. Jika sirkulasi udara tidak ada atau tidak lancar, anggrek akan mudah terserang penyakit terutama disebabkan oleh jamur dan bakteri. Bila sirkulasi udara terlalu kencang, anggrek akan mengalami dehidrasi. Jika sirkulasi udara mengalami stagnasi, akan berakibat buruk bagi anggrek. Gejala yang dapat ditemukan akibat dehidrasi, yaitu bunga mengecil, mudah layu, dan kuncup mudah rontok.
Energi yang berasal dari cahaya Matahari dibutuhkan oleh tanaman untuk proses fotosintesis. Hasil fotosintesis diperlukan untuk pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman. Intensitas cahaya yang terlalu tinggi atau rendah dapat mengakibatkan kerugian. Kebutuhan intensitas cahaya untuk anggrek dinyatakan dengan satuan lilin cahaya, dan untuk masing-masing jenis anggrek tidak sama. Anggrek epifit membutuhkan intensitas cahaya berkisar 10-50% dan anggrek terestrial sekitar 60-100%.
Kelembapan udara untuk anggrek harus sangat diperhatikan. Pada umumnya, semua anggrek membutuhkan kelembapan udara yang cukup tinggi, bahkan beberapa jenis anggrek membutuhkan kelembapan yang sangat tinggi. Kelembapan udara, lebih diperlukan oleh anggrek dibandingkan media tanaman yang terus-menerus basah. Pada umumnya, tanaman anggrek membutuhkan kelembapan udara pada siang hari berkisar 50-80% dan pada saat musim berbunga sekitar 50-60%. Kelembapan udara sangat dipengaruhi oleh lingkungan lahan. Untuk menjaga kelembapan udara di sekitar tanaman anggrek, agar tetap lengas (lembap), daerah tempat tumbuh anggrek perlu diberi bahan pelindung untuk mengurangi penguapan.
Tanaman anggrek akan tumbuh dengan baik, jika kebutuhan airnya tercukupi. Penyiraman yang berlebihan akan berdampak buruk bagi tanaman. Kelebihan air justru akan menyebabkan timbulnya penyakit busuk akar atau busuk daun yang disebabkan oleh bakteri dan cendawan. Kekeringan yang berkepanjangan harus dihindari karena dapat menimbulkan terjadinya dehidrasi (kekurangan air) yang ditandai dengan mengerutnya psedobulb (umbi semu). Banyaknya penyiraman dan frekuensi penyiraman anggrek sangat tergantung pada cuaca (suhu, kelembapan udara, angin, dan cahaya Matahari), jenis, ukuran tanaman, dan keadaan lingkungan tanaman.
Untuk budi daya anggrek, diperlukan berbagai input, yaitu bibit, media tanam, pupuk, greenhouse (jaringan peneduh dan plastik ultraviolet) serta beberapa perlengkapan lain, seperti blower dan selang penyiraman. Untuk meningkatkan kualitas dan keragamannya, anggrek dipasarkan dalam berbagai bentuk olahan, selain sebagai tanaman hias, yaitu sebagai bunga potong, bunga pot, juga digunakan sebagai obat, dan anggrek hibrida. Anggrek hibrida adalah jenis anggrek hasil silangan antara varietas anggrek yang berbeda untuk mendapatkan bentuk dan warna bunga yang lebih menarik.
Karena memiliki kemampuan beradaptasi yang luas, anggrek di berbagai daerah di dunia dapat ditemukan. Akan tetapi, penyebaran anggrek terpusat di sektar khatulistiwa (tropis), yaitu Asia Tenggra, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan.
Kebutuhan anggrek terhadap cahaya berbeda-beda untuk setiap jenisnya. Ada jenis anggrek yang tidak tahan cahaya langsung, misalnya jenis Cattleya, Dendrobium, dan Phalaeonopsis (anggrek bulan). Akan tetapi, jika cahaya terlalu sedikit, tanaman menjadi hijau tua, tumbuh kurang baik, dan bunga kadang-kadang tidak ke luar sama sekali serta tanaman mudah terserang penyakit, baik oleh bakteri maupun jamur.
Dalam teori pembudidayaan anggrek, cahaya Matahari adalah faktor pertama dari tiga faktor primer lainnya. Selain itu, cahaya Matahari merupakan kunci yang benar-benar utama menuju keberhasilan. Pertumbuhan yang aktif, pendewasaan tanaman, dan produksi bunga dibutuhkan penyediaan energi. Matahari adalah sumber utama dari energi yang dimaksud. Tanaman dapat mengubah tenaga cahaya tersebut menjadi kalori dalam bahan-bahan organik melelui proses fotosintesis. Adapun faktor-faktor lingkungan yang sangat memengaruhi tingkatan fotosintesis pada tanaman anggrek adalah intensitas cahaya, konsentrasi CO2 dalam udara, temperatur, dan penyediaan air.
Intensitas diukur dalam foot candle (lilin cahaya). Satu foot candle adalah kuat cahaya yang dipancarkan oleh lilin standar pada jarak satu foot (12 inci). Matahari penuh pada hari cerah di daerah tropis, mempunyai intensitas kira-kira 10.000 lilin (foot candles). Fotosintesis dapat berjalan lancar tergantung pada intensitas cahayanya. Titik intensitas cahaya yang lebih besar dan tidak menambah kepesatan fotosintesis disebut titik jenuh cahaya.
Jadi, berapa banyak cahaya Matahari yang diberikan, tergantung pada jenis dan tipe anggrek yang bersangkutan serta berhubungan erat dengan keadaan tempat asalnya, yaitu sebagai berikut.
1. Arachis, Renathera, dan Terete Vanda
Tanaman anggrek ini dapat menerima cahaya Matahari penuh (langsung), artinya 100% cahaya Matahari siang tanpa peneduh. Intensitas cahaya Matahari yang tinggi, harus diikuti dengan keadaan temperatur dan medium yang tinggi serta diimbangi oleh kelembapan relatif udara yang tinggi pula.
2. Vanda Daun Sabuk
Tanaman epifit ini mayoritas berasal dari hutan hujan tropis (tropika basah). Itulah sebabnya, daun pada anggrek ini lebar dan lebih rapat daripada tipe terete yang silindris seperti pensil. Dengan permukaan daun yang lebar, ia akan berusaha menangkap sebanyak mungkin cahaya Matahari dalam suasana keteduhan hutan tersebut, yaitu sekitar 25-30% yang sampai pada daunannya. Dalam pembudidayaan, biasanya anggrek ini memperoleh temperatur dan intensitas cahaya Matahari yang lebih tinggi, yaitu dapat mencapai 60-70%.
3. Semiterete Vanda
Ditanam seperti tanaman semiterestria dengan intensitas cahaya antara 75-100% cahaya Matahari siang, tetapi sering pula di bawah Matahari penuh dengan kelembapan tinggi.
4. Cattleya
Termasuk tanaman yang menyukai terang dengan intensitas cahaya Matahari antara 50-60%.
5. Dendrobium
Secara umum, jenis anggrek ini memerlukan cahaya Matahari sebanyak yang diperlukan Cattleya, tetapi tergantung tipenya. Intensitas 60% minimum, cocok untuk kelompok evergreen. Adapun untuk kelompok peluruh (deciduous), membutuhkan peneduh lebih rapat sekalipun dapat sesuai dengan intensitas 60%. Hal ini untuk menghindari kerusakan pada daun-daunnya yang lebih tipis.
6. Phalaeonopsis
Jenis anggrek ini termasuk tanaman teduh, bahkan teduh sekali. Intensitasnya mencapai 15% pada siang hari sudah cukup. Akan tetapi, dalam masa tumbuh, bila temperatur tidak terlalu menyengat dan kelembapan terlalu tinggi, dapat ditolerir lebih banyak cahaya, bahkan sampai 30% cahaya Matahari langsung.
Berdasarkan tipe suhu dan jenis anggrek yang akan cocok dibudi dayakan, dapat dibedakan menjadi tiga tipe tanaman, yaitu tanaman dengan kebutuhan suhu dingin, sedang, dan hangat. Pengaruh suhu berkaitan dengan proses asimilasi (pembentukan cadangan makanan) dan proses disimilasi (penguraian makanan dan pernafasan). Suhu udara yang tinggi akan meningkatkan respirasi dan merombak sebagian besar hasil fotosintesis yang digunakan untuk pertumbuhan tanaman anggrek. Anggrek yang akan dibudi dayakan harus disesuaikan dengan kebutuhan suhunya, agar proses asimilasi dan disimilasi berjalan sempurna.
Pada umumnya, anggrek menyukai sirkulasi udara yang lembut dan terus-menerus. Jika sirkulasi udara tidak ada atau tidak lancar, anggrek akan mudah terserang penyakit terutama disebabkan oleh jamur dan bakteri. Bila sirkulasi udara terlalu kencang, anggrek akan mengalami dehidrasi. Jika sirkulasi udara mengalami stagnasi, akan berakibat buruk bagi anggrek. Gejala yang dapat ditemukan akibat dehidrasi, yaitu bunga mengecil, mudah layu, dan kuncup mudah rontok.
Energi yang berasal dari cahaya Matahari dibutuhkan oleh tanaman untuk proses fotosintesis. Hasil fotosintesis diperlukan untuk pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman. Intensitas cahaya yang terlalu tinggi atau rendah dapat mengakibatkan kerugian. Kebutuhan intensitas cahaya untuk anggrek dinyatakan dengan satuan lilin cahaya, dan untuk masing-masing jenis anggrek tidak sama. Anggrek epifit membutuhkan intensitas cahaya berkisar 10-50% dan anggrek terestrial sekitar 60-100%.
Kelembapan udara untuk anggrek harus sangat diperhatikan. Pada umumnya, semua anggrek membutuhkan kelembapan udara yang cukup tinggi, bahkan beberapa jenis anggrek membutuhkan kelembapan yang sangat tinggi. Kelembapan udara, lebih diperlukan oleh anggrek dibandingkan media tanaman yang terus-menerus basah. Pada umumnya, tanaman anggrek membutuhkan kelembapan udara pada siang hari berkisar 50-80% dan pada saat musim berbunga sekitar 50-60%. Kelembapan udara sangat dipengaruhi oleh lingkungan lahan. Untuk menjaga kelembapan udara di sekitar tanaman anggrek, agar tetap lengas (lembap), daerah tempat tumbuh anggrek perlu diberi bahan pelindung untuk mengurangi penguapan.
Tanaman anggrek akan tumbuh dengan baik, jika kebutuhan airnya tercukupi. Penyiraman yang berlebihan akan berdampak buruk bagi tanaman. Kelebihan air justru akan menyebabkan timbulnya penyakit busuk akar atau busuk daun yang disebabkan oleh bakteri dan cendawan. Kekeringan yang berkepanjangan harus dihindari karena dapat menimbulkan terjadinya dehidrasi (kekurangan air) yang ditandai dengan mengerutnya psedobulb (umbi semu). Banyaknya penyiraman dan frekuensi penyiraman anggrek sangat tergantung pada cuaca (suhu, kelembapan udara, angin, dan cahaya Matahari), jenis, ukuran tanaman, dan keadaan lingkungan tanaman.
Untuk budi daya anggrek, diperlukan berbagai input, yaitu bibit, media tanam, pupuk, greenhouse (jaringan peneduh dan plastik ultraviolet) serta beberapa perlengkapan lain, seperti blower dan selang penyiraman. Untuk meningkatkan kualitas dan keragamannya, anggrek dipasarkan dalam berbagai bentuk olahan, selain sebagai tanaman hias, yaitu sebagai bunga potong, bunga pot, juga digunakan sebagai obat, dan anggrek hibrida. Anggrek hibrida adalah jenis anggrek hasil silangan antara varietas anggrek yang berbeda untuk mendapatkan bentuk dan warna bunga yang lebih menarik.
Karena memiliki kemampuan beradaptasi yang luas, anggrek di berbagai daerah di dunia dapat ditemukan. Akan tetapi, penyebaran anggrek terpusat di sektar khatulistiwa (tropis), yaitu Asia Tenggra, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan.
Kebutuhan anggrek terhadap cahaya berbeda-beda untuk setiap jenisnya. Ada jenis anggrek yang tidak tahan cahaya langsung, misalnya jenis Cattleya, Dendrobium, dan Phalaeonopsis (anggrek bulan). Akan tetapi, jika cahaya terlalu sedikit, tanaman menjadi hijau tua, tumbuh kurang baik, dan bunga kadang-kadang tidak ke luar sama sekali serta tanaman mudah terserang penyakit, baik oleh bakteri maupun jamur.
Dalam teori pembudidayaan anggrek, cahaya Matahari adalah faktor pertama dari tiga faktor primer lainnya. Selain itu, cahaya Matahari merupakan kunci yang benar-benar utama menuju keberhasilan. Pertumbuhan yang aktif, pendewasaan tanaman, dan produksi bunga dibutuhkan penyediaan energi. Matahari adalah sumber utama dari energi yang dimaksud. Tanaman dapat mengubah tenaga cahaya tersebut menjadi kalori dalam bahan-bahan organik melelui proses fotosintesis. Adapun faktor-faktor lingkungan yang sangat memengaruhi tingkatan fotosintesis pada tanaman anggrek adalah intensitas cahaya, konsentrasi CO2 dalam udara, temperatur, dan penyediaan air.
Intensitas diukur dalam foot candle (lilin cahaya). Satu foot candle adalah kuat cahaya yang dipancarkan oleh lilin standar pada jarak satu foot (12 inci). Matahari penuh pada hari cerah di daerah tropis, mempunyai intensitas kira-kira 10.000 lilin (foot candles). Fotosintesis dapat berjalan lancar tergantung pada intensitas cahayanya. Titik intensitas cahaya yang lebih besar dan tidak menambah kepesatan fotosintesis disebut titik jenuh cahaya.
Jadi, berapa banyak cahaya Matahari yang diberikan, tergantung pada jenis dan tipe anggrek yang bersangkutan serta berhubungan erat dengan keadaan tempat asalnya, yaitu sebagai berikut.
1. Arachis, Renathera, dan Terete Vanda
Tanaman anggrek ini dapat menerima cahaya Matahari penuh (langsung), artinya 100% cahaya Matahari siang tanpa peneduh. Intensitas cahaya Matahari yang tinggi, harus diikuti dengan keadaan temperatur dan medium yang tinggi serta diimbangi oleh kelembapan relatif udara yang tinggi pula.
2. Vanda Daun Sabuk
Tanaman epifit ini mayoritas berasal dari hutan hujan tropis (tropika basah). Itulah sebabnya, daun pada anggrek ini lebar dan lebih rapat daripada tipe terete yang silindris seperti pensil. Dengan permukaan daun yang lebar, ia akan berusaha menangkap sebanyak mungkin cahaya Matahari dalam suasana keteduhan hutan tersebut, yaitu sekitar 25-30% yang sampai pada daunannya. Dalam pembudidayaan, biasanya anggrek ini memperoleh temperatur dan intensitas cahaya Matahari yang lebih tinggi, yaitu dapat mencapai 60-70%.
3. Semiterete Vanda
Ditanam seperti tanaman semiterestria dengan intensitas cahaya antara 75-100% cahaya Matahari siang, tetapi sering pula di bawah Matahari penuh dengan kelembapan tinggi.
4. Cattleya
Termasuk tanaman yang menyukai terang dengan intensitas cahaya Matahari antara 50-60%.
5. Dendrobium
Secara umum, jenis anggrek ini memerlukan cahaya Matahari sebanyak yang diperlukan Cattleya, tetapi tergantung tipenya. Intensitas 60% minimum, cocok untuk kelompok evergreen. Adapun untuk kelompok peluruh (deciduous), membutuhkan peneduh lebih rapat sekalipun dapat sesuai dengan intensitas 60%. Hal ini untuk menghindari kerusakan pada daun-daunnya yang lebih tipis.
6. Phalaeonopsis
Jenis anggrek ini termasuk tanaman teduh, bahkan teduh sekali. Intensitasnya mencapai 15% pada siang hari sudah cukup. Akan tetapi, dalam masa tumbuh, bila temperatur tidak terlalu menyengat dan kelembapan terlalu tinggi, dapat ditolerir lebih banyak cahaya, bahkan sampai 30% cahaya Matahari langsung.
Syarat Tumbuh Anggrek
Syarat Tumbuh Anggrek
Setiap jenis tanaman, dalam pertumbuhannya memerlukan kondisi lingkungan yang spesifik. Lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan tanaman akan membuat tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal. Faktor-faktor lingkungan yang memengaruhi lingkungan pertumbuhan tanaman, yaitu suhu udara lingkungan di sekitarnya, intensitas cahaya, kelembapan udara, dan ketersedian unsur hara di dalam tanah. Faktor-faktor tersebut, akan menentukan proses fotosintesis pada tanaman.
Anggrek bukan tumbuhan parasit. Berdasarkan tempat tumbuhnya, anggrek dibedakan menjadi empat macam, yaitu epifit, semi- epifit, terestrik, dan semiterestrik. Anggrek epifit hidup menempel pada batang, dahan atau ranting pohon yang masih hidup maupun yang sudah mati. Anggrek semiepifit tumbuh menempel pada substrat. Sebagian akarnya yang menempel, berfungsi untuk mendapatkan hara di bawah substrat, sedangkan akar aktif lainnya menjuntai di udara. Anggrek semiterestrik hidup dan tumbuh di atas permukaan tanah dan kedudukan seluruh batangnya berada di atas permukaan tanah. Anggrek terestrik tumbuh pada tanah atau media buatan yang diletakkan di tanah pada tempat terbuka.
Faktor lingkungan terpenting yang menentukan pertumbuhan anggrek, menurut Dirjen Pertanian Tanaman Pangan (1990), pada dasarnya meliputi lima aspek, yaitu suhu, kelembapan udara, cahaya Matahari, ketersediaan air, dan unsur hara. Jika kondisi lingkungan yang ada ternyata tidak sesuai dengan kebutuhan anggrek, petani anggrek dapat melakukan perlakuan khusus, agar mendapatkan kondisi yang diharapkan.
Secara alami, anggrek hidup epifit pada pohon dan ranting-ranting tanaman lain, tetapi dalam pertumbuhannya dapat ditumbuhkan dalam pot yang diisi media tertentu. Ada beberapa faktor yang memengaruhi pertumbuhan tanaman. Misalnya, faktor lingkungan yang meliputi cahaya Matahari, kelembapan, dan temperatur serta pemeliharaan, seperti pemupukan, penyiraman, dan pengendalian OPT.
Pada umumnya, anggrek-anggrek yang dibudi dayakan memerlukan temperatur optimum sekitar 28° C dengan temperatur minimum 15° C. Anggrek tanah, umumnya lebih tahan panas daripada anggrek pot. Akan tetapi, temperatur yang tinggi dapat menyebabkan dehidrasi yang menghambat pertumbuhan tanaman.
Kelembapan nisbi (RH) yang diperlukan untuk anggrek berkisar antara 60-85%. Fungsi kelembapan yang tinggi bagi tanaman, antara lain untuk menghindari penguapan yang terlalu tinggi. Pada malam hari, kelembapan harus dijaga agar tidak terlalu tinggi. Bila tidak dijaga, dapat mengakibatkan busuk akar pada tunas-tunas muda. Oleh sebab itu, harus diusahakan agar media dalam pot tidak terlampau basah. Adapun kelembapan yang sangat rendah pada siang hari, dapat diatasi dengan cara pemberian semprotan kabut (mist) di sekitar tempat pertanaman dengan bantuan sprayer.
Berdasarkan pola pertumbuhannya, tanaman anggrek dibedakan menjadi dua tipe yaitu, simpodial dan monopodial. Anggrek tipe simpodial adalah anggrek yang tidak memiliki batang utama, bunga ke luar dari ujung batang, dan berbunga kembali dari anak tanaman yang tumbuh, kecuali pada anggrek jenis Dendrobium sp., yang dapat mengeluarkan tangkai bunga baru pada sisi-sisi batangnya. Contoh dari anggrek tipe simpodial, yaitu Dendrobium sp., Cattleya sp., Oncidium sp., dan Cymbidium sp. Anggrek tipe simpodial pada umumnya bersifat epifit.
Anggrek tipe monopodial adalah anggrek yang dicirikan oleh titik tumbuh yang terdapat pada ujung batang, pertumbuhannnya lurus ke atas pada satu batang, bunga ke luar dari sisi batang di antara dua ketiak daun. Contoh anggrek tipe monopodial, yaitu Vanda sp., Arachnis sp., Renanthera sp., Phalaenopsis sp., dan Aranthera sp.
Habitat tanaman anggrek dibedakan menjadi 4 kelompok, yaitu sebagai berikut.
1. Anggrek epifit, yaitu anggrek yang tumbuh menumpang pada pohon lain, tanpa merugikan tanaman inangnya dan membutuhkan naungan dari cahaya Matahari. Misalnya, Cattleya sp. memerlukan cahaya +40%, Dendrobium sp. 50-60%, Phalaenopsis sp. + 30 %, dan Oncidium sp. 60-75 %.
2. Anggrek terestrial, yaitu anggrek yang tumbuh di tanah dan membutuhkan cahaya Matahari langsung, misalnya Aranthera sp., Renanthera sp., Vanda sp., dan Arachnis sp.
Tanaman anggrek terestrial membutuhkan cahaya Matahari 70- 100 %, dengan suhu siang berkisar antara 19-380C, dan malam hari 18-210C. Adapun untuk anggrek jenis Vanda sp. yang berdaun lebar, memerlukan sedikit naungan.
3. Anggrek litofit, yaitu anggrek yang tumbuh pada batu-batuan, dan tahan terhadap cahaya Matahari penuh, misalnya Dendrobium sp. dan Phalaenopsis sp.
4. Anggrek saprofit, yaitu anggrek yang tumbuh pada media yang mengandung humus atau daun-daun kering, serta membutuhkan sedikit cahaya Matahari, misalnya Goodyera sp.
Setiap jenis tanaman, dalam pertumbuhannya memerlukan kondisi lingkungan yang spesifik. Lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan tanaman akan membuat tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal. Faktor-faktor lingkungan yang memengaruhi lingkungan pertumbuhan tanaman, yaitu suhu udara lingkungan di sekitarnya, intensitas cahaya, kelembapan udara, dan ketersedian unsur hara di dalam tanah. Faktor-faktor tersebut, akan menentukan proses fotosintesis pada tanaman.
Anggrek bukan tumbuhan parasit. Berdasarkan tempat tumbuhnya, anggrek dibedakan menjadi empat macam, yaitu epifit, semi- epifit, terestrik, dan semiterestrik. Anggrek epifit hidup menempel pada batang, dahan atau ranting pohon yang masih hidup maupun yang sudah mati. Anggrek semiepifit tumbuh menempel pada substrat. Sebagian akarnya yang menempel, berfungsi untuk mendapatkan hara di bawah substrat, sedangkan akar aktif lainnya menjuntai di udara. Anggrek semiterestrik hidup dan tumbuh di atas permukaan tanah dan kedudukan seluruh batangnya berada di atas permukaan tanah. Anggrek terestrik tumbuh pada tanah atau media buatan yang diletakkan di tanah pada tempat terbuka.
Faktor lingkungan terpenting yang menentukan pertumbuhan anggrek, menurut Dirjen Pertanian Tanaman Pangan (1990), pada dasarnya meliputi lima aspek, yaitu suhu, kelembapan udara, cahaya Matahari, ketersediaan air, dan unsur hara. Jika kondisi lingkungan yang ada ternyata tidak sesuai dengan kebutuhan anggrek, petani anggrek dapat melakukan perlakuan khusus, agar mendapatkan kondisi yang diharapkan.
Secara alami, anggrek hidup epifit pada pohon dan ranting-ranting tanaman lain, tetapi dalam pertumbuhannya dapat ditumbuhkan dalam pot yang diisi media tertentu. Ada beberapa faktor yang memengaruhi pertumbuhan tanaman. Misalnya, faktor lingkungan yang meliputi cahaya Matahari, kelembapan, dan temperatur serta pemeliharaan, seperti pemupukan, penyiraman, dan pengendalian OPT.
Pada umumnya, anggrek-anggrek yang dibudi dayakan memerlukan temperatur optimum sekitar 28° C dengan temperatur minimum 15° C. Anggrek tanah, umumnya lebih tahan panas daripada anggrek pot. Akan tetapi, temperatur yang tinggi dapat menyebabkan dehidrasi yang menghambat pertumbuhan tanaman.
Kelembapan nisbi (RH) yang diperlukan untuk anggrek berkisar antara 60-85%. Fungsi kelembapan yang tinggi bagi tanaman, antara lain untuk menghindari penguapan yang terlalu tinggi. Pada malam hari, kelembapan harus dijaga agar tidak terlalu tinggi. Bila tidak dijaga, dapat mengakibatkan busuk akar pada tunas-tunas muda. Oleh sebab itu, harus diusahakan agar media dalam pot tidak terlampau basah. Adapun kelembapan yang sangat rendah pada siang hari, dapat diatasi dengan cara pemberian semprotan kabut (mist) di sekitar tempat pertanaman dengan bantuan sprayer.
Berdasarkan pola pertumbuhannya, tanaman anggrek dibedakan menjadi dua tipe yaitu, simpodial dan monopodial. Anggrek tipe simpodial adalah anggrek yang tidak memiliki batang utama, bunga ke luar dari ujung batang, dan berbunga kembali dari anak tanaman yang tumbuh, kecuali pada anggrek jenis Dendrobium sp., yang dapat mengeluarkan tangkai bunga baru pada sisi-sisi batangnya. Contoh dari anggrek tipe simpodial, yaitu Dendrobium sp., Cattleya sp., Oncidium sp., dan Cymbidium sp. Anggrek tipe simpodial pada umumnya bersifat epifit.
Anggrek tipe monopodial adalah anggrek yang dicirikan oleh titik tumbuh yang terdapat pada ujung batang, pertumbuhannnya lurus ke atas pada satu batang, bunga ke luar dari sisi batang di antara dua ketiak daun. Contoh anggrek tipe monopodial, yaitu Vanda sp., Arachnis sp., Renanthera sp., Phalaenopsis sp., dan Aranthera sp.
Habitat tanaman anggrek dibedakan menjadi 4 kelompok, yaitu sebagai berikut.
1. Anggrek epifit, yaitu anggrek yang tumbuh menumpang pada pohon lain, tanpa merugikan tanaman inangnya dan membutuhkan naungan dari cahaya Matahari. Misalnya, Cattleya sp. memerlukan cahaya +40%, Dendrobium sp. 50-60%, Phalaenopsis sp. + 30 %, dan Oncidium sp. 60-75 %.
2. Anggrek terestrial, yaitu anggrek yang tumbuh di tanah dan membutuhkan cahaya Matahari langsung, misalnya Aranthera sp., Renanthera sp., Vanda sp., dan Arachnis sp.
Tanaman anggrek terestrial membutuhkan cahaya Matahari 70- 100 %, dengan suhu siang berkisar antara 19-380C, dan malam hari 18-210C. Adapun untuk anggrek jenis Vanda sp. yang berdaun lebar, memerlukan sedikit naungan.
3. Anggrek litofit, yaitu anggrek yang tumbuh pada batu-batuan, dan tahan terhadap cahaya Matahari penuh, misalnya Dendrobium sp. dan Phalaenopsis sp.
4. Anggrek saprofit, yaitu anggrek yang tumbuh pada media yang mengandung humus atau daun-daun kering, serta membutuhkan sedikit cahaya Matahari, misalnya Goodyera sp.
Keluarga Anggrek
Keluarga Anggrek
Anggrek termasuk dalam keluarga besar Orchidaceae. Bunga ini merupakan tanaman yang dapat tumbuh di mana saja, kecuali di Antartika. Menurut Trubus (1999), di Indonesia terdapat 5000 jenis anggrek alam (spesies) yang telah diketahui. Kondisi ini mengantarkan Indonesia menjadi negara terkaya akan keluarga anggrek. Banyaknya spesies anggrek yang ada, merupakan sumber kekayaan plasma nutfah yang sangat potensial, sehingga berguna untuk mendapatkan silangan-silangan baru (anggrek hibrida). Di seluruh dunia, pada saat ini telah ada 7.500 hibrid anggrek, yang oleh The Royal Horticultural Society (berkedudukan di London), setiap silangan baru terdaftar dalam Orchid Review dan akan dipublikasikan setiap bulannya.
Anggrek termasuk tumbuhan monokotil (berkeping satu) dengan ciri-ciri utama, yaitu daun bertulang lurus, sedangkan petal (daun tajuknya) berjumlah tiga helai. Seperti kita ketahui, keluarga anggrek merupakan kelompok besar, yang sangat beraneka ragam cara tumbuh dan kebiasaan hidupnya. Demikian pula dengan bentuk tanaman, bunga, dan warna bunganya yang sangat bervariasi. Hal ini merupakan sebagai penyesuaian yang sangat menakjubkan dari anggrek terhadap habitatnya yang ada hampir di seluruh dunia.
Anggrek adalah keluarga yang kosmopolit, dari Artik sampai Antartika. Walaupun di daerah kutub jarang tumbuh, tetapi melimpah di daerah tropis. Selain itu, di daerah rawa-rawa dan gurun (ketinggian 0-3000 m) di atas permukaan laut (mdpl), puncak gunung, air, udara terbuka, dan di bawah permukaan tanah sekalipun anggrek dapat hidup.
Anggrek berasal dari famili Orchidaceae yang terdiri dari 15.000-30.000 spesies. Famili ini terdiri dari tiga subfamili, yaitu Orchidaceae, Cypripediodeae, dan Apostasioideae. Pada habitatnya yang alami, anggrek ada yang hidup di pohon (menempel pada batang dan dahan pohon), ada pula yang hidup di atas tanah yang kaya dengan sampah-sampah organik atau daun-daun yang telah berubah menjadi humus.
Anggrek spesies Indonesia banyak yang termasuk anggrek indah, misalnya Vanda tricolor. Anggrek ini banyak terdapat di Jawa Barat dan Kaliurang. Vanda hookeriana berasal dari Sumatera, bunganya berwarna ungu berbintik-bintik sangat menarik. Selain itu, masih banyak lagi jenis anggrek asli dan bagus untuk persilangkan (Soeryowinoto, S.M., 1974).
Anggrek termasuk dalam keluarga besar Orchidaceae. Bunga ini merupakan tanaman yang dapat tumbuh di mana saja, kecuali di Antartika. Menurut Trubus (1999), di Indonesia terdapat 5000 jenis anggrek alam (spesies) yang telah diketahui. Kondisi ini mengantarkan Indonesia menjadi negara terkaya akan keluarga anggrek. Banyaknya spesies anggrek yang ada, merupakan sumber kekayaan plasma nutfah yang sangat potensial, sehingga berguna untuk mendapatkan silangan-silangan baru (anggrek hibrida). Di seluruh dunia, pada saat ini telah ada 7.500 hibrid anggrek, yang oleh The Royal Horticultural Society (berkedudukan di London), setiap silangan baru terdaftar dalam Orchid Review dan akan dipublikasikan setiap bulannya.
Anggrek termasuk tumbuhan monokotil (berkeping satu) dengan ciri-ciri utama, yaitu daun bertulang lurus, sedangkan petal (daun tajuknya) berjumlah tiga helai. Seperti kita ketahui, keluarga anggrek merupakan kelompok besar, yang sangat beraneka ragam cara tumbuh dan kebiasaan hidupnya. Demikian pula dengan bentuk tanaman, bunga, dan warna bunganya yang sangat bervariasi. Hal ini merupakan sebagai penyesuaian yang sangat menakjubkan dari anggrek terhadap habitatnya yang ada hampir di seluruh dunia.
Anggrek adalah keluarga yang kosmopolit, dari Artik sampai Antartika. Walaupun di daerah kutub jarang tumbuh, tetapi melimpah di daerah tropis. Selain itu, di daerah rawa-rawa dan gurun (ketinggian 0-3000 m) di atas permukaan laut (mdpl), puncak gunung, air, udara terbuka, dan di bawah permukaan tanah sekalipun anggrek dapat hidup.
Anggrek berasal dari famili Orchidaceae yang terdiri dari 15.000-30.000 spesies. Famili ini terdiri dari tiga subfamili, yaitu Orchidaceae, Cypripediodeae, dan Apostasioideae. Pada habitatnya yang alami, anggrek ada yang hidup di pohon (menempel pada batang dan dahan pohon), ada pula yang hidup di atas tanah yang kaya dengan sampah-sampah organik atau daun-daun yang telah berubah menjadi humus.
Anggrek spesies Indonesia banyak yang termasuk anggrek indah, misalnya Vanda tricolor. Anggrek ini banyak terdapat di Jawa Barat dan Kaliurang. Vanda hookeriana berasal dari Sumatera, bunganya berwarna ungu berbintik-bintik sangat menarik. Selain itu, masih banyak lagi jenis anggrek asli dan bagus untuk persilangkan (Soeryowinoto, S.M., 1974).
Tuesday, 30 August 2016
MANFAAT BUAH STROBERI
Pemanfaatan Buah Stroberi
Buah stroberi segar dapat langsung dimakan, rasanya segar manis keasaman deagan tekstur daging tebal dan kaya akan kandungan air. Tidak saja dapat dimakan langsung tetapi juga dapat diolah untuk dijadikan berbagai penganan, seperti dodol, selai, hiasan untuk berbagai hidangan baik kue, pudding, jus atau penambah rasa pada susu atau yogurt. Di samping itu, buah stroberi pun dibutuhkan dalam ilmu kesehatan, misalnya stroberi dapat dijadikan media untuk perawatan kulit muka yang bertujuan untuk menghilangkan jerawat, dapat dijadikan media sebagai pemutih gigi serta media pencegah perkembangbiakan kanker.
A.Kebutuhan Siap Pakai
Stroberi sebagai hiasan atau olahan pada kue tar atau kue kering, jus serta pudding. Selain itu, dapat dimanfaatkan untuk dijadikan selai, jelly, atau sirup. Pengolahan buah stroberi ini memang bertujuan agar buah yang tidak tahan lama ini dapat diawetkan dengan cara diolah.
1. Crepe Tumpuk Stroberi
a. Bahan crepe:
125 gram tepung terigu
25 gram gula pasir
1 butir telur
225 ml susu cair
125 ml minuman bersoda tawar
30 gram mentega, lelehkan
100 gram selai stroberi untuk olesan
b. Bahan topping:
150 gram stroberi, masing-masing dibagi 2
50 gram gula pasir
50 ml air
¾ sendok teh jeli bubuk
1 sendok teh air jeruk lemon
c. Bahan hiasan:
50 gram kacang madu, dicincang kasar untuk taburan
150 gram krim kental, dikocok kaku
100 gram dark coating chocolate, dilelehkan untuk hiasan
d. Cara membuat:
- adonan kulit buat 2 kali, aduk tepung terigu dan gula pasir. Tuang campuran susu, telur, dan minuman bersoda, aduk rata.
- tuang mentega leleh sambil diaduk rata
- buat dadar tipis-tipis diameter 18 cm, sisihkan.
- rebus bahan topping sambil diaduk hingga kental, angkat.
- tumpuk crepe. Tiap 5 lembar, oles dengan selai stroberi. Lakukan sampai crepe habis dan tumpukan menjadi tinggi.
- semprotkan krim kental mengelilingi crepe. Siram dengan bahan topping lalu taburkan kacang madu cincang sebelum disajikan.
2. Pancake dengan Saus Stroberi dan Jeruk Sunkis
a. Bahan:
1 buah jeruk Sunkist, kupas, potong membelah menjadi 10 bagian.
4 buah pancake dari adonan pancake instant
2 sdm cornflake untuk taburan
b. saus:
100 gram stroberi segar, bersihkan, haluskan dengan blender
2 sdm gula pasir
1 sdt tepung maizena, cairkan degan 3 sdm air
c. Cara membuat:
- panaskan wajan, masukkan stroberi, gula dan maizena aduk-aduk hingga mendidih dan angkat, sisihkan.
- buat 4 buah pancake sesuai cara membuat dalam kemasan
- letakkan pancake dalam piring saji, masing-masing 2 buah
- tuangi atasnya dengan saus stroberi.
- letakkan irisan jeruk Sunkist diatasnya.
- taburi cornflakes.
- hidangkan hangat-hangat
3. Kue Cokelat Buah
a. Bahan:
1 sdm kopi bubuk instant
2 sdm brandy
250 gram cokelat masak (dark cooking chocolate) potong-
potong
4 butir telur ayam
1 sdt vanili bubuk
50 gram gula pasir
50 gram tepung terigu, ayak bersama
25 gram cokelat bubuk.
b. Bahan Olesan:
250 gram cokelat masak (dark cooking chocolate)
150 ml krim kental (doubicream)
c. Bahan hiasan:
100 gram juring jeruk mandarin kalengan, tiriskan
100 gram nanas kalengan, tiriskan, potongan kecil
150 gram stroberi segar, bersihkan, iris tipis
50 gram kacang walnut, panggang
50 gram kacang mete, panggang
25 gram kismis
1 sdt agar-agar bubuk warna putih, masak dengan 4 sdm
air hingga mendidih, untuk olesan.
d. Cara membuat:
- siapkan loyang loaf ukuran 5x11x21 cm. Alasi kertas roti dan olesi mentega.
- larutkan kopi dengan brandy. Tim cokelat hingga leleh, tambahkan larutan kopi, aduk rata dan sisihkan.
- kocok telur bersama vanili dan gula pasir sampai kental. Tuangkan ke dalam adonan cokelat leleh, aduk rata.
- masukkan campuran terigu dan cokelat bubuk. Aduk rata.
- tuang adonan ke dalam loyang, ratakan. Panggang dalam oven panas bersuhu 160 derajat Celsius selama 40 menit sampai kue matang. Angkat,keluarkan kue dari loyang, dinginkan.
- belah cake membujur menjadi 2 bagian. Sisihkan.
- olesan: tim cokelat sampai leleh, angkat.
- tambahkan krim, aduk sampai kental. Biarkan dalam suhu ruangan hingga cokelat makin kental.
- penyelesaian: olesi bekas belahan cake dengan bahan olesan, tumpuk kembali cake.
- olesi permukaan cake dengan bahan olesan.
- masukkan sisa adonan cokelat dalam kantong semprotan kue, beri semprotan kue, semprotkan ke keliling sisi cake dengan pola hias sesuai selera.
- hiasi permukaan cake dengan buah,, kacang, dan kismis.olesi dengan larutan agar-agar.
- potong-potong, sajikan.
4. Pie Pudding Tahu Pisang
a. Bahan:
- Kulit pie
- 250 gram krakers graham, haluskan
- 150 gram mentega, kocok lembut
b. Bahan pudding:
12 gram gelatin bubuk putih
80 ml air
300 gram tahu sutera, tiriskan, haluskan
1 butir telur ayam
2 sdm gula pasir
1 sdm gula palem
2 sdm madu
2 sdm air jeruk lemon
250 gram pisang ambon, kupas
¼ sdt kayu manis bubuk
c. Bahan hiasan:
½ buah pisang, kupas, iris melintang ½ cm
1 sdt air jeruk lemon
¼ sdt kayum anis bubuk
4 buah stroberi segar,bersihkan, iris tipis
½ sdm gelatin bubuk, tim bersama
50 ml air hingga larut untuk olesan
d. Cara membuat:
- kulit: campuran krakers dan mentega hingga rata.
- taruh dalam loyang pie berdiameter 22 cm. Ratakan hingga melapisi seluruh loyang. Simpan dalam lemari pendingin selama 3 jam hingga keras.
- puding: aduk gelatin bubuk dengan air. Tim di atas api kecil sambil aduk hingga gelatin larut.
- masukkan bahan-bahan lain ke dalam blender.proses hingga halus.
- tuangkan larutan gelatin, proses hingga rata.
- tuang ke dalam loyang berisi kulit pie. Tutup plastik, simpan dalam lemari pendingin salama 3 jam hingga mengeras.
- hiasan: aduk hati-hati, pisang, air jeruk lemon, kayu manis, dan stroberi. Sisihkan.
- hiasan pie dengan bahan hiasan. Olesi dengan larutan gelatin. Sajikan dingin.
5. Puding Persik Saus Stroberi
Bahan:
sekaleng (600 gram) buah persik (peach), tiriskan, sisihkan airnya
750 ml air
3 bungkus (10 g/bungkus) agar-agar putih
150 gram gula pasir
Kocok hingga kaku:
50 ml (1 butir) putih telur
50 gram gula pasir
bahan saus stroberi:
250 gram stroberi segar, bersihkan, haluskan
200 ml air
100 gram gula pasir
½ sdt pewarna merah untuk makanan
1sdm tepung maizena, larutkan sedikit air
Cara membuat:
- siapkan loyang bundar lubang tengah diameter 22 cm, tinggi 7 cm. Basahi air dan sisihkan.
- ambil 3 potong buah persik, iris membujur tipis bentuk setengah lingkaran. Sisihkan.
- masukkan sisa buah persik bersama airnya ke dalam mangkuk blender, proses hingga halus, angkat dan sisihkan.
- tuang larutan agar-agar ke dalam putih telur kocok sedikit demi sedikit hingga mendidih dan kental. Angkat, sisihkan.
- penyelesaian: susun 1/3 bagian potongan buah persik di dasar loyang hingga membetuk lingkaran. Tuang 150 ml adonan agar-agar, diamkan hingga adonan agak mengeras. Tuang kembali 1/3 bagian adonan agar-agar, diamkan hingga agak mengeras.
- susun kembali potongan buah persik di atas adonan agar-agar hingga membentuk lingkaran. Tuang kembali sisa adonan agar-agar, lakukan yang sama hingga adonan dan buah persik habis. Simpan dalam lemari pendinginan hingga adonan beku.
Saus stroberi:
- rebus stroberi halus, air, dan gula pasir, aduk-aduk hingga gula larut dan mendidih.
- masukkan pewarna merah dan larutaan maizena, aduk hingga saus kental. Angkat. dinginkan.
- potong-potong pudding, sajikan bersama saus stroberi.
6. Selai Stroberi
a. Bahan:
-Buah stroberi yang sudah masak
-Gula pasir
-Citroen zuur
b. Cara membuat:
- buah stroberi dicuci bersih dan tiriskan.
- hancurkan atau diblender buah stroberi hingga halus, lalu saring dan airnya diambil.
- timbang sari buah strobei. Untuk setiap kilogram buah diperlukan gula pasir sebanyak ¾ kg, dan 3-5 gram citroen zuur.
- sari buah yang halus dipanaskan hingga mendidih, kemudian masukkan gula sedikit-sedikit dan tambahkan citroen.
- angkat sari buah yang telah mendidih dan tuang dalam botol-botol kecil, kemudian tutup botol dan jangan lupa sebelum ditutup alas bagian dalam tutup dengan kertas selopan.
- botol-botol yang telah diisi dan ditutup rapat dikukus selama 30 menit (pasteurisasi).
- angkat dan dinginkan botol-botol yang telah dikukus dan bersihkan.
- pasang label pada muka botol dan simpan ditempat yang dingin atau dapat langsung dihidangkan.
b. Kebutuhan Industri
Pasar kian terbentang lantaran buah subtropics itu tak hanya dikonsumsi segar. Ia diolah menjadi selain, kue, manisan, dan minuman. Kini industri pembuatan selai terdapat 12 pabrik. Jika dirata-ratakan permintaan konsumen untuk industri setiap harinya diperkirakan 500 kg yang dikirim setiap 3 hari sekali, berarti 6 ton/hari buah ini harus siap disebar ke beberapa pabrik untuk diolah. Selain itu, hasil panen para pekebun pun disalurkan ke kafe-kafe dan restoran yang kian menjamur di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Bali . Rata-rata setiap kafe membutuhkan 4 hingga 20 kilo per harinya. Belum lagi hotel-hotel mulai dari hotel berbintang satu hingga lima, kebutuhan akan buah stroberi sangat tinggi.
c.Untuk Kesehatan dan Perawatan Tubuh
1. Kesehatan
Stroberi memiliki aktivitas antioksidan paling tinggi di antara 12 buah yang diteliti. Itu karena kandungan quercetin, ellagic acid, antosianin, dan kaempferol. Antioksidan diibarat sebagai bodyguard pelindung tubuh dari radikal bebas, termasuk di antaranya sel kanker. Ia mencegah terbentuknya senyawa karsinogensis dan menekan pertumbuhan tumor. Fungsi antioksidan stroberi turut disumbang kandungan vitamin C yang tinggi –sekitar 56,7 mg per 100 gram. Delapan buah berukuran sedang mencukupi 160 persen kebutuhan vitamin C per hari berdasar standar Amerika Serikat. Jumlah itu lebih tinggi ketimbang sebutir jeruk. Menurut The Iowa Womens Health Study asupan vitamin C mereduksi risiko kanker hingga 37 persen.
Oleh karena itu, tak berlebihan para peneliti dari USDA, Clemson University of South California menguji kemampuan stroberi sebagai antikanker, terutama kanker payudara dan leher rahim. Hasilnya, varietas Carlsbad efektif menghambat aktivitas sel kanker leher rahim.
Varietas sweet Charlie, kanker payudara. Antosianin pada varietas itu –dalam bentuk ekstrak maupun jus segar—merupakan senyawa antimutagenik. Ia mencegah sel tubuh yang sedang berkembang bermutasi menjadi sel kanker.
Perempuan alkoholik
Menurut penelitian Harvard Nurses Health Study (NHS), perempuan yang meneguk sedikitnya 15 gram alcohol per hari berisiko terkena kanker payudara. Namun, jika kebiasaan itu dibarengi dengan asupan folat 600 ….gram per hari risiko terkena kanker berkurang. Delapan buah stroberi berukuran sedang setara 80 ……. Gram memenuhi 20 persen kebutuhan asam folik tubuh per hari berdasar standar Amerika Serikat.
Studi itu juga meneliti keampuhan asam folik menekan risiko kanker usus pada wanita usia 55 hingga 69 tahun. Memang efek folat baru diketahui 15 tahun kemudian dan terbukti risiko kanker usus lebih rendah 75 persen pada mereka yang mengkonsumsi buah stroberi daripada tidak sama sekali.
2. Perawatan Tubuh
a. Stroberi sebagai obat jerawat
Bila wajah kita bermasalah dengan jerawat. Coba melakukan perawatan dengan masker stroberi. Ia banyak mengandung asam salisilat yang biasa ada di produk-produk antijerawat. Haluskan setengah gelas buah berbentuk hati itu, lalu aduk dengan sesendok makan yoghurt. Lalu bubuhkan ke seluruh wajah, diamkan selama 10 hingga 15 menit. Bilaslah dengan air dingin. Bila rutin dilakukan sekali seminggu, wajah bebas jerawat.
b. Mandi stroberi
Sehabis letih bekerja, paling enak memang berendam di bathtub. Apalagi kalau air rendaman ditambah stroberi. Kulit jadi bersih dan lembut. Karena stroberi mempunyai fungsi mengelupas kulit. Sebelum dipakai, stroberi dihaluskan campur dengan susu cair dan minyak zaitun. Baru masukkan ke dalam air rendaman dan cara itu mampu mencegah sengatan matahari.
c.Gigi putih
Menggunakan pasta berbahan pemutih kerap jadi pilihan untuk memutihkan gigi. Padahal ada cara lain yang lebihh lembuat dan gigi berseri. Rajin-rajinlah mengunyah stroberi. Selain gigi jadi cemerlang, juga ampuh untuk mengatasi bau mulut.
Buah stroberi segar dapat langsung dimakan, rasanya segar manis keasaman deagan tekstur daging tebal dan kaya akan kandungan air. Tidak saja dapat dimakan langsung tetapi juga dapat diolah untuk dijadikan berbagai penganan, seperti dodol, selai, hiasan untuk berbagai hidangan baik kue, pudding, jus atau penambah rasa pada susu atau yogurt. Di samping itu, buah stroberi pun dibutuhkan dalam ilmu kesehatan, misalnya stroberi dapat dijadikan media untuk perawatan kulit muka yang bertujuan untuk menghilangkan jerawat, dapat dijadikan media sebagai pemutih gigi serta media pencegah perkembangbiakan kanker.
A.Kebutuhan Siap Pakai
Stroberi sebagai hiasan atau olahan pada kue tar atau kue kering, jus serta pudding. Selain itu, dapat dimanfaatkan untuk dijadikan selai, jelly, atau sirup. Pengolahan buah stroberi ini memang bertujuan agar buah yang tidak tahan lama ini dapat diawetkan dengan cara diolah.
1. Crepe Tumpuk Stroberi
a. Bahan crepe:
125 gram tepung terigu
25 gram gula pasir
1 butir telur
225 ml susu cair
125 ml minuman bersoda tawar
30 gram mentega, lelehkan
100 gram selai stroberi untuk olesan
b. Bahan topping:
150 gram stroberi, masing-masing dibagi 2
50 gram gula pasir
50 ml air
¾ sendok teh jeli bubuk
1 sendok teh air jeruk lemon
c. Bahan hiasan:
50 gram kacang madu, dicincang kasar untuk taburan
150 gram krim kental, dikocok kaku
100 gram dark coating chocolate, dilelehkan untuk hiasan
d. Cara membuat:
- adonan kulit buat 2 kali, aduk tepung terigu dan gula pasir. Tuang campuran susu, telur, dan minuman bersoda, aduk rata.
- tuang mentega leleh sambil diaduk rata
- buat dadar tipis-tipis diameter 18 cm, sisihkan.
- rebus bahan topping sambil diaduk hingga kental, angkat.
- tumpuk crepe. Tiap 5 lembar, oles dengan selai stroberi. Lakukan sampai crepe habis dan tumpukan menjadi tinggi.
- semprotkan krim kental mengelilingi crepe. Siram dengan bahan topping lalu taburkan kacang madu cincang sebelum disajikan.
2. Pancake dengan Saus Stroberi dan Jeruk Sunkis
a. Bahan:
1 buah jeruk Sunkist, kupas, potong membelah menjadi 10 bagian.
4 buah pancake dari adonan pancake instant
2 sdm cornflake untuk taburan
b. saus:
100 gram stroberi segar, bersihkan, haluskan dengan blender
2 sdm gula pasir
1 sdt tepung maizena, cairkan degan 3 sdm air
c. Cara membuat:
- panaskan wajan, masukkan stroberi, gula dan maizena aduk-aduk hingga mendidih dan angkat, sisihkan.
- buat 4 buah pancake sesuai cara membuat dalam kemasan
- letakkan pancake dalam piring saji, masing-masing 2 buah
- tuangi atasnya dengan saus stroberi.
- letakkan irisan jeruk Sunkist diatasnya.
- taburi cornflakes.
- hidangkan hangat-hangat
3. Kue Cokelat Buah
a. Bahan:
1 sdm kopi bubuk instant
2 sdm brandy
250 gram cokelat masak (dark cooking chocolate) potong-
potong
4 butir telur ayam
1 sdt vanili bubuk
50 gram gula pasir
50 gram tepung terigu, ayak bersama
25 gram cokelat bubuk.
b. Bahan Olesan:
250 gram cokelat masak (dark cooking chocolate)
150 ml krim kental (doubicream)
c. Bahan hiasan:
100 gram juring jeruk mandarin kalengan, tiriskan
100 gram nanas kalengan, tiriskan, potongan kecil
150 gram stroberi segar, bersihkan, iris tipis
50 gram kacang walnut, panggang
50 gram kacang mete, panggang
25 gram kismis
1 sdt agar-agar bubuk warna putih, masak dengan 4 sdm
air hingga mendidih, untuk olesan.
d. Cara membuat:
- siapkan loyang loaf ukuran 5x11x21 cm. Alasi kertas roti dan olesi mentega.
- larutkan kopi dengan brandy. Tim cokelat hingga leleh, tambahkan larutan kopi, aduk rata dan sisihkan.
- kocok telur bersama vanili dan gula pasir sampai kental. Tuangkan ke dalam adonan cokelat leleh, aduk rata.
- masukkan campuran terigu dan cokelat bubuk. Aduk rata.
- tuang adonan ke dalam loyang, ratakan. Panggang dalam oven panas bersuhu 160 derajat Celsius selama 40 menit sampai kue matang. Angkat,keluarkan kue dari loyang, dinginkan.
- belah cake membujur menjadi 2 bagian. Sisihkan.
- olesan: tim cokelat sampai leleh, angkat.
- tambahkan krim, aduk sampai kental. Biarkan dalam suhu ruangan hingga cokelat makin kental.
- penyelesaian: olesi bekas belahan cake dengan bahan olesan, tumpuk kembali cake.
- olesi permukaan cake dengan bahan olesan.
- masukkan sisa adonan cokelat dalam kantong semprotan kue, beri semprotan kue, semprotkan ke keliling sisi cake dengan pola hias sesuai selera.
- hiasi permukaan cake dengan buah,, kacang, dan kismis.olesi dengan larutan agar-agar.
- potong-potong, sajikan.
4. Pie Pudding Tahu Pisang
a. Bahan:
- Kulit pie
- 250 gram krakers graham, haluskan
- 150 gram mentega, kocok lembut
b. Bahan pudding:
12 gram gelatin bubuk putih
80 ml air
300 gram tahu sutera, tiriskan, haluskan
1 butir telur ayam
2 sdm gula pasir
1 sdm gula palem
2 sdm madu
2 sdm air jeruk lemon
250 gram pisang ambon, kupas
¼ sdt kayu manis bubuk
c. Bahan hiasan:
½ buah pisang, kupas, iris melintang ½ cm
1 sdt air jeruk lemon
¼ sdt kayum anis bubuk
4 buah stroberi segar,bersihkan, iris tipis
½ sdm gelatin bubuk, tim bersama
50 ml air hingga larut untuk olesan
d. Cara membuat:
- kulit: campuran krakers dan mentega hingga rata.
- taruh dalam loyang pie berdiameter 22 cm. Ratakan hingga melapisi seluruh loyang. Simpan dalam lemari pendingin selama 3 jam hingga keras.
- puding: aduk gelatin bubuk dengan air. Tim di atas api kecil sambil aduk hingga gelatin larut.
- masukkan bahan-bahan lain ke dalam blender.proses hingga halus.
- tuangkan larutan gelatin, proses hingga rata.
- tuang ke dalam loyang berisi kulit pie. Tutup plastik, simpan dalam lemari pendingin salama 3 jam hingga mengeras.
- hiasan: aduk hati-hati, pisang, air jeruk lemon, kayu manis, dan stroberi. Sisihkan.
- hiasan pie dengan bahan hiasan. Olesi dengan larutan gelatin. Sajikan dingin.
5. Puding Persik Saus Stroberi
Bahan:
sekaleng (600 gram) buah persik (peach), tiriskan, sisihkan airnya
750 ml air
3 bungkus (10 g/bungkus) agar-agar putih
150 gram gula pasir
Kocok hingga kaku:
50 ml (1 butir) putih telur
50 gram gula pasir
bahan saus stroberi:
250 gram stroberi segar, bersihkan, haluskan
200 ml air
100 gram gula pasir
½ sdt pewarna merah untuk makanan
1sdm tepung maizena, larutkan sedikit air
Cara membuat:
- siapkan loyang bundar lubang tengah diameter 22 cm, tinggi 7 cm. Basahi air dan sisihkan.
- ambil 3 potong buah persik, iris membujur tipis bentuk setengah lingkaran. Sisihkan.
- masukkan sisa buah persik bersama airnya ke dalam mangkuk blender, proses hingga halus, angkat dan sisihkan.
- tuang larutan agar-agar ke dalam putih telur kocok sedikit demi sedikit hingga mendidih dan kental. Angkat, sisihkan.
- penyelesaian: susun 1/3 bagian potongan buah persik di dasar loyang hingga membetuk lingkaran. Tuang 150 ml adonan agar-agar, diamkan hingga adonan agak mengeras. Tuang kembali 1/3 bagian adonan agar-agar, diamkan hingga agak mengeras.
- susun kembali potongan buah persik di atas adonan agar-agar hingga membentuk lingkaran. Tuang kembali sisa adonan agar-agar, lakukan yang sama hingga adonan dan buah persik habis. Simpan dalam lemari pendinginan hingga adonan beku.
Saus stroberi:
- rebus stroberi halus, air, dan gula pasir, aduk-aduk hingga gula larut dan mendidih.
- masukkan pewarna merah dan larutaan maizena, aduk hingga saus kental. Angkat. dinginkan.
- potong-potong pudding, sajikan bersama saus stroberi.
6. Selai Stroberi
a. Bahan:
-Buah stroberi yang sudah masak
-Gula pasir
-Citroen zuur
b. Cara membuat:
- buah stroberi dicuci bersih dan tiriskan.
- hancurkan atau diblender buah stroberi hingga halus, lalu saring dan airnya diambil.
- timbang sari buah strobei. Untuk setiap kilogram buah diperlukan gula pasir sebanyak ¾ kg, dan 3-5 gram citroen zuur.
- sari buah yang halus dipanaskan hingga mendidih, kemudian masukkan gula sedikit-sedikit dan tambahkan citroen.
- angkat sari buah yang telah mendidih dan tuang dalam botol-botol kecil, kemudian tutup botol dan jangan lupa sebelum ditutup alas bagian dalam tutup dengan kertas selopan.
- botol-botol yang telah diisi dan ditutup rapat dikukus selama 30 menit (pasteurisasi).
- angkat dan dinginkan botol-botol yang telah dikukus dan bersihkan.
- pasang label pada muka botol dan simpan ditempat yang dingin atau dapat langsung dihidangkan.
b. Kebutuhan Industri
Pasar kian terbentang lantaran buah subtropics itu tak hanya dikonsumsi segar. Ia diolah menjadi selain, kue, manisan, dan minuman. Kini industri pembuatan selai terdapat 12 pabrik. Jika dirata-ratakan permintaan konsumen untuk industri setiap harinya diperkirakan 500 kg yang dikirim setiap 3 hari sekali, berarti 6 ton/hari buah ini harus siap disebar ke beberapa pabrik untuk diolah. Selain itu, hasil panen para pekebun pun disalurkan ke kafe-kafe dan restoran yang kian menjamur di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Bali . Rata-rata setiap kafe membutuhkan 4 hingga 20 kilo per harinya. Belum lagi hotel-hotel mulai dari hotel berbintang satu hingga lima, kebutuhan akan buah stroberi sangat tinggi.
c.Untuk Kesehatan dan Perawatan Tubuh
1. Kesehatan
Stroberi memiliki aktivitas antioksidan paling tinggi di antara 12 buah yang diteliti. Itu karena kandungan quercetin, ellagic acid, antosianin, dan kaempferol. Antioksidan diibarat sebagai bodyguard pelindung tubuh dari radikal bebas, termasuk di antaranya sel kanker. Ia mencegah terbentuknya senyawa karsinogensis dan menekan pertumbuhan tumor. Fungsi antioksidan stroberi turut disumbang kandungan vitamin C yang tinggi –sekitar 56,7 mg per 100 gram. Delapan buah berukuran sedang mencukupi 160 persen kebutuhan vitamin C per hari berdasar standar Amerika Serikat. Jumlah itu lebih tinggi ketimbang sebutir jeruk. Menurut The Iowa Womens Health Study asupan vitamin C mereduksi risiko kanker hingga 37 persen.
Oleh karena itu, tak berlebihan para peneliti dari USDA, Clemson University of South California menguji kemampuan stroberi sebagai antikanker, terutama kanker payudara dan leher rahim. Hasilnya, varietas Carlsbad efektif menghambat aktivitas sel kanker leher rahim.
Varietas sweet Charlie, kanker payudara. Antosianin pada varietas itu –dalam bentuk ekstrak maupun jus segar—merupakan senyawa antimutagenik. Ia mencegah sel tubuh yang sedang berkembang bermutasi menjadi sel kanker.
Perempuan alkoholik
Menurut penelitian Harvard Nurses Health Study (NHS), perempuan yang meneguk sedikitnya 15 gram alcohol per hari berisiko terkena kanker payudara. Namun, jika kebiasaan itu dibarengi dengan asupan folat 600 ….gram per hari risiko terkena kanker berkurang. Delapan buah stroberi berukuran sedang setara 80 ……. Gram memenuhi 20 persen kebutuhan asam folik tubuh per hari berdasar standar Amerika Serikat.
Studi itu juga meneliti keampuhan asam folik menekan risiko kanker usus pada wanita usia 55 hingga 69 tahun. Memang efek folat baru diketahui 15 tahun kemudian dan terbukti risiko kanker usus lebih rendah 75 persen pada mereka yang mengkonsumsi buah stroberi daripada tidak sama sekali.
2. Perawatan Tubuh
a. Stroberi sebagai obat jerawat
Bila wajah kita bermasalah dengan jerawat. Coba melakukan perawatan dengan masker stroberi. Ia banyak mengandung asam salisilat yang biasa ada di produk-produk antijerawat. Haluskan setengah gelas buah berbentuk hati itu, lalu aduk dengan sesendok makan yoghurt. Lalu bubuhkan ke seluruh wajah, diamkan selama 10 hingga 15 menit. Bilaslah dengan air dingin. Bila rutin dilakukan sekali seminggu, wajah bebas jerawat.
b. Mandi stroberi
Sehabis letih bekerja, paling enak memang berendam di bathtub. Apalagi kalau air rendaman ditambah stroberi. Kulit jadi bersih dan lembut. Karena stroberi mempunyai fungsi mengelupas kulit. Sebelum dipakai, stroberi dihaluskan campur dengan susu cair dan minyak zaitun. Baru masukkan ke dalam air rendaman dan cara itu mampu mencegah sengatan matahari.
c.Gigi putih
Menggunakan pasta berbahan pemutih kerap jadi pilihan untuk memutihkan gigi. Padahal ada cara lain yang lebihh lembuat dan gigi berseri. Rajin-rajinlah mengunyah stroberi. Selain gigi jadi cemerlang, juga ampuh untuk mengatasi bau mulut.
PENYAKIT YANG SERING MENYERANG TANAMAN STROBERI
PENYAKIT YANG SERING MENYERANG TANAMAN STROBERI
1. Penyakit yang Disebabkan oleh Cendawan
Selain karena hama yang diterbangkan oleh serangga atau kutu, jenis rongrongan lainnya adalah penyakit yang disebabkan oleh cendawan atau jamur, bakteri, micoplasma-like organism, dan virus, antara lain: Penyakit empulur merah (red core/ red stele), yakni penyakit pada tanaman stroberi yang disebabkan oleh cendawan atau jamur Phytophthora fragariae. Penyakit ini akan menyerang tanaman yang memiliki drainase kurang baik atau tanah bereaksi asam. Tanda-tanda tanaman yang terserang, adalah gejala layu dan mati karena kekurangan air dan makanan akibat rusaknya jaringan xylem dan floem. Meski daun berubah menjadi layu tetapi masih berwarna hijau. Cara terbaik untuk pengendalian langsung masih belum ditemukan. Agar tidak terjangkit penyakit jenis ini., sebaiknya perhatikan pemakaian varietas yang lebih tahan. Misalnya kultivar Aberdeen, Frith, dan Sheldon. Pencegahan adalah fumigasi tanah sebelum penanaman.
Penyakit layu verticillium, disebabkan oleh Cendawan Verticillium alboatrum. Tanaman stroberi yang terserang pada awalnya akan menunjukan gejala tepi dan intervein berwarna cokelat pada daun bagian luar, sedangkan daun bagian dalam masih tampak hijau, tetapi pertumbuhanmya terhambat. Sebelum tanaman layu keseluruhan, sebaiknya dikendalikan dengan fumigasi tanah, yakni dengan memberikan campuran kloropikrin dan metilbromida (1:1) sebanyak 330-500 kg/ha. Kemudian tanah ditutup dengan plastik poietilen.
Penyakit pembusukan pada akar pythium, diakibatkan oleh cendawan Pythium spp., yang menyerang akar, sehingga akar-akar muda berubah menjadi busuk dan menghitam. Tanda-tanda lainnya adalah tanaman menjadi kerdil dan tidak responsif terhadap pemupukan nitrogen. Sebaiknya gunakan Fumigasi tanah untuk mengendalikan serangan penyakit ini.
Penyakit powdery mildew, ditimbulkan oleh Cendawan Sphaerotheca mascularis f.sp. fragariae. Tanda-tandanya adalah daun yang terserang seperti tertutup lapisan tepung putih, kemudian daun rontok. Tepung putih ini adalah misellium cendawan. Serangan cendawan ini mudah meluas karena spora diterbangkan angin. Kelembapan tinggi ditengarai memicu perkembangbiakan cendawan. Oleh karena itu, hindari penyiraman berlebihan, semprotkan pstisida sebulan setelah tanam 2-4 pekan kemudian secara periodic. Jika terlanjur terserang, aplikasikan pestisida berbahan aktif mycobu tamil atau micronize.
Penyakit noda merah (red spot), disebabkan oleh cendawan Diplocarpon earliana atau Gloeosporium fragariae. Serangan noda merah berakibat daun memiliki bercak-bercak berdiameter antara 1 hingga 5 mm seperti terbakar berwarna merah keunguan dengan bentuk tidak teratur. Bercak merah keunguan ini juga berkembang pada tangkai bunga, tangkai buah, bunga, kaliks, dan buah. Bila pada bagian-bagian itu terserang maka daun, bunga, atau buah akhirnya mati karena tangkainya tidak berfungsi lagi dalam penyaluran air dan makanan. Cara pengendalian yang paling efektif, adalah dengan fungisida Benlate.
Sedangkan penyakit Grey mould, disebabkan oleh cendawan Botrytis cinera. Umumnya jenis sasaran penyakit ini adalah bagian atas tanaman, sehingga bagian yang terserang akan bernoda cokelat kemudian tertutup oleh lapisan yang agak tebal berwarna abu-abu kecokelatan. Buah tanaman adalah yang paling banyak terserang penyakit ini. Pengendalian penyakit ini adalah menyemprot tanaman dengan fungisida Benlate atau Curamil. Cendawan ini merupakan biangkeladi penyakit kapang kelabu yang banyak menginfeksi stroberi yang ditanam di Indonesia. Ketika kelembapan tinggi dan suhu rendah, cendawan lebih mudah berkembangbiak. Cendawan itu mampu bertahan dalam tanah, sehingga intensi grey mould atau kapang kelabu sulit untuk dihindari. Di samping itu, cipratan air ketika penyiraman atau hujan, adalah penyebab meluasnya infeksi. Pemakaian mulsa plastik cukup membantu pencegahan.
Dan terakhir adalah penyakit busuk antraknosa (blak spot), yang disebabkan oleh Colletotrichum fragariae. Cendawan ini dikelompokkan dalam dua bagian, yakni penyebab antraknosa pada buah dan penyebab antraknosa pada stolon, petiole, dan crown. Tanda-tanda buah yang terserang, yakni adanya luka basah (berair) seperti terkena benturan dengan bentuk lingkaran berwarna cokelat tua. Sedangkan pada stolon dan tangkai daun, patogen ini yang menyebabkan timbulnya luka disekeliling lingkaran stolon. Sebagai tindakan pencegah penyakit ini, maka tanaman harus disemprot dengan fungisida secara teratur setiap minggu sekali. Terutama pada musim hujan, frekuensi penyemprotan akan lebih baik tiga hari sekali. Namun yang utama adalah menjaga kebersihan lahan dan gunakan irigasi tetes. Sebaiknya diberikan per alur untuk mencegah serangan meluas.
2. Penyakit tanaman stroberi yang disebabkan oleh bakteri
Tanaman stroberi yang terserang penyakit karena bakteri tidak banyak jenisnya. Dan penyakit-penyakit yang diakibatkan bakteri yang terpenting, antara lain: Penyakit layu bakteri, disebabkan oleh Pseudomonas solanacearum. Penyebab penyakit ini bayak ditemukan pada semaian pembibitan. Dan yang paling mudah terserang adalah tanaman yang masih kecil, sedangkan tanaman yang sudah besar atau dewasa akan lebih tahan. Karena adanya persenyawaan B-D-glukogalin yang diproduksi daun stroberi untuk menghambat pertumbuhan bakteri. Tanda-tanda adanya penyerangan penyakit ini akan tampak pada tanaman muda yang ditunjukkan dengan jaringan rusak dan akan tampak rongga-rongga pada xylem yang mengakibatkan terhentinya jalan air dari tanah ke atas tanaman, sehingga tanaman menjadi layu. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan membersihkan sekitar semaian dan melakukan fumigasi tanah untuk mengurangi penyebaran lebih luas penyakit ini. Penyakit bercak pada daun, disebabkan oleh Xanthomonas fragariae. Tanda-tandanya akan tampak pada permukaan bagian bawah daun dengan luka berair. Lama- kelamaan luka ini makin melebar dan membentuk persegi di antara tulang daun. Untuk mencegah atau pengenalian dapat menggunakan antibiotik oksitetrasiklin atau agrimisin.
Sedangkan penyakit hawar daun atau pembusukan pada daun, disebabkan oleh cendawan Phomopsis obcurans. Penyakit ini ditandai dengan adanya noda berbentuk bulat hingga 6 bulatan dengan bagian tengah berwarna abu-abu dan pada tepinya terdapat lingkaran merah keunguan. Kemudian pada noda yang sudah lama akan berkembang hingga noda membentuk luka menyerupai huruf V.
3. Penyakit tanaman stroberi yang disebabkan oleh mycoplasma like organism (MLO)
Tanaman stroberi karena penyakit yang disebabkan oleh mycoplsma like organism (MLO), antara lain: Penyakit aster yellows, menunjukan gejala berupa daun berukuran kecil, tangkai daun lebih pendek, klorotik, serta helai daun melengkung ke atas (cupping). Pada daun tua terdapat warna kemerahan, kemudian tanaman akan mati mendadak yang ditandai dengan semua daun rebah merata pada tanah. Pada tanaman yang sudah berbuah, dengan adanya serangan ini maka buah yang terbentuk akan memiliki daun-daun berukuran kecil. Sedangkan serangan pada bunga akan menyebabkan berubahnya bunga, seperti daun (phylloid). Penyerangan penyakit ini dapat dikendalikan dengan melakukan pengendalian wereng daun. Sedangkan penyakit green petal, memiliki gejala yang mirip dengan penyakit aster yellows, bahkan sukar untuk dibedakan dari keduanya. Namun petal bunga yang terserang lama-lama akan berubah menjadi merah dan buahnya berubah menjadi seperti kancing karena receptacle membengkak. Dan yang terakhir adalah penyakit witches broom atau sapu setan, dengan tanda-tanda pertumbuhan stolon sangat pendek, sehingga anakan sangat dekat dengan induknya dan memberi penampilan seperti sapu.
4. Penyakit tanaman stroberi yang disebabkan oleh virus
Virus yang menyerang tanaman stroberi tidak menampakkan gejala yang nyata karena virus-virus ini cukup kompleks. Tanaman yang terserang virus dapat ditandai dengan hilangnya vigor dan pertumbuhan tanman tidak normal karena terhambat. Virus yang ada pada tanaman dari masa tanam awal hingga masa tanam berikutnya akan semakin banyak, sehingga tanaman akan tampak keriput, totol-totol atau mottle, warna daun kekuningan di sepanjang tulang daun, begatu pula dengan ujung daun akan menjadi kuning atau mengalami klorosis.
1. Penyakit yang Disebabkan oleh Cendawan
Selain karena hama yang diterbangkan oleh serangga atau kutu, jenis rongrongan lainnya adalah penyakit yang disebabkan oleh cendawan atau jamur, bakteri, micoplasma-like organism, dan virus, antara lain: Penyakit empulur merah (red core/ red stele), yakni penyakit pada tanaman stroberi yang disebabkan oleh cendawan atau jamur Phytophthora fragariae. Penyakit ini akan menyerang tanaman yang memiliki drainase kurang baik atau tanah bereaksi asam. Tanda-tanda tanaman yang terserang, adalah gejala layu dan mati karena kekurangan air dan makanan akibat rusaknya jaringan xylem dan floem. Meski daun berubah menjadi layu tetapi masih berwarna hijau. Cara terbaik untuk pengendalian langsung masih belum ditemukan. Agar tidak terjangkit penyakit jenis ini., sebaiknya perhatikan pemakaian varietas yang lebih tahan. Misalnya kultivar Aberdeen, Frith, dan Sheldon. Pencegahan adalah fumigasi tanah sebelum penanaman.
Penyakit layu verticillium, disebabkan oleh Cendawan Verticillium alboatrum. Tanaman stroberi yang terserang pada awalnya akan menunjukan gejala tepi dan intervein berwarna cokelat pada daun bagian luar, sedangkan daun bagian dalam masih tampak hijau, tetapi pertumbuhanmya terhambat. Sebelum tanaman layu keseluruhan, sebaiknya dikendalikan dengan fumigasi tanah, yakni dengan memberikan campuran kloropikrin dan metilbromida (1:1) sebanyak 330-500 kg/ha. Kemudian tanah ditutup dengan plastik poietilen.
Penyakit pembusukan pada akar pythium, diakibatkan oleh cendawan Pythium spp., yang menyerang akar, sehingga akar-akar muda berubah menjadi busuk dan menghitam. Tanda-tanda lainnya adalah tanaman menjadi kerdil dan tidak responsif terhadap pemupukan nitrogen. Sebaiknya gunakan Fumigasi tanah untuk mengendalikan serangan penyakit ini.
Penyakit powdery mildew, ditimbulkan oleh Cendawan Sphaerotheca mascularis f.sp. fragariae. Tanda-tandanya adalah daun yang terserang seperti tertutup lapisan tepung putih, kemudian daun rontok. Tepung putih ini adalah misellium cendawan. Serangan cendawan ini mudah meluas karena spora diterbangkan angin. Kelembapan tinggi ditengarai memicu perkembangbiakan cendawan. Oleh karena itu, hindari penyiraman berlebihan, semprotkan pstisida sebulan setelah tanam 2-4 pekan kemudian secara periodic. Jika terlanjur terserang, aplikasikan pestisida berbahan aktif mycobu tamil atau micronize.
Penyakit noda merah (red spot), disebabkan oleh cendawan Diplocarpon earliana atau Gloeosporium fragariae. Serangan noda merah berakibat daun memiliki bercak-bercak berdiameter antara 1 hingga 5 mm seperti terbakar berwarna merah keunguan dengan bentuk tidak teratur. Bercak merah keunguan ini juga berkembang pada tangkai bunga, tangkai buah, bunga, kaliks, dan buah. Bila pada bagian-bagian itu terserang maka daun, bunga, atau buah akhirnya mati karena tangkainya tidak berfungsi lagi dalam penyaluran air dan makanan. Cara pengendalian yang paling efektif, adalah dengan fungisida Benlate.
Sedangkan penyakit Grey mould, disebabkan oleh cendawan Botrytis cinera. Umumnya jenis sasaran penyakit ini adalah bagian atas tanaman, sehingga bagian yang terserang akan bernoda cokelat kemudian tertutup oleh lapisan yang agak tebal berwarna abu-abu kecokelatan. Buah tanaman adalah yang paling banyak terserang penyakit ini. Pengendalian penyakit ini adalah menyemprot tanaman dengan fungisida Benlate atau Curamil. Cendawan ini merupakan biangkeladi penyakit kapang kelabu yang banyak menginfeksi stroberi yang ditanam di Indonesia. Ketika kelembapan tinggi dan suhu rendah, cendawan lebih mudah berkembangbiak. Cendawan itu mampu bertahan dalam tanah, sehingga intensi grey mould atau kapang kelabu sulit untuk dihindari. Di samping itu, cipratan air ketika penyiraman atau hujan, adalah penyebab meluasnya infeksi. Pemakaian mulsa plastik cukup membantu pencegahan.
Dan terakhir adalah penyakit busuk antraknosa (blak spot), yang disebabkan oleh Colletotrichum fragariae. Cendawan ini dikelompokkan dalam dua bagian, yakni penyebab antraknosa pada buah dan penyebab antraknosa pada stolon, petiole, dan crown. Tanda-tanda buah yang terserang, yakni adanya luka basah (berair) seperti terkena benturan dengan bentuk lingkaran berwarna cokelat tua. Sedangkan pada stolon dan tangkai daun, patogen ini yang menyebabkan timbulnya luka disekeliling lingkaran stolon. Sebagai tindakan pencegah penyakit ini, maka tanaman harus disemprot dengan fungisida secara teratur setiap minggu sekali. Terutama pada musim hujan, frekuensi penyemprotan akan lebih baik tiga hari sekali. Namun yang utama adalah menjaga kebersihan lahan dan gunakan irigasi tetes. Sebaiknya diberikan per alur untuk mencegah serangan meluas.
2. Penyakit tanaman stroberi yang disebabkan oleh bakteri
Tanaman stroberi yang terserang penyakit karena bakteri tidak banyak jenisnya. Dan penyakit-penyakit yang diakibatkan bakteri yang terpenting, antara lain: Penyakit layu bakteri, disebabkan oleh Pseudomonas solanacearum. Penyebab penyakit ini bayak ditemukan pada semaian pembibitan. Dan yang paling mudah terserang adalah tanaman yang masih kecil, sedangkan tanaman yang sudah besar atau dewasa akan lebih tahan. Karena adanya persenyawaan B-D-glukogalin yang diproduksi daun stroberi untuk menghambat pertumbuhan bakteri. Tanda-tanda adanya penyerangan penyakit ini akan tampak pada tanaman muda yang ditunjukkan dengan jaringan rusak dan akan tampak rongga-rongga pada xylem yang mengakibatkan terhentinya jalan air dari tanah ke atas tanaman, sehingga tanaman menjadi layu. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan membersihkan sekitar semaian dan melakukan fumigasi tanah untuk mengurangi penyebaran lebih luas penyakit ini. Penyakit bercak pada daun, disebabkan oleh Xanthomonas fragariae. Tanda-tandanya akan tampak pada permukaan bagian bawah daun dengan luka berair. Lama- kelamaan luka ini makin melebar dan membentuk persegi di antara tulang daun. Untuk mencegah atau pengenalian dapat menggunakan antibiotik oksitetrasiklin atau agrimisin.
Sedangkan penyakit hawar daun atau pembusukan pada daun, disebabkan oleh cendawan Phomopsis obcurans. Penyakit ini ditandai dengan adanya noda berbentuk bulat hingga 6 bulatan dengan bagian tengah berwarna abu-abu dan pada tepinya terdapat lingkaran merah keunguan. Kemudian pada noda yang sudah lama akan berkembang hingga noda membentuk luka menyerupai huruf V.
3. Penyakit tanaman stroberi yang disebabkan oleh mycoplasma like organism (MLO)
Tanaman stroberi karena penyakit yang disebabkan oleh mycoplsma like organism (MLO), antara lain: Penyakit aster yellows, menunjukan gejala berupa daun berukuran kecil, tangkai daun lebih pendek, klorotik, serta helai daun melengkung ke atas (cupping). Pada daun tua terdapat warna kemerahan, kemudian tanaman akan mati mendadak yang ditandai dengan semua daun rebah merata pada tanah. Pada tanaman yang sudah berbuah, dengan adanya serangan ini maka buah yang terbentuk akan memiliki daun-daun berukuran kecil. Sedangkan serangan pada bunga akan menyebabkan berubahnya bunga, seperti daun (phylloid). Penyerangan penyakit ini dapat dikendalikan dengan melakukan pengendalian wereng daun. Sedangkan penyakit green petal, memiliki gejala yang mirip dengan penyakit aster yellows, bahkan sukar untuk dibedakan dari keduanya. Namun petal bunga yang terserang lama-lama akan berubah menjadi merah dan buahnya berubah menjadi seperti kancing karena receptacle membengkak. Dan yang terakhir adalah penyakit witches broom atau sapu setan, dengan tanda-tanda pertumbuhan stolon sangat pendek, sehingga anakan sangat dekat dengan induknya dan memberi penampilan seperti sapu.
4. Penyakit tanaman stroberi yang disebabkan oleh virus
Virus yang menyerang tanaman stroberi tidak menampakkan gejala yang nyata karena virus-virus ini cukup kompleks. Tanaman yang terserang virus dapat ditandai dengan hilangnya vigor dan pertumbuhan tanman tidak normal karena terhambat. Virus yang ada pada tanaman dari masa tanam awal hingga masa tanam berikutnya akan semakin banyak, sehingga tanaman akan tampak keriput, totol-totol atau mottle, warna daun kekuningan di sepanjang tulang daun, begatu pula dengan ujung daun akan menjadi kuning atau mengalami klorosis.
Sunday, 21 August 2016
Cara Bertanam Stroberi
Cara Bertanam Buah Stroberi
Tanaman buah stroberi semakin dikenal dan dimanfaatkan buahnya tidak saja untuk dikonsumsi tetapi lebih dari itu, misalnya dapat dimanfaatkan untuk kesehatan. Buah stroberi segar dapat dikonsumsi langsung atau dapat diolah melalui diproses-proses di pabrik besar maupun kecil. Pembudidayaan tanaman buah ini di Indonesia khususnya semakin luas meski varietasnya sangat minim karena disesuaikan dengan kondisi alam Indonesia.
A. Jenis Tanah
Tanaman buah stroberi akan tumbuh dengan baik pada tanah dengan drainase yang baik, yakni tanah lempung berpasir dengan pH 5,4-7,0. Tanaman ini dapat ditanam langsung pada tanah atau memakai bedeng-bedeng dan memakai pot. Sebelum penanaman dimulai, kondisi tanah bebas dari gulma terutama gulma tahunan yang mempunyai batang dalam tanah dan umbi. Tanah harus digarpu atau diaduk untuk menghindari terjadinya pemadatan tanah pada lapisan di bawah tanah. Karena tanah yang telah menjadi padat akan menyebabkan tanaman tidak berkembang dengan leluasa dan tentu saja perkembangan tumbuh tanaman pun akan terhambat dan menjadi kerdil karena resapan dan sebaran air akan menjadi tergenang pada akar. Akibat lain dari tanah becek, adalah dapat mempertinggi terjadinya penyakit red core/red stele pada akar yang disebabkan oleh Phytophthora fragariae.
Setelah lahan untuk penanaman tanaman buah ini disiapkan, sebaiknya mulai dengan pengerjaan persiapan tanah beberapa minggu sebelum penanaman. Bila perlu lakukan pengapuran untuk menaikkan pH. Untuk meningkatkan pH dapat digunakan kapur klasit atau dolomit. Sesudah pengapuran, dibiarkan lahan selama 2-3 minggu sebelum penanaman. Pada kontur tanah yang memiliki pH rendah, umumnya pertumbuhan tanaman akan terhambat karena kurangnya unsur fosfor, kalsium, dan molibdenum. Namun, unsur yang berlebihan akan ditemukan pada mangan, besi, dan alumunium.
Kelebihan aluminium pada tanah akan menghambat pertumbuhan akar dan translokasi unsur-unsur lain ke dalam tanaman, sehingga perkembangan tanaman semakin lama semakin memburuk. Sedangkan tujuan pemberian kapur untuk meningkatkan efisiensi penyerapan hara dan untuk meniadakan pengaruh racun pada alumunium dan menyediakan unsur kalsium. Pemberian kapur dapat dilakukan dalam skala tertentu. Misalnya untuk menaikkan pH tanah menjadi 6,0 maka kapur yang dibutuhkan (ton/ha) = 2,1 x kandungan Al yang dapat diperuntukan (dalam satuan me/100 g). Kandungan tanah yang memiliki tingkat aluminium tinggi atau rendah dapat dianalisis ke labolatorium.
Pada lahan kering diberikan kalsit sekitar 4 ton per hektar, sedangkan doloit jumlah pemakaiannya mencapai 6-7 ton per hektar. Kemudian tanah diberi pupuk kandang yang disesuaikan dengan jenis pupuknya. Apabila jenis pupuk kandang yang diberikan adalah jenis basah maka pemakaiannya mencapai jumlah 40 ton/ha, sedangkan jenis pupuk kandang kering cukup 20 ton/ha. Setelah pemakaian pupuk kandang basah sebaiknya tanah dibiarkan dalam beberapa minggu.
Jika penanaman dalam pot, tanah yang memiliki pH masam dapat dilakukan pengapuran sekitar 100 gram/pot. Dengan mencampurkannya dengan tanah secara merata sebelum tanah dimasukkan dalam pot.
Lokasi dan iklim pun jadi kendala perkembangan tanaman buah ini. Idealnya stroberi ditanam diketinggian di atas 1.000 m dpl. Tetapi tanaman buah ini jika ditanam pada daerah dataran tinggi, belum menjamin lokasinya akan cocok untuk ditanami karena jenis tanaman ini menyukai udara dingin tapi kering seperti di daerah subtropics. Sementara hampir seluruh dataran tinggi di Indonesia cenderung basah. Begitu musim hujan tiba maka produksi pun akan menurun tajam dan buah pun akan berukuran kecil dan rasanya tidak manis. Oleh karena itu, stroberi butuh cahaya cukup agar berbuah lebat dan manis.
Untuk pengadukan tanah agar tidak terjadi pemadatan, lahan seluas itu diolah dengan memakai traktor. Hal itu dilakukan sebelum sterilisasi berlangsung. Pengadukan atau pembalikan tanah dengan traktor dapat mencapai kedalaman hingga 30 cm. Setelah pengadukan usai maka kapur dan pupuk kandang ditebarkan di atasnya. Untuk mengetahui tepat tidaknya pemberian methan sodium, biasanya MNA melakukan kalibrasi. Dengan meneteskan air kesekeliling lahan yang melintang di bawah traktor dengan drum berisi air berkeliling lahan. Hal itu menandakan jumlah air yang habis menunjukkan dosis methan sodium yang diperlukan untuk lahan tersebut. Kemudian methan disemprotkan. Untuk luas 1 ha dibutuhkan sekitar 300 hingga 400 liter. Bahan itu dicairkan dalam 1.600 hingga 1.700 liter air sehingga diperoleh larutan 2.000 liter yang disemprotkan ke seluruh permukaan lahan seperti saat kalibrasi. Karena methan sodium diberikan dalam bentuk cair maka kelembapan tanah harus dipertahankan pada kisaran 60-70 persen. Maksudnya agar larutan berubah menjadi gas. Kemudian, pada tahap berikutnya meningkatkan kelembapan hingga mencapai 80 persen. Peningkatan pelembapan betujuan agar gas yang terbentuk dari cairan meresap ke dalam tanah. Apabila kelembapan kurang dari itu, gas yang terbentuk menguap ke udara. Oleh sebab itu, perusahaan yang termasuk besar ini menjaga kelembapan tanahnya dengan mengalirkan air melalui sprinkle yang diatur dengan jarak tertentu.
Penanaman buah stroberi umumnya dapat dipraktekkan pada penanaman langsung atau ditanam di lapang/kebun dan memakai media wadah atau pot yang dikembangkan dalam rumah plastik/greenhouse.
1. Jenis Tanah untuk Penanaman Langsung
Tanaman stroberi dapat langsung ditanam pada tanah lapang. Untuk menghasilkan buah dengan ukuran besar, dengan rasa manis dan segar, serta warna merah menyala haruslah memperhatikan hal-hal berikut.
a. Tanah liat berpasir tetapi tidak memadat.
b. Tanah berstuktur subur, gembur, dan banyak mengandung bahan organic serta berdrainase baik.
c. Tanah bebas dari gulma atau akar tanaman berumbi
d. pH atau reaksi tanah sebaiknya antara 5,4 hingga 7,0 dan bebas dari wabah penyakit soil borne atau tular tanah.
e. Air tanah haruslah dangkal dengan kedalaman 50 hingga 100 cm dari permukaan tanah.
2. Jenis Tanah untuk Penanaman Memakai Pot
Tanaman stroberi tidak saja dapat tumbuh di tanah lapang yang luas, tetapi juga dapat tumbuh di tanah sempit atau terbatas dengan media pot. Jenis pot atau wadah yang akan digunakan sangat beragam, misalnya pot atau wadah terbuat dari plastik, tanah liat, keramik, atau kaleng. Tersedia dalam berbagai ukuran, mulai dari ukuran terkecil hingga paling besar. Ukuran pot yang akan digunakan untuk menanam buah stroberi, sebaiknya pilih pot dengan ukuran 7 cm hingga 20 cm diameternya. Adapun tanah dalam pot yang akan ditanami stroberi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut.
a. Tanah tidak memadat dan harus mudah meresap air atau mudah poreus.
b. Tanah bebas dari gulma
c. Tanah memiliki pH 6,5 hingga 7,0 dan bebas penyakit dari wabah penyakit soil borne atau tular tanah.
d. Keadaan tanah subur dan gembur serta dapat menyimpan air berlebihan.
B. Sistem Penanaman yang Baik
Di Indonesia tanaman stroberi dapat ditanam sepanjang tahun. Sedangkan mulai penanaman yang tepat adalah pada awal musim hujan. Kita dapat menanamnya di tanah lapang atau memakai pot. Dan penanaman dapat dilakukan dengan teknik penanaman bibit pada bedengan atau guludan tanpa mulsa, prinsipnya sama dengan system bedengan atau guludan bermulsa plastik. Perbedaan hanya terletak pada teknik pemupukan. Pemupukan pada bedengan atau guludan tanpa mulsa platik dilakukan secara bertahap. Jenis dan dosis pupuk yang diberikan per satuan luas lahan terdiri atas: Urea 200 kg ditambah TSP 250 kg ditambah KCl 150 kg/ha. Diberikan pada saat tanam pupuk dengan takaran sebanyak sepertiga dosis. Pada waktu tanaman telah berumur 1 ½ hingga 2 bulan setelah tanam, pupuk diberikan sebanyak duapertiga dosis. Cara pemberian pupuk dasarnya dengan disebar dan dicampur merata bersama lapisan tanah atas atau dapat pula dimasukkan ke lubang pupuk pada bibit tanaman stroberi.
1. Jenis penanaman berdasarkan medianya
a. Penanaman di lapang terbuka atau tertutup
Tata cara penanaman bibit stroberi pada tanah lapang, adalah sebagai berikut.
1) polybag atau kantong plastik bening/ hitam berisi tanah yang sudah ditanami bibit buah stroberi disiram dengan air bersih hingga tanah agak basah.
2) buatlah lubang dipermukaan tanah bedengan atau guludan yang akan ditanami stroberi. Membuat lubang kira-kira 15 cm dengan memakai kored. Sebaiknya jarak antarlubang tidak terlalu dekat, kira-kira 40x40 cm.
3) sobek atau gunting polybag dan keluarkan bibit tanaman stroberi dari polybag. Lepaskan polybag dan biarkan utuh bibit dan tanahnya. Kemudian masukkan dalam lubang tanah.
4) satu per satu bibit tanaman stroberi ditanam pada lubang tersebut. Lakukan dengan tertib dan jangan tergesa-gesa.
5) tanah sekitar pangkal batang bibit tanaman disiram dengan air bersih, sehingga tanah lembap atau agak basah.
b. Penanaman di pot
Tahapan-tahapan penanaman buah stroberi dengan memakai media pot sebagai wadah, adalah sebagai berikut.
1) siapkan bahan-bahan penunjang yang akan digunakan, meliputi tanah, wadah/pot, pecahan genting atau bata merah, gembor, tutup plastik.
2) dasar pot diberi lapisan pecahan genting atau batu bata, kemudian isi tanah hingga pot penuh.
3) tanah dalam pot disiram dengan air bersih hingga tanah agak basah atau lembap.
4) lubangi permukaan tanah di tengah-tengah pada pot, kemudian masukkan tanaman dari polybag dengan menggunting plastik. Usahakan akar tanaman tidak rusak dan tanam ditengah pot dengan keadaan berdiri. Tutup sekeliling tanaman yang sudah dimasukkan ke tanah dengan tanah dan tekan-tekan perlahan agar permukaan tanah padat.
5) beri air atau siram tanah pada pot hingga tanah menjadi lembap, kemudian pot-pot itu disimpan di tempat teduh, setelah 7 hingga 15 tanaman akan tampak segar karena tanaman sudah dapat beradaptasi dengan lingkungan.
6) penanaman tanaman pada pot sangat bergantung pada lingkungan tumbuh, misalnya tempatkan pot di atas rak-rak atau pot digantung, atau dapat pula dengan diletakkan di tanah. Pot-pot tanaman itu harus mendapatkan sinar matahari pagi dengan jarak antar pot tidak terlalu dekat.
2. Pemberian Jarak Tanam
Apabila menanam stroberi di tanah lapang, sebaiknya tanah diatur tidak terlalu berdekatan atau buatlah jarak. Jarak antara bedengan atau guludan tanah dengan jalan tidak berdekatan. Tujuan pembuatan jarak ini untuk menghindari injakan daerah penanaman stroberi, ketika dalam perawatan. Adapun pemberian atau pembuatan jarak itu dapat dilakukan dengan berbagai system, yakni:
a. Sistem guludan atau bedengan (hill system) dengan satu baris, dua baris, atau empat baris tanaman di dalam satu guludan.
b. Sistem permadani.
c. Sistem permadani berjarak.
d. Sistem kolom vertikal.
Jika tanah lapang yang tersedia cukup luas, maka pilihan system penanaman lebih leluasa. Lain halnya dengan lahan yang tersedia kecil atau sempit, sebaiknya system yang digunakan adalah bedengan atau guludan tunggal atau system baris tunggal. Pembuatan bedengan tunggal ini bertujuan agar aerasi akar lebih baik sehingga perkembangan akar lebih sempurna serta kemungkinan tanaman terserang penyakit menjadi lebih rendah.
Bibit tanaman yang ditanam pada tanah lapang dalam setiap hektarnya, diperkirakan berjumlah 85.000 hingga 110.000 tanaman. Untuk mendapatkan buah yang besar, sebaiknya setiap 7 hingga 10 hari sekali stolon yang terbentuk dibuang, sehingga rumpun stroberi hanya berupa mahkotanya saja. Langkah ini bertujuan agar energi yang diperoleh tanaman dapat terpusat pada pertumbuhan dan perkembangan mahkota utama saja, sehingga dapat dihasilkan buah yang besar dan menarik. Di samping itu, populasi tanaman pada setiap luasan tertentu lebih tinggi karena jarak tanam antarbaris maupun dalam baris dapat diperkecil.
Tujuan dari pemberian jarak dalam penanam stroberi tidak saja menghindari tanah sekitar tanaman aman, tetapi juga memudahkan dalam penyiraman.
Penanaman dengan sistem permadani adalah membiarkan stolon tumbuh bebas, sehingga akar menjalar dengan jarak lebih luas. Semakin tanaman tumbuh membesar jarak antar tanaman pun akan semakin sempit. Pada sistem penanaman permadani terbatas (spaced matted row), penanaman dibatasi dengan jumlah 5 hingga 6 stolon. Penanaman terbatas ini bertujuan agar tanaman induk berkembang membentuk stolon. Jarak tanam antarbaris yakni 60 cm, sedangkan jarak antar tanaman pada setiap baris, yakni 15-20 cm.
Begitu pula penanaman pada pot harus diberi jarak tumbuh antara pot yang satu dengan pot lainnya.
2. Pemberian Air
Pemberian air pada tanaman stroberi dimulai sebelum penanaman dengan tujuan agar tanah yang siap ditanam tetap dalam keadaan lembap. Begitu penanaman selesai maka pemberian air pun dilakukan kembali. Pemberian air harus dilakukan teratur dan terus menerus, terutama pada musim panas/ kemarau. Karena bila keadaan tanah kering akan mempengaruhi hasil produksi. Tanaman tidak akan tumbuh dengan baik maka buah yang dihasilkan pun tidak seperti yang kita harapkan.
Tanaman yang tumbuh dengan kontur tanah lembap ini, tidak berarti pemberian air dapat dilakukan sembarangan atau seenaknya. Pemberian air jangan terlalu banyak bergantung pada kebutuhan kontur tanah yang dapat dilihat pada struktur tanah, kelembapan udara dan temperatur udara setempat. Lain halnya jika tanah atau lahan yang ditanami berkontur baik atau berdrainase baik maka komposisi air yang diperlukan adalah 20 hingga 25 liter untuk setiap meter persegi.
Pada tanaman stroberi dalam pot pun, kelembapan tanah harus tetap diperhatikan. Jangan sampai tanah mongering. Oleh karena itu, harus dilakukan penyiraman terus menerus, terutama pada musim kemarau. Sebaiknya penyiraman dilakukan 2 kali sehari, yakni penyiraman di padi hari dan sore hari.
a.Sistem Pemberian Air
Pemberian air atau penyiraman dapat dilakukan dengan bermacam cara. Hal itu bergantung pada luas lahan yang ditanami.
1) Memakai springkler
Umumnya untuk penanaman berjumlah besar atau lahan yang ditanami luas, penyiraman dilakukan melalui instalasi sprikler atau melalui alur-alur antarguludan. Bisanya sprinkler dipasang dengan posisi segi tiga, sehingga air yang menyebar akan rata. Pipa induk dapat ditanam atau dibiarkan dipermukaan tanah.
2) Memakai irigasi tetes
Cara pemberian air pada tanaman stroberi yang ditanam di daerah yang sulit air atau sedikit air, sangat cocok menggunakan system irigasi tetes. Pemakaian system ini dapat menekan komposisi air karena disiramkan pada setiap tanaman langsung. Air yang diperlukan berjumlah 5 hingga 6 liter per m2 dan system penyiramannya dengan meneteskan langsung di daerah akar.
3) Memakai system penggenangan alur
Pemberian air dengan system ini berakibat air pada permukaan tanah akan tergenang sehingga permukaan tanah akan becek. Karena pada dasar tanah guludan ditanam pipa air dan melalui gerakan kapiler menuju ke atas permukaan tanah, sehingga lama ke lamaan air menggenang dipermukaan tanah. Meski komposisi ditentukan oleh lama penggenangan, jenis tanah, dan tinggi guludan. Dan penggenangan dapat dihentikan apabila permukaan tanah, yakni sekitar 3-5 cm di bawah permukaan guludan telah menjadi basah.
b. Masa Pemberian Air
Kuantitas pemberian air pada tanamn stroberi pun tak luput dari pengawasan yang harus diperhatikan. Dengan memperhatikan penyiraman secara terus menerus maka pertumbuhan tanaman pun akan tumbuh dengan subur dan buah yang dihasilkan akan berukuran besar, berwarna merah, dan berasa manis.
Pemberian air dimulai ketika tanah sebagai media tanaman ini belum ditanami, kemudian secara berkala penyiraman dilakukan pada 2 atau 3 hari sekali setiap pagi atau sore dengan jumlah cukup secara terus menerus. Penyiraman harus lebih diperhatikan terutama jika musim panas. Air diberikan dengan jumlah sedikit, pada masa awal pembungaan dan awal pembentukan buah. Apabila dalam masa-masa ini pemberian air terlalu banyak maka pertumbuhan vegetatif akan lebih banyak dan akhirnya buahpun menjadi gagal atau buah banyak yang tidak jadi. Pemberian air akan semakin berkurang seiring dengan semakin tumbuhnya tanaman atau menjelang stadium dewasa. Yang terpenting adalah tanah jangan sampai kering, tetapi juga tanah tidak becek. Sebaiknya, penyiraman dilakukan dengan cara siram atau dileb. Apabila tanah sudah basah maka seluruh guludan harus diperiksa. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya genangan air di permukaan tanah yang akan mempengaruhi pembuahan.
3. Pemberian Mulsa
Penggunaan mulsa berupa jerami atau plastik polietilen, bertujuan untuk menjaga atau mempertahankan kelembapan tanah. Manfaat lain dari pemakaian mulsa, antara lain: menjaga temperatur tanah, menjaga agar tetap bersih, mencegah tumbuhnya gulma, dan dapat digunakan sebagai tempat untuk menyimpan lontainer pada waktu panen.
a. Pemakaian Jerami
Pada saat penanaman sudah selesai dilakukan, maka jerami pun mulai diselipkan pada sekeliling tanaman dan di bawah tangkai tanaman stroberi. Jerami yang diperlukan dalam setiap satu hektar lahan, adalah 8 hingga 10 ton. Pemakaian mulsa dengan jerami, biasanya dilakukan untuk penanaman stroberi dalam jumlah kurang dari satu hektar. Sedangkan pemakaian jerami untuk lahan dengan jumlah berhektar-hektar, tentu saja kesulitan. Jadi pemulsaan untuk lahan yang memiliki luas lebih dari satu hektar biasanya memakai plastik.
b. Pemakaian Plastik
Plastik yang digunakan untuk menutupi lahan atau dalam proses pemulsaan, dapat memakai plastik polietilen berwarna hitam, biru, abu-abu atau bening. Pada penggunaan plastik berwarna hitam, gulma dapat dihindarkan secara efektif. Sedangkan pada pemakaian plastik bening, sebelum lahan ditutup sebaiknya tanaman diberi herbisida terlebih dahulu. Dan pemasangan plastik dapat dilakukan sebelum atau sesudah penanaman.
Adapun tahapan-tahapan pemasangan plastik yang dilakukan sebelum penanaman dimulai, adalah sebagai berikut.
1) Lahan yang sudah siap ditutup plastik dengan membentangkannya. Penutupan dengan plastik ini harus tertutup rapat dengan setiap sisi plastik diberi pemberat berupa batu atau dikuatkan dengan memakai pasak bambu agar plastik tidak terbuka.
2) Lubangi plastik untuk menanam stroberi dengan jarak tanam, yakni 30 cm, 40 cm, atau 50 cm. Pembuatan lubang pada plastik dapat dilakukan dengan api (blow torch), pisau atau gunting.
3) Setelah pembuatan lubang pada plastik selesai, masukkan atau tanam bibit pada lubang yang sudah disiapkan.
4) Tanah di sekitar plastik diberi herbisida untuk mencegah gulma.
4. Pembersihan Lahan
Penyiangan atau pembersihan gulma atau rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar lahan penanaman stroberi harus dilakukan. Jika gulma-gulma ini dibiarkan tumbuh di sekitar tanaman maka akan mengganggu pertumbuhan tanaman karena gulma-gulma ini akan bersaing dengan tanaman stroberi untuk mendapatkan air, unsur hara , dan sinar matahari. Di samping itu, penyiangan dilakukan agar lahan tampak bersih dan menghindari terjadinya sarang hama atau penyakit. Sedangkan penyiangan pada guludan atau bedengan bermulsa plastik dilakukan dengan cara mencabut gulma yang tumbuh di sekitar rumpun tanaman stroberi dan membersihkan rumput dalam parit.
Pembersihan lahan pada tanaman pot dapat dilakukan dengan mencabuti rumput liar atau gulma yang tumbuh disekitar tanaman dan secara teeratur dicabuti, sekaligus penggeburan tanah.
5. Pemberian Pupuk
Pemberian pupuk pertamakali diberikan sebelum penanaman dilakukan. Pupuk yang ditaburkan pada lahan yang akan ditanami stroberi, yakni campuran pupuk (majemuk) dengan perbandingan 12:10:18 (N:P:K) sebanyak 300-400 kg/ha. Selain unsur makro NK juga perlu diberikan mangan dan besi dalam bentuk sulfat sebanyak 1 hingga 2 kg/ha. Atau dalam dosis 2/3 x (200 kg Urea ditambah 250 kg TSP ditambah 150 kg KCl) = 133,33 kg Urea ditambah 166,67 kg TSP ditambah 99,00 kg (100 kg) KCl.
Pemberian unsur ini bertujuan untuk mencegah defisiensi unsur mikro. Sedangkan pemberian pupuk pada system penyiraman melalui sprinkler dan pengairan alur, diperlukan 50 persen untuk disebarkan, sebagian lagi ditanam sebelum penanaman dilakukan dan sebulan kemudian sisanya ditaburkan. Dan sebaran pupuk untuk sistem penyiraman air irigasi tetes, pupuk yang diberikan sebelum penanaman sebanyak 50% dan sisanya diberikan pada bulan berikutnya.
Pupuk yang bersumber N dan K yang digunakan adalah amonium nitrat, amonium sulfat, kalium nitrat, kalium sulfat, atau kalium klorida. Dengan memberikan unsur N dan K sebanyak 2,5-3,0 kg/minggu. Dengan perhitungan: amonium nitrat 33,5% N, kalium klorida 60% K2O.
Pemberian pupuk pada tanaman dalam pot, dimulai seminggu setelah tanam dan pemupukan berikutnya dilakukan pada saat tanaman berumur 1 atau 2 bulan setelah tanam. Setelah pemupukan selesai, kemudian siram dengan menggunakan air bersih agar pupuk dapat diserap larut dan diisap tanaman.
Tabel: Pemupukan dalam pot
Takaran dan jenis unsur Masa pemberian unsur
Urea 2 sdt TSP ½ sdt KCl ½ sdt/pot seminggu setelah tanam
Urea ½ sdt TSP 1 sdt KCl 1 sdt/pot 1-2 bulan setelah tanam
Sumber: diadaptasi dari Ir. H. Rahmat Rukmana
Jika pemupukan yang diberikan tidak seimbang atau tidak melakukan pemupukan maka tanaman akan kekurangan suatu hara esensial yang akan ditandai dengan munculnya tanda-tanda pada daun atau seluruh tanaman.
6. Pemangkasan pada tanaman
Pemangkasan dilakukan jika tanaman tumbuh sangat rimbun dengan banyak daun dan sulur, sehingga akan menghambat pembungaan atau pembuahan. Sebaiknya daun-daun yang terlalu rimbun dan bersulur dipangkas secara teratur, terutama daun-daun tua atau daun rusak yang disebabkan oleh hama dan penyakit. Biasanya pemangkasan dilakukan pada bunga pertama agar tanaman menjadi lebih dewasa untuk melangkah ke fase generatif dan memiliki batang yang kokoh. Sedangkan pemangkasan pada buah yang masih pentil dengan tumbuh berlebihan, bertujuan agar dapat memperoleh buah berukuran besar dan berkualitas prima. Sebaiknya setiap tangkai disisakan satu butir buah yang terbaik.
Begitu pula pemangkasan pada tanaman dalam pot, tidak jauh berbeda dengan di lapangan. Daun yang terlalu rindang dibuang karena akan menghambat pertumbuhan buah, sehingga tanaman akan menghasilkan buah kecil. Pada stadium pentil sebaiknya lakukan pemangkasan dan lakukan secara rutin.
C. Pemanenan
Bila pembibitan buah stroberi menggunakan bibit asal stolon yang vigor dengan peranakan banyak, maka buah dapat dipanen setelah 8 minggu penanaman. Dan masa panen akan berlangsung selama 3 hingga 4 minggu, setiap minggu dapat dilakukan 2 kali pemanenan. Sebaiknya pemanenan dilakukan pada pagi hari atau sore hari, ketika intensitas sinar matahari berkurang. Buah stroberi dengan tingkat kematangan 75 hingga 90 persen bergantung daerah tujuan pemasaran –ditunai. Caranya, memotong tangkai dengan kuku ibu jari dan telunjuk atau menggunakan gunting pada bagian tangkai buah serta kelopaknya. Buah stroberi yang akan dipasarkan langsung untuk konsumsi segar dipetik dengan kaliksnya, sedangkan untuk pengolahan dipetik tanpa kaliksnya karena buah langsung diolah.
Pada tanaman yang subur dapat dipetik 4 hingga 6 buah dengan berat rata-rata 600 atau 700 gram/buah. Besar atau tidaknya hasil panen dapat ditentukan dari varietas stroberi yang ditanam serta tingkat pemeliharaan tanaman.
Setelah pembungaan dua minggu kemudian buah akan muncul yang semakin hari warna buah akan semakin nyata. Karakteristik buah yang akan dipanen dapat ditentukan dengan ciri-ciri, yakni buah berwarna merah keseluruhan, hijau kemerahan atau kuning kemerahan dan kulit buah bertekstur empuk serta menebarkan aroma harum yang khas.
Tanaman buah stroberi semakin dikenal dan dimanfaatkan buahnya tidak saja untuk dikonsumsi tetapi lebih dari itu, misalnya dapat dimanfaatkan untuk kesehatan. Buah stroberi segar dapat dikonsumsi langsung atau dapat diolah melalui diproses-proses di pabrik besar maupun kecil. Pembudidayaan tanaman buah ini di Indonesia khususnya semakin luas meski varietasnya sangat minim karena disesuaikan dengan kondisi alam Indonesia.
A. Jenis Tanah
Tanaman buah stroberi akan tumbuh dengan baik pada tanah dengan drainase yang baik, yakni tanah lempung berpasir dengan pH 5,4-7,0. Tanaman ini dapat ditanam langsung pada tanah atau memakai bedeng-bedeng dan memakai pot. Sebelum penanaman dimulai, kondisi tanah bebas dari gulma terutama gulma tahunan yang mempunyai batang dalam tanah dan umbi. Tanah harus digarpu atau diaduk untuk menghindari terjadinya pemadatan tanah pada lapisan di bawah tanah. Karena tanah yang telah menjadi padat akan menyebabkan tanaman tidak berkembang dengan leluasa dan tentu saja perkembangan tumbuh tanaman pun akan terhambat dan menjadi kerdil karena resapan dan sebaran air akan menjadi tergenang pada akar. Akibat lain dari tanah becek, adalah dapat mempertinggi terjadinya penyakit red core/red stele pada akar yang disebabkan oleh Phytophthora fragariae.
Setelah lahan untuk penanaman tanaman buah ini disiapkan, sebaiknya mulai dengan pengerjaan persiapan tanah beberapa minggu sebelum penanaman. Bila perlu lakukan pengapuran untuk menaikkan pH. Untuk meningkatkan pH dapat digunakan kapur klasit atau dolomit. Sesudah pengapuran, dibiarkan lahan selama 2-3 minggu sebelum penanaman. Pada kontur tanah yang memiliki pH rendah, umumnya pertumbuhan tanaman akan terhambat karena kurangnya unsur fosfor, kalsium, dan molibdenum. Namun, unsur yang berlebihan akan ditemukan pada mangan, besi, dan alumunium.
Kelebihan aluminium pada tanah akan menghambat pertumbuhan akar dan translokasi unsur-unsur lain ke dalam tanaman, sehingga perkembangan tanaman semakin lama semakin memburuk. Sedangkan tujuan pemberian kapur untuk meningkatkan efisiensi penyerapan hara dan untuk meniadakan pengaruh racun pada alumunium dan menyediakan unsur kalsium. Pemberian kapur dapat dilakukan dalam skala tertentu. Misalnya untuk menaikkan pH tanah menjadi 6,0 maka kapur yang dibutuhkan (ton/ha) = 2,1 x kandungan Al yang dapat diperuntukan (dalam satuan me/100 g). Kandungan tanah yang memiliki tingkat aluminium tinggi atau rendah dapat dianalisis ke labolatorium.
Pada lahan kering diberikan kalsit sekitar 4 ton per hektar, sedangkan doloit jumlah pemakaiannya mencapai 6-7 ton per hektar. Kemudian tanah diberi pupuk kandang yang disesuaikan dengan jenis pupuknya. Apabila jenis pupuk kandang yang diberikan adalah jenis basah maka pemakaiannya mencapai jumlah 40 ton/ha, sedangkan jenis pupuk kandang kering cukup 20 ton/ha. Setelah pemakaian pupuk kandang basah sebaiknya tanah dibiarkan dalam beberapa minggu.
Jika penanaman dalam pot, tanah yang memiliki pH masam dapat dilakukan pengapuran sekitar 100 gram/pot. Dengan mencampurkannya dengan tanah secara merata sebelum tanah dimasukkan dalam pot.
Lokasi dan iklim pun jadi kendala perkembangan tanaman buah ini. Idealnya stroberi ditanam diketinggian di atas 1.000 m dpl. Tetapi tanaman buah ini jika ditanam pada daerah dataran tinggi, belum menjamin lokasinya akan cocok untuk ditanami karena jenis tanaman ini menyukai udara dingin tapi kering seperti di daerah subtropics. Sementara hampir seluruh dataran tinggi di Indonesia cenderung basah. Begitu musim hujan tiba maka produksi pun akan menurun tajam dan buah pun akan berukuran kecil dan rasanya tidak manis. Oleh karena itu, stroberi butuh cahaya cukup agar berbuah lebat dan manis.
Untuk pengadukan tanah agar tidak terjadi pemadatan, lahan seluas itu diolah dengan memakai traktor. Hal itu dilakukan sebelum sterilisasi berlangsung. Pengadukan atau pembalikan tanah dengan traktor dapat mencapai kedalaman hingga 30 cm. Setelah pengadukan usai maka kapur dan pupuk kandang ditebarkan di atasnya. Untuk mengetahui tepat tidaknya pemberian methan sodium, biasanya MNA melakukan kalibrasi. Dengan meneteskan air kesekeliling lahan yang melintang di bawah traktor dengan drum berisi air berkeliling lahan. Hal itu menandakan jumlah air yang habis menunjukkan dosis methan sodium yang diperlukan untuk lahan tersebut. Kemudian methan disemprotkan. Untuk luas 1 ha dibutuhkan sekitar 300 hingga 400 liter. Bahan itu dicairkan dalam 1.600 hingga 1.700 liter air sehingga diperoleh larutan 2.000 liter yang disemprotkan ke seluruh permukaan lahan seperti saat kalibrasi. Karena methan sodium diberikan dalam bentuk cair maka kelembapan tanah harus dipertahankan pada kisaran 60-70 persen. Maksudnya agar larutan berubah menjadi gas. Kemudian, pada tahap berikutnya meningkatkan kelembapan hingga mencapai 80 persen. Peningkatan pelembapan betujuan agar gas yang terbentuk dari cairan meresap ke dalam tanah. Apabila kelembapan kurang dari itu, gas yang terbentuk menguap ke udara. Oleh sebab itu, perusahaan yang termasuk besar ini menjaga kelembapan tanahnya dengan mengalirkan air melalui sprinkle yang diatur dengan jarak tertentu.
Penanaman buah stroberi umumnya dapat dipraktekkan pada penanaman langsung atau ditanam di lapang/kebun dan memakai media wadah atau pot yang dikembangkan dalam rumah plastik/greenhouse.
1. Jenis Tanah untuk Penanaman Langsung
Tanaman stroberi dapat langsung ditanam pada tanah lapang. Untuk menghasilkan buah dengan ukuran besar, dengan rasa manis dan segar, serta warna merah menyala haruslah memperhatikan hal-hal berikut.
a. Tanah liat berpasir tetapi tidak memadat.
b. Tanah berstuktur subur, gembur, dan banyak mengandung bahan organic serta berdrainase baik.
c. Tanah bebas dari gulma atau akar tanaman berumbi
d. pH atau reaksi tanah sebaiknya antara 5,4 hingga 7,0 dan bebas dari wabah penyakit soil borne atau tular tanah.
e. Air tanah haruslah dangkal dengan kedalaman 50 hingga 100 cm dari permukaan tanah.
2. Jenis Tanah untuk Penanaman Memakai Pot
Tanaman stroberi tidak saja dapat tumbuh di tanah lapang yang luas, tetapi juga dapat tumbuh di tanah sempit atau terbatas dengan media pot. Jenis pot atau wadah yang akan digunakan sangat beragam, misalnya pot atau wadah terbuat dari plastik, tanah liat, keramik, atau kaleng. Tersedia dalam berbagai ukuran, mulai dari ukuran terkecil hingga paling besar. Ukuran pot yang akan digunakan untuk menanam buah stroberi, sebaiknya pilih pot dengan ukuran 7 cm hingga 20 cm diameternya. Adapun tanah dalam pot yang akan ditanami stroberi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut.
a. Tanah tidak memadat dan harus mudah meresap air atau mudah poreus.
b. Tanah bebas dari gulma
c. Tanah memiliki pH 6,5 hingga 7,0 dan bebas penyakit dari wabah penyakit soil borne atau tular tanah.
d. Keadaan tanah subur dan gembur serta dapat menyimpan air berlebihan.
B. Sistem Penanaman yang Baik
Di Indonesia tanaman stroberi dapat ditanam sepanjang tahun. Sedangkan mulai penanaman yang tepat adalah pada awal musim hujan. Kita dapat menanamnya di tanah lapang atau memakai pot. Dan penanaman dapat dilakukan dengan teknik penanaman bibit pada bedengan atau guludan tanpa mulsa, prinsipnya sama dengan system bedengan atau guludan bermulsa plastik. Perbedaan hanya terletak pada teknik pemupukan. Pemupukan pada bedengan atau guludan tanpa mulsa platik dilakukan secara bertahap. Jenis dan dosis pupuk yang diberikan per satuan luas lahan terdiri atas: Urea 200 kg ditambah TSP 250 kg ditambah KCl 150 kg/ha. Diberikan pada saat tanam pupuk dengan takaran sebanyak sepertiga dosis. Pada waktu tanaman telah berumur 1 ½ hingga 2 bulan setelah tanam, pupuk diberikan sebanyak duapertiga dosis. Cara pemberian pupuk dasarnya dengan disebar dan dicampur merata bersama lapisan tanah atas atau dapat pula dimasukkan ke lubang pupuk pada bibit tanaman stroberi.
1. Jenis penanaman berdasarkan medianya
a. Penanaman di lapang terbuka atau tertutup
Tata cara penanaman bibit stroberi pada tanah lapang, adalah sebagai berikut.
1) polybag atau kantong plastik bening/ hitam berisi tanah yang sudah ditanami bibit buah stroberi disiram dengan air bersih hingga tanah agak basah.
2) buatlah lubang dipermukaan tanah bedengan atau guludan yang akan ditanami stroberi. Membuat lubang kira-kira 15 cm dengan memakai kored. Sebaiknya jarak antarlubang tidak terlalu dekat, kira-kira 40x40 cm.
3) sobek atau gunting polybag dan keluarkan bibit tanaman stroberi dari polybag. Lepaskan polybag dan biarkan utuh bibit dan tanahnya. Kemudian masukkan dalam lubang tanah.
4) satu per satu bibit tanaman stroberi ditanam pada lubang tersebut. Lakukan dengan tertib dan jangan tergesa-gesa.
5) tanah sekitar pangkal batang bibit tanaman disiram dengan air bersih, sehingga tanah lembap atau agak basah.
b. Penanaman di pot
Tahapan-tahapan penanaman buah stroberi dengan memakai media pot sebagai wadah, adalah sebagai berikut.
1) siapkan bahan-bahan penunjang yang akan digunakan, meliputi tanah, wadah/pot, pecahan genting atau bata merah, gembor, tutup plastik.
2) dasar pot diberi lapisan pecahan genting atau batu bata, kemudian isi tanah hingga pot penuh.
3) tanah dalam pot disiram dengan air bersih hingga tanah agak basah atau lembap.
4) lubangi permukaan tanah di tengah-tengah pada pot, kemudian masukkan tanaman dari polybag dengan menggunting plastik. Usahakan akar tanaman tidak rusak dan tanam ditengah pot dengan keadaan berdiri. Tutup sekeliling tanaman yang sudah dimasukkan ke tanah dengan tanah dan tekan-tekan perlahan agar permukaan tanah padat.
5) beri air atau siram tanah pada pot hingga tanah menjadi lembap, kemudian pot-pot itu disimpan di tempat teduh, setelah 7 hingga 15 tanaman akan tampak segar karena tanaman sudah dapat beradaptasi dengan lingkungan.
6) penanaman tanaman pada pot sangat bergantung pada lingkungan tumbuh, misalnya tempatkan pot di atas rak-rak atau pot digantung, atau dapat pula dengan diletakkan di tanah. Pot-pot tanaman itu harus mendapatkan sinar matahari pagi dengan jarak antar pot tidak terlalu dekat.
2. Pemberian Jarak Tanam
Apabila menanam stroberi di tanah lapang, sebaiknya tanah diatur tidak terlalu berdekatan atau buatlah jarak. Jarak antara bedengan atau guludan tanah dengan jalan tidak berdekatan. Tujuan pembuatan jarak ini untuk menghindari injakan daerah penanaman stroberi, ketika dalam perawatan. Adapun pemberian atau pembuatan jarak itu dapat dilakukan dengan berbagai system, yakni:
a. Sistem guludan atau bedengan (hill system) dengan satu baris, dua baris, atau empat baris tanaman di dalam satu guludan.
b. Sistem permadani.
c. Sistem permadani berjarak.
d. Sistem kolom vertikal.
Jika tanah lapang yang tersedia cukup luas, maka pilihan system penanaman lebih leluasa. Lain halnya dengan lahan yang tersedia kecil atau sempit, sebaiknya system yang digunakan adalah bedengan atau guludan tunggal atau system baris tunggal. Pembuatan bedengan tunggal ini bertujuan agar aerasi akar lebih baik sehingga perkembangan akar lebih sempurna serta kemungkinan tanaman terserang penyakit menjadi lebih rendah.
Bibit tanaman yang ditanam pada tanah lapang dalam setiap hektarnya, diperkirakan berjumlah 85.000 hingga 110.000 tanaman. Untuk mendapatkan buah yang besar, sebaiknya setiap 7 hingga 10 hari sekali stolon yang terbentuk dibuang, sehingga rumpun stroberi hanya berupa mahkotanya saja. Langkah ini bertujuan agar energi yang diperoleh tanaman dapat terpusat pada pertumbuhan dan perkembangan mahkota utama saja, sehingga dapat dihasilkan buah yang besar dan menarik. Di samping itu, populasi tanaman pada setiap luasan tertentu lebih tinggi karena jarak tanam antarbaris maupun dalam baris dapat diperkecil.
Tujuan dari pemberian jarak dalam penanam stroberi tidak saja menghindari tanah sekitar tanaman aman, tetapi juga memudahkan dalam penyiraman.
Penanaman dengan sistem permadani adalah membiarkan stolon tumbuh bebas, sehingga akar menjalar dengan jarak lebih luas. Semakin tanaman tumbuh membesar jarak antar tanaman pun akan semakin sempit. Pada sistem penanaman permadani terbatas (spaced matted row), penanaman dibatasi dengan jumlah 5 hingga 6 stolon. Penanaman terbatas ini bertujuan agar tanaman induk berkembang membentuk stolon. Jarak tanam antarbaris yakni 60 cm, sedangkan jarak antar tanaman pada setiap baris, yakni 15-20 cm.
Begitu pula penanaman pada pot harus diberi jarak tumbuh antara pot yang satu dengan pot lainnya.
2. Pemberian Air
Pemberian air pada tanaman stroberi dimulai sebelum penanaman dengan tujuan agar tanah yang siap ditanam tetap dalam keadaan lembap. Begitu penanaman selesai maka pemberian air pun dilakukan kembali. Pemberian air harus dilakukan teratur dan terus menerus, terutama pada musim panas/ kemarau. Karena bila keadaan tanah kering akan mempengaruhi hasil produksi. Tanaman tidak akan tumbuh dengan baik maka buah yang dihasilkan pun tidak seperti yang kita harapkan.
Tanaman yang tumbuh dengan kontur tanah lembap ini, tidak berarti pemberian air dapat dilakukan sembarangan atau seenaknya. Pemberian air jangan terlalu banyak bergantung pada kebutuhan kontur tanah yang dapat dilihat pada struktur tanah, kelembapan udara dan temperatur udara setempat. Lain halnya jika tanah atau lahan yang ditanami berkontur baik atau berdrainase baik maka komposisi air yang diperlukan adalah 20 hingga 25 liter untuk setiap meter persegi.
Pada tanaman stroberi dalam pot pun, kelembapan tanah harus tetap diperhatikan. Jangan sampai tanah mongering. Oleh karena itu, harus dilakukan penyiraman terus menerus, terutama pada musim kemarau. Sebaiknya penyiraman dilakukan 2 kali sehari, yakni penyiraman di padi hari dan sore hari.
a.Sistem Pemberian Air
Pemberian air atau penyiraman dapat dilakukan dengan bermacam cara. Hal itu bergantung pada luas lahan yang ditanami.
1) Memakai springkler
Umumnya untuk penanaman berjumlah besar atau lahan yang ditanami luas, penyiraman dilakukan melalui instalasi sprikler atau melalui alur-alur antarguludan. Bisanya sprinkler dipasang dengan posisi segi tiga, sehingga air yang menyebar akan rata. Pipa induk dapat ditanam atau dibiarkan dipermukaan tanah.
2) Memakai irigasi tetes
Cara pemberian air pada tanaman stroberi yang ditanam di daerah yang sulit air atau sedikit air, sangat cocok menggunakan system irigasi tetes. Pemakaian system ini dapat menekan komposisi air karena disiramkan pada setiap tanaman langsung. Air yang diperlukan berjumlah 5 hingga 6 liter per m2 dan system penyiramannya dengan meneteskan langsung di daerah akar.
3) Memakai system penggenangan alur
Pemberian air dengan system ini berakibat air pada permukaan tanah akan tergenang sehingga permukaan tanah akan becek. Karena pada dasar tanah guludan ditanam pipa air dan melalui gerakan kapiler menuju ke atas permukaan tanah, sehingga lama ke lamaan air menggenang dipermukaan tanah. Meski komposisi ditentukan oleh lama penggenangan, jenis tanah, dan tinggi guludan. Dan penggenangan dapat dihentikan apabila permukaan tanah, yakni sekitar 3-5 cm di bawah permukaan guludan telah menjadi basah.
b. Masa Pemberian Air
Kuantitas pemberian air pada tanamn stroberi pun tak luput dari pengawasan yang harus diperhatikan. Dengan memperhatikan penyiraman secara terus menerus maka pertumbuhan tanaman pun akan tumbuh dengan subur dan buah yang dihasilkan akan berukuran besar, berwarna merah, dan berasa manis.
Pemberian air dimulai ketika tanah sebagai media tanaman ini belum ditanami, kemudian secara berkala penyiraman dilakukan pada 2 atau 3 hari sekali setiap pagi atau sore dengan jumlah cukup secara terus menerus. Penyiraman harus lebih diperhatikan terutama jika musim panas. Air diberikan dengan jumlah sedikit, pada masa awal pembungaan dan awal pembentukan buah. Apabila dalam masa-masa ini pemberian air terlalu banyak maka pertumbuhan vegetatif akan lebih banyak dan akhirnya buahpun menjadi gagal atau buah banyak yang tidak jadi. Pemberian air akan semakin berkurang seiring dengan semakin tumbuhnya tanaman atau menjelang stadium dewasa. Yang terpenting adalah tanah jangan sampai kering, tetapi juga tanah tidak becek. Sebaiknya, penyiraman dilakukan dengan cara siram atau dileb. Apabila tanah sudah basah maka seluruh guludan harus diperiksa. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya genangan air di permukaan tanah yang akan mempengaruhi pembuahan.
3. Pemberian Mulsa
Penggunaan mulsa berupa jerami atau plastik polietilen, bertujuan untuk menjaga atau mempertahankan kelembapan tanah. Manfaat lain dari pemakaian mulsa, antara lain: menjaga temperatur tanah, menjaga agar tetap bersih, mencegah tumbuhnya gulma, dan dapat digunakan sebagai tempat untuk menyimpan lontainer pada waktu panen.
a. Pemakaian Jerami
Pada saat penanaman sudah selesai dilakukan, maka jerami pun mulai diselipkan pada sekeliling tanaman dan di bawah tangkai tanaman stroberi. Jerami yang diperlukan dalam setiap satu hektar lahan, adalah 8 hingga 10 ton. Pemakaian mulsa dengan jerami, biasanya dilakukan untuk penanaman stroberi dalam jumlah kurang dari satu hektar. Sedangkan pemakaian jerami untuk lahan dengan jumlah berhektar-hektar, tentu saja kesulitan. Jadi pemulsaan untuk lahan yang memiliki luas lebih dari satu hektar biasanya memakai plastik.
b. Pemakaian Plastik
Plastik yang digunakan untuk menutupi lahan atau dalam proses pemulsaan, dapat memakai plastik polietilen berwarna hitam, biru, abu-abu atau bening. Pada penggunaan plastik berwarna hitam, gulma dapat dihindarkan secara efektif. Sedangkan pada pemakaian plastik bening, sebelum lahan ditutup sebaiknya tanaman diberi herbisida terlebih dahulu. Dan pemasangan plastik dapat dilakukan sebelum atau sesudah penanaman.
Adapun tahapan-tahapan pemasangan plastik yang dilakukan sebelum penanaman dimulai, adalah sebagai berikut.
1) Lahan yang sudah siap ditutup plastik dengan membentangkannya. Penutupan dengan plastik ini harus tertutup rapat dengan setiap sisi plastik diberi pemberat berupa batu atau dikuatkan dengan memakai pasak bambu agar plastik tidak terbuka.
2) Lubangi plastik untuk menanam stroberi dengan jarak tanam, yakni 30 cm, 40 cm, atau 50 cm. Pembuatan lubang pada plastik dapat dilakukan dengan api (blow torch), pisau atau gunting.
3) Setelah pembuatan lubang pada plastik selesai, masukkan atau tanam bibit pada lubang yang sudah disiapkan.
4) Tanah di sekitar plastik diberi herbisida untuk mencegah gulma.
4. Pembersihan Lahan
Penyiangan atau pembersihan gulma atau rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar lahan penanaman stroberi harus dilakukan. Jika gulma-gulma ini dibiarkan tumbuh di sekitar tanaman maka akan mengganggu pertumbuhan tanaman karena gulma-gulma ini akan bersaing dengan tanaman stroberi untuk mendapatkan air, unsur hara , dan sinar matahari. Di samping itu, penyiangan dilakukan agar lahan tampak bersih dan menghindari terjadinya sarang hama atau penyakit. Sedangkan penyiangan pada guludan atau bedengan bermulsa plastik dilakukan dengan cara mencabut gulma yang tumbuh di sekitar rumpun tanaman stroberi dan membersihkan rumput dalam parit.
Pembersihan lahan pada tanaman pot dapat dilakukan dengan mencabuti rumput liar atau gulma yang tumbuh disekitar tanaman dan secara teeratur dicabuti, sekaligus penggeburan tanah.
5. Pemberian Pupuk
Pemberian pupuk pertamakali diberikan sebelum penanaman dilakukan. Pupuk yang ditaburkan pada lahan yang akan ditanami stroberi, yakni campuran pupuk (majemuk) dengan perbandingan 12:10:18 (N:P:K) sebanyak 300-400 kg/ha. Selain unsur makro NK juga perlu diberikan mangan dan besi dalam bentuk sulfat sebanyak 1 hingga 2 kg/ha. Atau dalam dosis 2/3 x (200 kg Urea ditambah 250 kg TSP ditambah 150 kg KCl) = 133,33 kg Urea ditambah 166,67 kg TSP ditambah 99,00 kg (100 kg) KCl.
Pemberian unsur ini bertujuan untuk mencegah defisiensi unsur mikro. Sedangkan pemberian pupuk pada system penyiraman melalui sprinkler dan pengairan alur, diperlukan 50 persen untuk disebarkan, sebagian lagi ditanam sebelum penanaman dilakukan dan sebulan kemudian sisanya ditaburkan. Dan sebaran pupuk untuk sistem penyiraman air irigasi tetes, pupuk yang diberikan sebelum penanaman sebanyak 50% dan sisanya diberikan pada bulan berikutnya.
Pupuk yang bersumber N dan K yang digunakan adalah amonium nitrat, amonium sulfat, kalium nitrat, kalium sulfat, atau kalium klorida. Dengan memberikan unsur N dan K sebanyak 2,5-3,0 kg/minggu. Dengan perhitungan: amonium nitrat 33,5% N, kalium klorida 60% K2O.
Pemberian pupuk pada tanaman dalam pot, dimulai seminggu setelah tanam dan pemupukan berikutnya dilakukan pada saat tanaman berumur 1 atau 2 bulan setelah tanam. Setelah pemupukan selesai, kemudian siram dengan menggunakan air bersih agar pupuk dapat diserap larut dan diisap tanaman.
Tabel: Pemupukan dalam pot
Takaran dan jenis unsur Masa pemberian unsur
Urea 2 sdt TSP ½ sdt KCl ½ sdt/pot seminggu setelah tanam
Urea ½ sdt TSP 1 sdt KCl 1 sdt/pot 1-2 bulan setelah tanam
Sumber: diadaptasi dari Ir. H. Rahmat Rukmana
Jika pemupukan yang diberikan tidak seimbang atau tidak melakukan pemupukan maka tanaman akan kekurangan suatu hara esensial yang akan ditandai dengan munculnya tanda-tanda pada daun atau seluruh tanaman.
6. Pemangkasan pada tanaman
Pemangkasan dilakukan jika tanaman tumbuh sangat rimbun dengan banyak daun dan sulur, sehingga akan menghambat pembungaan atau pembuahan. Sebaiknya daun-daun yang terlalu rimbun dan bersulur dipangkas secara teratur, terutama daun-daun tua atau daun rusak yang disebabkan oleh hama dan penyakit. Biasanya pemangkasan dilakukan pada bunga pertama agar tanaman menjadi lebih dewasa untuk melangkah ke fase generatif dan memiliki batang yang kokoh. Sedangkan pemangkasan pada buah yang masih pentil dengan tumbuh berlebihan, bertujuan agar dapat memperoleh buah berukuran besar dan berkualitas prima. Sebaiknya setiap tangkai disisakan satu butir buah yang terbaik.
Begitu pula pemangkasan pada tanaman dalam pot, tidak jauh berbeda dengan di lapangan. Daun yang terlalu rindang dibuang karena akan menghambat pertumbuhan buah, sehingga tanaman akan menghasilkan buah kecil. Pada stadium pentil sebaiknya lakukan pemangkasan dan lakukan secara rutin.
C. Pemanenan
Bila pembibitan buah stroberi menggunakan bibit asal stolon yang vigor dengan peranakan banyak, maka buah dapat dipanen setelah 8 minggu penanaman. Dan masa panen akan berlangsung selama 3 hingga 4 minggu, setiap minggu dapat dilakukan 2 kali pemanenan. Sebaiknya pemanenan dilakukan pada pagi hari atau sore hari, ketika intensitas sinar matahari berkurang. Buah stroberi dengan tingkat kematangan 75 hingga 90 persen bergantung daerah tujuan pemasaran –ditunai. Caranya, memotong tangkai dengan kuku ibu jari dan telunjuk atau menggunakan gunting pada bagian tangkai buah serta kelopaknya. Buah stroberi yang akan dipasarkan langsung untuk konsumsi segar dipetik dengan kaliksnya, sedangkan untuk pengolahan dipetik tanpa kaliksnya karena buah langsung diolah.
Pada tanaman yang subur dapat dipetik 4 hingga 6 buah dengan berat rata-rata 600 atau 700 gram/buah. Besar atau tidaknya hasil panen dapat ditentukan dari varietas stroberi yang ditanam serta tingkat pemeliharaan tanaman.
Setelah pembungaan dua minggu kemudian buah akan muncul yang semakin hari warna buah akan semakin nyata. Karakteristik buah yang akan dipanen dapat ditentukan dengan ciri-ciri, yakni buah berwarna merah keseluruhan, hijau kemerahan atau kuning kemerahan dan kulit buah bertekstur empuk serta menebarkan aroma harum yang khas.
Subscribe to:
Comments (Atom)